
Setelah Rava dan Siska masuk ke apartemen, Rava langsung duduk disofa, sedangkan Siska langsung pergi kedapur, mengambil minum untuk dirinya dan Rava.
"Minum." Ucap Siska memberikan segelas air.
"Makasih." Rava mengambil gelasnya dan mulai meminum airnya.
"Duduk sini." Suruh Rava dengan menepuk sofa kosong disebelahnya, Siska langsung duduk disamping Rava.
"Ku beritahu orang tuaku sekarang saja." Ucap Rava mengeluarkan handphone nya dari saku celananya.
"Kau yakin?" Tanya Siska.
"Yakin saja, lagian orang kampus udah pada tahu, cepat atau lambat mama papa bakal tahu, dari pada mereka tahu dari orang lain, mendingan aku kasih tahu lebih dahulu." Ucap Rava.
"Baiklah."
Rava langsung menghubungi nomor Allice, namun tidak ada jawaban, ia juga langsung menghubungi nomor Austin, namun sama saja, nomor Austin malah tidak menunjukkan tanda tanda kehidupan.
"Kenapa?" Tanya Siska.
"Nomornya pada nggak bisa dihubungi." Jawab Rava berdecak kesal.
"Sudah malam, pasti mereka sudah tidur, coba hubungi Audrey." Saran Siska.
"Iya." Rava langsung menghubungi Audrey.
"Apa?!" Jawab Audrey mengangkat panggilan dari Rava dengan suara dan nada yang kesal.
"Dek, lu kenapa? kesel gitu gw nelpon, kaga seneng lu?" Tanya Rava yang tidak senang dengan respon sang adik.
"Kaga, lagi kesel aja gw, kenapa Bang?" Tanya Audrey disebarang sana dengan nada yang sudah dibuat sebiasa mungkin, entah kenapa ia menjadi kesal.
"Gw mau ngomong sama mama papa, penting, lu kasihin dong handphone lu." Pinta Rava.
"Palingan mereka udah tidur, kalo mau ngomong kaga bisa sekarang Bang, gw lagi diluar sama Arra." Ingat Ara kan? Arra adalah salah satu saudara sepupu dari Rava dan Audrey.
"Yaudah deh."
"Mau ngomong apa lu? kalo penting biar nanti gw sampein." Ucap Audrey.
"Kaga usah, besok aja gw telpon langsung, gw tutup, bye." Jawab Rava langsung mematikan panggilannya.
"Gagal, padahal udah siapin mental." Keluh Rava.
"Sudahlah, tidak masalah, masih ada hari esok." Ucap Siska.
"Benar."
"Sudah malam tidurlah." Suruh Rava, karna hari juga sudah mulai larut.
"Baiklah." Jawab Siska langsung berdiri, hendak kekamar, namun saat ia baru berjalan beberapa langkah, ia langsung berbalik menghadap Rava.
"Kenapa?" Tanya Rava.
"Tidakkah lebih baik kamu tidur dikamar saja." Ucap Siska.
"Lalu kau tidur disofa? tidak aku tidak akan mengizinkanmu." Tolak Rava.
"Tidak, aku tidak akan tidur disofa, tapi dikamar." Bantah Siska.
Rava langsung tersenyum mendengarnya.
"Kau yakin?" Tanya Rava.
"Iya, tidak ada salahnya mencoba." Jawab Siska.
"Baiklah mari." Ucap Rava, langsung pergi masuk kedalam kamar bersama dengan Siska.
Saat Rava dan Siska berada didalam satu ranjang, mereka berdua merasakan kecanggungan yang menggelitik, mereka berdua sama sama tidak bisa tidur.
"Lah gw kenapa dah, jadi canggung gini, dia juga kan ya bini bini gua, jadi sah sah aja, kenapa gw jadi gini." Batin Rava yang merasa tidak nyaman.
"Siska." Panggil Rava.
"Kenapa rasanya canggung ya?" Tanya Rava to the point, karna dia sudah tidak tahan dengan rasa canggung ini.
"Entahlah, aku juga begitu." Jawab Siska.
Rava langsung memiringkan tubuhnya menghadap Siska, ia menatap wajah Siska dengan seksama.
Siska yang ditatap merasa aneh.
"Kamu kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Siska menoleh, ia menatap wajah Rava, dan pandangan mereka berdua jadi bertemu.
Deg, deg, deg. Jantung keduanya berdetak dengan kencang.
"Cantik." Ucap Rava tanpa sadar.
Siska yang mendengar langsung bulshing seketika. Siska langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.
Rava langsung meraih dagu Siska, ia menatap mata Siska seksama.
Rava langsung mencium bibir Siska sekilas. Siska yang baru saja mendapatkan ciuman langsung membulatkan matanya kaget.
"Rava." Kagetnya.
"Hmmm?" Tanya Rava dengan deheman.
"Kamu tadi.."
"Iya, kenapa? ada yang salah?" Tanya Rava.
"Ti..tidak."
"Aku punya permintaan." Ucap Rava.
"Apa?" Tanya Siska.
"Kau tidak ingin memberikan hak ku sebagai suami mu?" Tanya Rava.
Siska langsung tersentak mendapatkan pertanyaan yang sudah ia pikirkan jawabannya jauh jauh hari, ia langsung menganggukkan kepalanya meng iya kan.
"Benarkah?"
"Iya, aku sudah memikirkannya." Jawab Siska.
"Tapi aku minta pelan pelan, dari artikel yang aku baca, katanya malam pertama itu menyakitkan." Lanjutnya, Rava langsung tersenyum mendengar penuturan Siska yang sangat polos baginya.
"Sakitnya hanya diawal, selanjutnya tidak akan."
"Selanjutnya?!" Kaget Siska.
"Iya, kenapa?"
"Ku pikir hanya satu kali saja."
"Haha, bagaimana, siap?" Tanya Rava memastikan.
"Emm baiklah." Jawab Siska, ia sudah meyakinkan dirinya untuk sepenuhnya.
Malam yang mulanya panjang, kini menjadi singkat karena pasangan ini. Mereka melakukan hubungan yang seharusnya dilakukan oleh pasangan yang sudah sah menikah.
***************************************
Like
Komen
Vote
Tambahkan favorite 💜
AUTHOR SAYANG KALIAN💕