RAVA & SISKA

RAVA & SISKA
R&S#35



Saat akan tiba dinegara tujuan, petugas mengetuk pintu, membangunkan Rava dan Siska.


Tok, tok, tok.


"Tuan muda, sebentar lagi akan tiba." Ucap seseorang dari luar. Rava yang mendengar langsung membuka matanya dan menjawabnya.


"Ya." Jawab Rava.


Ia langsung membangunkan Siska.


"Siska, bangun, sebentar lagi tiba." Ucap Rava membangunkan Siska. Siska yang merasa terganggu langsung membuka matanya dan mendapati Rava dihadapnnya dengan wajah yang sangatlah dekat.


"Bangun, hampir sampai." Ucap Rava, dan cup, ia mengecup bibir Siska sekilas lalu berdiri.


"Ish mencuri kesempatan didalam kesempitan." Kesal Siska.


"Mau lagi?" Goda Rava.


"Nggak." Jawab Siska cepat, ia langsung merapikan jilbab dan pakaiannya yang sedikit lecek.


Setelah Rava dan Siska sampai dibandara tujuan, mereka sudah ditunggu oleh Sopir yang ditugaskan untuk menjemput mereka. Namun saat Siska baru saja turun dari pesawat ia merasakan mual dan pusing, ia terus memegangi perutnya yang serasa diputar putar.


"Kau tak apa?" Tanya Rava melihat Siska mulai pucat kembali.


"Ha? aku tak apa, hanya pusing dan mual, mungkin karena mabuk perjalanan dan aku tidak pernah naik pesawat sebelumnya." Jawab Siska.


"Baiklah, nanti dirumah sakit periksakan pada Dokter." Ucap Rava merangkul Siska masuk kedalam mobil.


Mobil yang membawa Rava dan Siska menuju rumah sakit melaju dengan kecepatan sedang.


"Aku nanti harus bagaimana?" Tanya Siska pada Rava.


"Bagaimana? kenapa?" Tanya Rava.


"Iya, pasti nanti dirumah sakit semua keluargamu disana." Ucap Siska.


"Iya, benar juga, tapi sudahlah, mungkin ini saat yang tepat." Batin Rava.


"Kau tidak perlu melakukan apapun, cukup diam saja, aku yang akan berbicara pada mereka." Ucap Rava.


"Mau tetap ditutupi juga pasti akan terbongkar." Lanjut Rava.


"Emm, aku mengerti."


Sampai dirumah sakit, Rava langsung masuk dan bertanya kepada resepsionis rumah sakit, dimana kamar Audrey.


"Kamar atas nama Audrey Fera Faraqueen." Ucap Rava.


"Nona Audrey berada dikamar VVIP 01, lurus saja nanti mentok." Ucap Resepsionis.


"Makasih."


Rava langsung berjalan bersama Siska menuju kamar yang dimaksud resepsionis.


Sampai didepan pintunya, Rava langsung membukanya dan masuk, sedangkan Siska masih tertinggal diambang pintu, ia langsung masuk dengan sendirinya.


"Balok." Ucap Rava langsung berlari mendekati Audrey dan melihat kondisinya.


"Lu, lu nggak papa? kenapa lu? siapa yang berani nabrak elu? ngomong sama gw." Ucap Rava beruntun, ia tak sadar bahwa semua anggota keluarganya sedang memandang Siska yang berdiri didepan pintu dengan menunduk.


"Bang." Ucap Audrey.


"Iya, lu nggak papa?"


"Iya gw nggak papa, yang sama lu siapa?" Tanya Audrey menatap Siska. Rava langsung berbalik dan menatap Siska yang masih berdiri didepan pintu. Ia langsung mendekat kearah Siska dan menggandengnya masuk.


"Ma, Pa, Dek, dia Siska istriku." Ucap Rava.


"HAH?!" Kaget semuanya mendengar penuturan Rava.


"Bapak, Ibu, tolong tenang, ini rumah sakit." Ucap Suster yang melintas.


"Anda diam!" Ucap Allice, Suster tersebut langsung pergi begitu saja.


"Kalo bercanda jangan gitu lu." Ucap Arra tak percaya. (Arra sepupu Rava)


"Iye lu, ntar kaga dapet istri baru tahu rasa." Ucap Dion. (Dion sepupu Rava)


"Kalo bercanda bilang bilang dong, biar gw ntar ikutan." Imbuh Arka menimpali. (Arka sepupu Rava)


"Ada muka gw bercanda?" Tanya Rava serius.


Arka, Dion dan Arra langsung menggelengkan kepalanya melihat wajah serius Rava.


"Ma, Pa, maafin Rava, Rava nggak ngasih tahu kalian dulu, karna ini juga diluar kendali Rava." Ucap Rava menunduk, ia tak berani menatap mata kedua orang tuanya.


"Om, Tante, saya bisa jelaskan semuanya, Rava sebenarnya terpaksa menikahi saya, karna kesalahan yang saya lakukan, Rava malam itu menolong saya dari para preman dan mengantarkan saya kembali ke pesantren, namun kami malah dinikahkan secara paksa." Ucap Siska mencoba menjelaskan.


Austin maju kehadapan Rava dengan tangan yang sudah dilayangkan hendak mendarat ke pipi Rava. Rava, Siska, dan Audrey langsung menutup matanya.


Tidak, Austin bukan menampar Rava, malahan ia memeluk Rava dengan senang hati.


Rava sungguh terkejut dengan apa yang dilakukan Austin, ia mulanya berpikir bahwa Austin akan memarahinya habis habisan.


"Wah wah, udah gede ya anak Papa, udah punya istri." Ucap Austin melepaskan pelukannya.


Rava langsung menatap Austin melongo, tak mengerti dengan pemikiran Austin.


"Pa, Papa nggak marah? Papa nggak bercanda, kan?" Tanya Rava.


"Heh bodoh, mana mungkin aku marah, kau memilih manantu yang tepat untukku, bukan cabai dipinggir jalan." Ucap Austin.


Rava langsung berbafas lega mendengar ucapan sang Ayah.


Kini Allice mendekati Siska yang masih terdiam.


"Kemarilah, Sayang." Ucap Allice lembut.


Siska langsung melihat kearah Rava, dengan Rava yang langsung mengangguki.


"Bagaimana perjalananmu?" Tanya Allice.


"Baik, Tante." Jawab Siska.


"Heits, kok Tante, Mama." Ucap Allice.


"Iya, Ma." Ucap Siska tersenyum.


"Sudah berapa lama kalian menikah?" Tanya Austin.


"Belum lama." Jawab Rava.


"Ah ya, aku sampai belum tahu nama menantuku." Ucap Austin.


"Siapa namamu, menantu?" Lanjut Austin bertanya pada Siska.


"Vransiska Alvaleria, Pa." Jawab Siska.


"Kau ini sangat bodoh sekali, punya istri tidak memberitahu ku, istri cantik begini disembunyikan." Ucap Allice tak terima.


"Maaf Ma, Rava awalnya takut buat jelasin, tapi Rava coba aja, eh pas waktu Rava udah siap, kalian malah udah tidur, nggak jadi deh." Jelas Rava.


Siska yang mendengar juga senang, ia merasa disayangi dan dicintai, seperti orang tua sendiri.


"Kenalin gw Arra, sepupu Rava." Ucap Arra.


"Gw Dion, sepupunya juga."


"Gw Arka, sama kayak mereka berdua."


"Siska." Ucap Siska tersenyum.


Allice merasa bahwa Siska sedang tidak baik, ia langsung bertanya pada Siska.


"Kenapa kau pucat, Sayang?" Tanya Allice.


"Ah tidak Ma, hanya mabuk perjalanan, istirahat sebentar nanti sembuh sendiri." Ucap Siska.


"Baiklah."


"Ok, gw dilupain." Ucap Audrey merasa cemburu.


"Kau ini bisa bisanya cemburu sama Kakak ipar sendiri." Ejek Mike. (Mike adalah kekasih Audrey, yang akan menjadi adik ipar Rava)


"Heh, kau ini harusnya mendukungku." Ucap Audrey ngambek.


"Hayoloh, ngambek anak orang." Ucap Arra mengejek Mike.


"Husst, jangan ikut ikut, runyam ntar." Ucap Dion menyenggol lengan Arra.


"Iye iye."


"Kakak ipar, sini." Panggil Audrey pada Siska, Siska langsung mendekat, Mike langsung mempersilahkan Siska duduk.


"Duduk, Kak." Suruh Mike.


"Iya, makasih." Ucap Siska.


"Gimana kamu? baik?" Tanya Siska.


"Baik dong, apalagi sekarang, gw punya kakak ipar." Ucap Audrey.


"Semoga nggak gesrek kaya dia." Lanjut Audrey menunjuk Rava.


"Haha, kamu bisa aja." Ucap Siska tertawa kecil.


"Kak, udah tahu Audrey belum?" Bisik Audrey pada Siska.


"Iya, udah kok, semuanya dikasih tahu sama Rava." Ucap Siska.


"Yaudah deh bagus kalo gitu, nggak kaget entar." Balas Audrey tersenyum.


"Oh ya, nih Kak, kenalin dia Mike." Lanjut Audrey menunjuk Mike.


"Udah tahu juga kok." Ucap Siska.


"Abang! lu gibahin gw mulu ya disana?" Tanya Audrey kesal, karna Siska sudah mengetahui semua tentang dirinya.


"Emang wlek." Ejek Rava.


"Dasar, penggibah." Kesal Audrey.


"Siapa yang udah nabrak elu?" Tanya Rava mengalihkan topik.


"Anu, gw lihat mobilnya, tapi nggak terlalu yakin juga sih." Ucap Mike.


"Siapa?" Tanya Rava hendak marah. Namun ia langsung mengingat bahwa ia sudah berjanji pada Siska tidak akan membunuh orang lagi.


"Dek, gw udah janji nggak akan bunuh orang, gimana dong, lu aja ya." Batin Rava yang hanya didengar oleh Audrey dan Allice. Allice yang mendengar langsung membalas batinan Rava.


"Tobat uy." Ejek Allice.


"Hahahahhah." Audrey langsung tertawa ngakak, membuat bingung semua orang terutama Mike dan Siska.


"Lu kenapa?" Tanya Mike.


"Ada yang tobat, hahahah." Jawab Audrey lalu tertawa ngakak.


"Aduh, aduh aduh." Rintih Audrey memgangi kepalanya yang masih diperban.


"Eh kenapa? sakit ya, gw panggilin dokter." Ucap Mike khawatir.


"Nggak, nggak perlu." Tolak Audrey cepat.


"Ha, ha, ha, makan tuh, enak kan, makannya jangan ngecengin orang mulu kerjaan lu, Balok." Ucap Rava.


Austin, Arra, Dion dan Arka langsung mengerti hal apa yang ditertawakan oleh Audrey.


"Oh jadi elu yang diejek tadi." Ucap Arka.


"Drey, dia?" Tanya Arra dengan wajah serius.


"Hmmm." Dehem Audrey meng iya kan.


"Ok, urusan itu biar gw yang urus." Ucap Arra.


"Lu berdua ikut gw." Ucap Arra pada Dion dan Arka.


"Siap." Kompak Dion dan Arka.


"Heh, jangan lu ambil semua, sisain buat gw." Ucap Audrey sedikit berteriak.


"Nggak janji!" Teriak balik Arra.


"Dia hilang, lu juga hilang." Ancam Audrey.


Arra dkk langsung berhenti.


"Ya, Queen." Kompak Arra, Dion, dan Arka takut. Mereka bertiga langsung pergi dari ruangan Audrey.


"Lu tahu Dek, siapa?" Tanya Rava.


"Kepo lu, gw kasih tahu juga lu kaga bakal tahu." Ucap Audrey.


"Siapa?" Tanya Mike.


"Dessy." Jawab Audrey.


"Hah? gila tuh orang." Ucap Mike.


***************************************


Like


Komen


Vote


Tambahkan favorite 💜


AUTHOR SAYANG KALIAN💕