
Saat langit sore telah menampakkan keindahannya, Rava mengajak Siska untuk pergi dari sana, karena angin laut sudah berderu kencang. Ia tak mau jika Siska sakit nantinya.
"Mari pulang." Ajak Rava lembut.
"Emmm, sebentar lagi." Pinta Siska.
"Tidak mau ke pesantren?" Tanya Rava.
"Sekarang?" Tanya Siska berbinar.
"Iya, sekarang, nggak mau yasudah."
"Eh mau." Ucap Siska langsung berdiri dengan antusiasnya yang tinggi.
"Ayo." Ucap Rava langsung meraih tangan Siska dan menggandengnya kearah mobil.
Rava langsung melajukan mobilnya menuju pesantren dimana Siska tinggal dulu. Saat mobil Rava melintasi toko buah, Siska memintanya untuk berhenti.
"Rava... berhenti disana." Ucap Siska menunjuk toko buah tersebut.
"Baik." Ucap Rava langsung menepikan mobilnya.
"Mau apa?" Tanya Rava.
"Membeli buah tangan untuk abah dan umi." Ucap Siska.
"Baiklah, ayo turun."
"Tidak perlu, biar aku saja." Ucap Siska. "Lagian pemilik tokonya kenal denganku, aku sering membeli buah disini dulu." Lanjutnya.
"Baiklah, aku tunggu disini, ini kartunya." Ucap Rava lalu memberikan kartunya untuk nanti Siska membayar.
"Terima kasih." Ucap Siska mengambilnya dan langsung turun dari mobil.
Siska menghampiri pemilik toko dan mulai memilih buah yang akan ia bawa untuk abah dan umi pesantren.
"Loh Neng, udah lama nggak kesini, kemana aja?" Tanya pemilik toko.
"Maaf ya Mang, soalnya saya sibuk kegiatan kampus." Ucap Siska.
"Yah, kirain mah sibuk pacaran." Goda pemilik toko.
"Eh, enggak atuh Mang, saya nggak punya pacar." Ucap Siska.
"Yah kalo gitu sama Mamang aja gimana?" Godanya lagi.
"Hahah, Mamang bisa aja, saya nggak punya pacar, tapi saya punya suami, Mang." Ucap Siska.
"Loh, Neng Siska udah nikah toh? kok Mamang nggak diundang sih, kan kita prend, Neng." Ucap pemilik toko.
"Maaf ya Mang, soalnya nikahnya juga mendadak, jadi nggak bikin acara apa apa, maaf ya." Ucap Siska.
"Iya nggak papa kok, Mamang mah masih syukur Eneng masih beli buah dari Mamang." Ucap pemilik toko.
"Mau buat apa kok banyak banget belinya?" Lanjutnya.
"Oh, ini buat oleh oleh Mang, mau sowan sama abah umi." Jawab Siska.
"Kalau gitu saya permisi dulu Mang, udah ditunggu." Ucap Siska.
"Iya, hati hati ya, Mamang doain semoga langgeng." Ucap pemilik toko.
"Makasih, Mang."
Siska langsung masuk kembali kedalam mobil, dengan memangku buah yang sudah ia beli, Rava dengan sigap langsung menagmbil buah tersebut dan menaruhnya dikursi penumpang.
"Asik banget tadi ngobrolnya." Ucap Rava.
"Hehe maaf, habisnya mamangnya nanya terus, jadi aku jawab aja, nggak enak juga kalau dicuekkin." Balas Siska.
"Udah lama kenal?" Tanya Rava.
"Iya, selama dipesantren selalu beli buahnya disitu." Ucap Siska.
"Nanya apa aja tadi?" Tanya Rava yang memfokuskan matanya kejalan raya.
"Oh tadi tanya, kenapa udah jarang kesana, kemana aja katanya, terus aku jawab sibuk kegiatan kampus." Jawab Siska.
"Terus apa lagi?"
"Udah punya pacar belum, terus tadi mamangnya nawarin diri buat jadi calon." Ucap Siska.
"Kamu kamu? awas aja dia." Ucap Rava cemburu.
"Hust, ya engga lah, kan ada kamu, lagian tadi mamangnya cuman bercanda, terus aku jawab nggak punya pacar, tapi punya suami, gitu." Ucap Siska menjelaskan, agar Rava tidak salah mengerti.
Setelah beberapa saat mobil mereka sudah berada didepan gerbang pesantren. Ada satu Ustadz yang selalu menjaga gerbang.
"Ustadz, tolong bukain gerbangnya." Pinta Rava membuka kaca jendelanya.
"Siapa kamu? saya tidak pernah melihatmu dipesantren." Tanya Ustadz yang belum faham dengan wajah Rava.
"Tad, ini saya Siska." Ucap Siska yang membuka suara, Rava langsung menyingkirkan tubuhnya agar Ustadz dapat melihat Siska dari jendela mobilnya.
"Siska, masuk masuk." Ucap Ustadz langsung membukakan gerbangnya.
"Makasih." Ucap Rava langsung masuk kedalam area pesantren.
Semua santriwati yang melihat mobil Rava yang masuk kedalam area pesantren langsung terkagum kagum.
"Mobil siapa?"
"Mewah banget."
"Ustadz baru kali yah."
"Ganteng nggak yah."
Ucap para santriwati.
Rava langsung keluar dari mobil, dan langsung membuat para santriwati berteriak histeris melihat ketampanan Rava.
Rava langsung memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk Siska.
Saat Siska keluar dari mobil, lagi lagi semua santriwati berteriak teriak.
"Weh itu Siska."
"Siska woy Siska."
"Itu suaminya Siska ternyata."
"Wah cocok banget."
"Bidadari ketemu pangeran."
Ucap para Santriwati mengagumi Rava dan Siska.
"Dimana tempat abah dan umi?" Tanya Rava.
"Disana." Tunjuk Siska pada satu pondok kecil, dimana itu adalah tempat tinggal abah dan umi.
"Mari." Ucap Rava menggandeng tangan Siska dengan menenteng buah buah yang sudah dibeli oleh Siska tadi. Dan lagi lagi Santriwati histeris karena melihat keuwuan Rava dan Siska.
Rava dan Siska berjalan menuju pondok kecil tersebut. Sampai disana Siska langsung mengetuk pintunya.
Tok, tok, tok.
"Abah, umi." Panggil Siska.
Tak lama pintu langsung dibukakan oleh Ustadzah.
"Siska, kau datang, Nak." Ucap Ustadzah.
"Iya Umi, Siska datang." Balas Siska langsung mencium tangan Ustadzah diikuti Rava.
"Ini Umi, Siska bawa buah tangan untuk abah dan Umi." Ucap Siska memberikan buahnya.
"Lain kali tidak usah repot repot, kamu datang saja Umi sudah senang." Ucap Ustadzah mengambil buah yang diberikan oleh Siska.
"Masuk masuk, ini suamimu? ajak dia masuk, Umi panggilkan Abah." Ucap Umi mempersilahkan Siska dan Rava masuk.
Rava dan Siska langsung duduk dikursi yang berada disana.
"Pondok ini begitu nyaman." Batin Rava melihat sekeliling pondok kayu yang ia rasa sangat nyaman untuk dihuni.
***************************************
Like
Komen
Vote
Tambahkan favorite 💜
AUTHOR SAYANG KALIAN💕