RAVA & SISKA

RAVA & SISKA
R&S#21



"Mereka sangat menyayangimu, meski tidak ditunjukkan secara langsung." Ucap Siska setelah Rava mengakhiri bicaranya dengan keluarganya.


"Apa lagi adikmu, dia seperti sangat humble dan penyayang." Lanjut Siska.


"Hei tidak perlu sesih seperti itu." Ucap Rava yang melihat wajah sang istri sedih.


"Mereka juga akan menyayangimu nanti." Lanjut Rava.


"Aku juga akan menyayangi mereka dengan sepenuh hati." Ucap Siska tersenyum.


"Nah ini baru istriku." Ucap Rava memuji Siska.


"Adikmu tadi sangat lucu." Ucap Siska memuji kelucuan Audery.


"Dari mana lucunya, balok gitu dibilang lucu, lucuan juga aku." Ucap Rava yang terlihat cemburu, karena Siska memuji Audrey.


"Apaan sih kamu, bisa bisanya cemburu sama adik sendiri." Ucap Siska.


"Tapi aku lucu nggak?" Ucap Rava menunjukkan wajah imutnya.


"Hahah, kamu bukan lucu itu, tapi imut." Ucap Siska tertawa.


"Masa sih." Ucap Rava yang tak percaya dengan mengelus dagunya.


"Iya, kaya bayi tahu nggak." Ucap Siska setelah mengehentikan tawanya.


"Wah bayi? gimana kalo kita buat saja." Ucap Rava tiba tiba yang langsung membuat Siska tersedak.


Ohok, ohok, ohok.


Siska tersedak karena kaget dengan ucapan Rava yang tiba tiba. Rava dengan sigap langsung mengambil minum dan mengelus punggung Siska.


"Kenapa sih, sampe keselek gitu?" Tanya Rava.


"Kau sadar?" Tanya Siska setelah meredakan batuknya dengan air minum dari Rava.


"Sadar lah, masa iya duduk gini nggak sadar." Ucap Rava.


Sejenak Siska terdiam mencerna ucapan Rava, ia sadar bahwa Rava menginginkan sesuatu.


"Hei tidak usah dipikirkan, aku hanya mengucapkannya saja, tidak memintanya." Ucap Rava menyingkirkan apa yang ada dipikiran Siska.


"Tapi..." Ucap Siska terpotong ucapan Rava.


"Hust, sudahlah, tidak usah dipikirkan." Ucap Rava menghentikan pikiran Siska.


"Kemana?" Tanya Siska.


"Rahasia."


"Ish, selalu begitu, main rahasia rahasiaan." Ucap Siska langsung pergi begitu saja.


"Jangan lupa tutup pintu kamarnya, nanti kalau terbuka akan ku terkam kau." Ucap Rava, Siska langsung membulatkan matanya dan langsung masuk mengunci pintu kamar.


"Huft, untung saja." Ucap Siska setelah masuk, ia menghela nafasnya karena Rava tidak memaksanya.


"Hahah, ada ada saja, padahal cuman bercanda, tapi ekspresi wajahnya sangat menyenangkan." Gumam Rava tertawa kecil, ia sangat senang menggoda Siska seperti itu, bagai ia menggoda sang adik jika dimansion.


"Iya, kenapa tadi aku tidak mengatakan sebenarnya pada mama dan papa." Gumamnya berpikir.


"Aku ini kenapa, malah seperti banci, bersembunyi dan menyembunyikan sesuatu terus." Ucap Rava lagi, ia merasa sangat lembek sekarang.


"Ah sudahlah, masih ada lain waktu, yang lebih penting sekarang aku dan Siska menjadi lebih baik, trauma yang dialami Siska juga sudah perlahan menghilang." Ucapnya lagi, ia mengambil sebuah kesimpulan yang sangat baik. Bahwa disetiap masalah pasti akan ada hal yang menyenangkan.


Rava langsung menutup laptopnya juga mematikan TV, ia langsung merebahkan tubuhnya disofa, menutup matanya dan pergi menjelajahi alam mimpinya.


Sedangkan Siska dikamar, ia melepas hijabnya dan mengganti bajunya dengan piama.


"Apa aku tidak terlalu egois?" Tanyanya pada diri sendiri.


"Aku tidak memberikan hak suamiku, juga aku tidak melaksanakan tugasku sebagai istri." Ucap Siska lagi.


"Tapi aku masih teringat kejaidan malam itu." Ucapnya.


Ia langsung menghembuskan nafasnya.


"Huft, lagian ini sudah berlalu, jadi aku harus melupakannya, tidak perlu mengingat kejadian yang menyesakkan, lagian Rava juga sangat menyayangiku." Ucapnya lagi langsung merebahkan tubuhnya dikasur dan tidur.


***************************************


Like


Komen


Vote


Tambahkan favorite 💜


AUTHOR SAYANG KALIAN💕