
Pagi harinya, Rava dan Siska masih tertidur lelap, namun Baby Drian sudah terbangun tanpa menangis, Drian menghisap hisap ibu jari tangannya yang imut nan kecil.
Allice sang nenek yang belum melihat Rava dan Siska keluar dari kamar, langsung saja mencari mereka kedalam kamar, ia mendapati Rava dan Siska yang masih tertidur.
"Lah, masih molor." Ucap Allice. Ia langsung mendekati ranjang bayi yang berada disamping ranjang Rava dan Siska.
"Ucucuc, cucu nenek yang tampan udah bangun, bagus ya nggak nangis, ayok sama nenek, biar mama papa mu tidur dulu." Ucap Allice pelan mengangkat Baby Drian dan membawanya keluar.
"Aaa Drian, udah bangun." Ucap Audrey yang melihat Allice turun dengan membawa Baby Drian digendongannya.
"Udah dong Aunty." Jawab Allice dengan menirukan suara anak kecil.
"Kita bawa keluar saja, jemur, biar tulangnya kuat." Ucap Umi.
"Mari mari." Ucap Allice setuju.
"Bi, tolong ambilin handuk kecil sama kaca mata hitam." Suruh Allice.
"Iya, Nyah."
"Yaudah deh, kalo gitu Audrey bantu bibi masak dulu." Ucap Audrey ingin memasak sarapan untuk semuanya.
"Kita bantu ya." Ucap Aqilla, ingin membantu Audrey bersama dengan Wati.
"Yaudah ayok." Audrey langsung menyetujuinya dan berjalan kearah dapur.
Sedangkan didalam kamar, Siska yang terbangun terlebih dahulu melihat Rava yang masih tertidur. Ia langsung berjalan ke ranjang Baby Drian, betapa kagetnya dia melihat Baby Drian yang tidak ada ditempatnya.
"Rava..! Rava...!" Ucap Siska panik mengguncangkan tubuh Rava, agar ia terbangun dari tidurnya.
"Iya kenapa?" Bangun Rava.
"Drian nggak ada!" Ucap Siska yang sudah sangat pani.
"Kok bisa?!" Kaget Rava langsung berdiri dengan spontannya.
"Kita cari." Ucap Rava langsung keluar dari kamarnya, turun kelantai satu diikuti Siska dengan sedikit berlari.
"Kalian kenapa lari larian?" Tanya Austin yang sudah melihat Rava dan Siska turun dengan paniknya.
"Drian nggak ada dikamar, Pa." Jawab Rava masih panik.
"Ngapain panik coba." Jawab Austin santai.
"Pa, Papa gimana sih, cucunya hilang malah santai santai aja." Racau Rava.
"Siapa yang ilang, orang sama Mama diluar." Ucap Mike memberi tahu.
"Lah, bilang dong dari tadi, bikin panik aja." Kesal Rava.
"Betul itu." Ucap Austin yang sangat setuju.
"Yah, siapa yang tahu." Ucap Rava yang sudah tidak panik lagi.
"Aku keluar dulu." Ucap Siska hendak melihat putranya bersama dengan neneknya.
"Iya." Jawab Rava meng iya kan, ia langsung pergi kedapur untuk mengambil air minum untuk dirinya.
"Masak lu?" Ucap Rava yang baru saja datang.
"Nambang, Ngab." Respon Audrey tanpa melihat Rava.
"Nambang kok di dapur." Cibir Rava.
"Kalo lu udah tahu di dapur masak, ngapa lu tanya ogeb." Ucap Audrey lagi.
"Yakan basa basi, Neng." Jawab Rava lagi.
"Qil, Roni mana?" Tanya Rava pada Aqilla yang belum melihat Roni.
"Tahu, tadi sih dikamar, masih mau mandi katanya." Jawab Aqilla.
"Oh yaudah." Ucap Rava langsung pergi dari dapur, tapi sebelum itu.
"Dek, lu kalo main tengah malem suara nye pelanin dikit." Ucap Rava langsung pergi. Audrey yang mendengar mulanya tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Rava, namun beberapa saat kemudian ia mengerti dan langsung malu sendiri.
"Anjim banget." Malu Audrey membatin, ia tak ingin Aqilla dan Wati tahu.
"Kenapa, Drey?" Tanya Aqilla yang tidak mengerti.
"Udah nggak papa, orang nggak jelas, jangan didengerin." Ucap Audrey.
"Wati, lu tata aja mejanya, ini biar gw aja." Sambung Audrey mengalihkan pembicaraan.
"Iye." Wati langsung pergi menata meja makan.
***************************************
Like
Komen
Vote
Tambahkan favorite 💜
AUTHOR SAYANG KALIAN💕