
"Rava..." Panggil Siska saat ia duduk dalam mobil.
"Iya?" Jawab Rava yang fokus menyetir.
"Maafkan aku, karena aku, rahasia kita terbongkar." Ucap Siska yang merasa bersalah.
Rava langsung meraih tangan Siska dan menggenggamnya.
"Hust, tidak ini bukan kesalahanmu, ini diluar dugaan, jadi berhentilah menyalahkan dirimu, toh apapun rahasia yang kita sembunyikan pasti suatu hari akan terbongkar juga." Ucap Rava.
"Tapi nanti mama dan papa." Ucap Siska khawatir dengan Rava, jika nanti ia dimarahi.
"Aku akan menjelaskannya." Ucap Rava.
"Lupakan saja yang sudah terjadi, aku akan membawamu kesuatu tempat, pasti kau suka." Lanjutnya.
"Kemana?"
"Lihat saja nanti."
Rava membawa Siska menuju sebuah pantai dengan deburan ombak yang tidak terlalu kencang dan memiliki suasana yang begitu tenang.
"Pantai?" Ucap Siska berbinar, ia sangat suka sekali dengan pantai.
"Kau suka?" Tanya Rava.
"Iya, aku sangat suka dengan pantai." Ucap Siska antusias.
"Baiklah ayo kesana." Ucap Rava langsung menggandeng Siska menuju bibir pantai.
Rava dan Siska bermain main dengan air pantai dengan begitu senangnya, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.
"Senang sekali dia, tapi aku juga merasa sangat senang bersamanya, ini memang takdir yang disembunyikan Tuhan untukku, menikah dengan tidak sengaja, namun cintanya sama sekali tidak bercanda." Batin Rava melihat raut wajah Siska yang begitu bahagia.
"Malam ini juga aku akan memberitahu dan mencoba menjelaskan pada mama dan papa." Lanjutnya membatin.
"Rava." Panggil Siska yang melihat Rava terus memandangnya tapa kedip.
"Ah iya? apa?" Tanya Rava tersadar.
"Kau kenapa? melihatku begitu."
"Kau cantik." Ucap jujur Rava.
Siska yang mendengar langsung bulshing seketika.
"Ahaha, bulshing nih ya... manis banget sih." Ucap Rava gemas mencubit pipi Siska.
"Ish jangan begitu, aku jadi malu." Malu Siska memalingkan wajahnya.
Rava langsung meraih pundak Siska agar ia bisa menatap wajah Siska intens.
"Siska." Panggil Rava menatap wajah Siska.
"Iya." Jawab Siska balik menatap wajah Rava.
"Katakanlah."
Rava memasukkan tangannya kedalam saku celananya, mengambil satu kotak berwarna merah, ia langsung membuka kotaknya dihadapan Siska.
"Mungkin ini sedikit terlambat, namun tidak masalah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali." Ucap Rava.
"Vransiska Alvaleria, aku Ravael Varo Maldini mencintaimu dengan sepenuh hatiku, mungkin pertemuan kita bisa dibilang tidak indah, pernikahan kita juga bukan pernikahan yang orang orang dambakan, namun demikian, aku ingin menyempurnakannya dengan melamar mu hari ini." Ucap Rava.
"Bersedialah menjadi pendamping hidupku hingga hayat." Lanjut Rava.
Siska yang mendengar sangat sangat terharu dengan apa yang diutarakan Rava, ia melihat banyak sekali ketulusan yang ditunjukkan Rava. Hingga tak sadar air matanya mulai jatuh.
"Aku menerimanya, aku akan menemani, mendukung, dan mendampingi mu hingga akhir hayatku." Ucap Siska. Rava langsung memakaikan cincin dijari manis Siska, ia langsung memeluk Siska erat erat.
"Maaf aku belum memberitahu dan mengenalkan mu pada keluargaku, aku janji malam ini juga aku akan mengatakannya pada mereka." Ucap Rava melepas pelukannya dan menghapus air mata Siska lembut.
"Aku mengerti." Ucap Siska mengangguk tersenyum.
"Baiklah, sekarang kita ketepi, makan sesuatu disana." Ajak Rava menunjuk warung makan yang berada ditepi.
"Mari." Ucap Siska tersenyum senang.
Rava dan Siska memesan beberapa makanan untuk mereka makan, jangan lupakan kelapa muda sebagai minuman mereka.
"Bagaimana jika kita mengunjungi pesantren mu dulu." Ucap Rava tiba tiba disela sela makannya.
"Boleh?" Tanya Siska.
"Aku mengajakmu, jika kau mau maka aku akan membawamu kesana, sekalian ucapkan salam selamat tinggal pada rekanmu itu." Ucap Rava.
"Hehe, iya aku mau, tapi untuk apa mengucapkan selamat tinggal padanya?" Tanya Siska.
"Iya, kau harus mengucapkan selamat tinggal, karna tidak lama lagi kau akan meninggalkannya untuk selamanya, dan kau akan menjadi nyonya Rava." Ucap Rava tersenyum.
"Hahah ada ada saja kau ini, aku akan mengatakan selamat tinggal padanya, tapi bukan untuk berpisah, namun untuk bertemu kembali, karna tidak akan ada perpisahan diantara hubungan pertemanan." Ucap Siska.
"Kau benar." Ucap Rava.
"Sangat baik hatimu, andai saja kau tahu jika dialah yang menyebarkan gosip tentangmu." Batin Rava.
"Tapi sudahlah, malam ini juga aku akan membereskan biang keroknya." Lanjutnya membatin.
***************************************
Like
Komen
Vote
Tambahkan favorite 💜
AUTHOR SAYANG KALIAN💕