RAVA & SISKA

RAVA & SISKA
R&S#31



Pagi harinya, Rava terbangun terlebih dahulu, ia melihat kesampingnya masih mendapati Siska yang tertidur pulas, ia tak tega untuk membangunkannya, karna ini juga karena ulahnya sendiri.


Rava menaikkan selimut agar Siska tidak kedinginan.


Ia langsung pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelahnya ia langsung kembali kekamar, Siska yang mendengar adanya pergerakan dikamar langsung membuka matanya.


"Emmm." Erangnya meregangkan tubuhnya, namun ia kaget bahwa dirinya masih tidak mengenakan pakaian, ia juga merasakan nyeri dibagian sensitif nya.


Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, ia berusaha turun untuk pergi kekamar mandi, namun rasa nyeri yang ia rasakan sangat mengganggunya.


"Aws." Rintihnya.


Rava yang mendengar rintihan Siska, langsung menoleh dan sudah mendapati Siska yang duduk diatas ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Kau tidak apa?" Tanya Rava khawatir.


"Sakit." Adu Siska.


"Maafkan aku, terlalu kasar." Ucap Rava merasa bersalah.


"Emmm." Angguk Siska.


"Sekarang mau kemana?" Tanya Rava.


"Kamar mandi." Jawab Siska.


"Baiklah mari." Rava langsung meraih selimut yang menutupi tubuh Siska, hendak menyingkirkannya dan menggendong Siska kekamar mandi. Namun langsung ditahan oleh Siska.


"Mau diapain selimutnya?" Tanya Siska menahan tangan Rava.


"Hei, kalau mau kekamar mandi ngapain pakai selimut." Ucap Rava.


"Rava... aku malu." Malu Siska.


"Ngapain malu, orang aku juga udah lihat semuanya kok." Ujar Rava tetap melepas selimut Siska, ia langsung menggendongnya Siska masuk kedalam kamar mandi.


Siska yang malu, ia menenggelamkan kepalanya didada bidang Rava, Rava yang melihat tingkah malu Siska langsung tersenyum.


Rava menaruh Siska kedalam bathtub.


"Mandilah, nanti kalau sudah selesai, panggil aku." Pesan Rava, Siska langsung mengangguk mengerti. Rava langsung keluar dari kamar mandi menuju dapur, membuat sarapan untuknya dan Siska.


Beberapa saat, Rava sudah menyelesaikan masakannya, juga Siska yang sudah selesai dengan mandinya. Ia tidak memanggil Rava untuk membantunya, Siska berusaha berjalan dengan sendirinya menyusul Rava yang berada didapur.


"Kamu masak?" Tanya Siska yang datang dengan jalan yang tidak normal.


"Iya." Jawab Rava mengamati Siska.


"Kenapa jalanmu seperti itu?" Tanya Rava.


"Karna mu." Kesal Siska.


"Maaf, masih sakit?" Tanya Rava.


"Iya."


Tanpa aba aba Rava langsung menggendong Siska masuk kembali kedalam kamar, ia merebahkan Siska dengan pelan.


Ia meraih kaki Siska dan membukanya. Siska yang kaget langsung menahan Rava.


"Mau apa? jangan macam macam, masih sakit." Peringat Siska yang pikirannya sedang bertraveling.


"Apa? aku hanya ingin memberikan salep ini." Ucap Rava membuka celana dalam Siska, ia langsung mengoleskan salep khusus dibagian sensitif Siska.


"Sudah, jangan jalan dulu." Ucap Rava setelah mengoleskan salep nya.


"Dirumah saja, nanti titip absen sama Aqila." Lanjut Rava.


"Tapi aku tidak apa apa."


"Tidak apa apa bagaimana, jalan saja gitu tadi, nanti kalau dikampus mau gimana coba." Ucap Rava.


"Baiklah."


"Sebentar, aku ambilkan sarapan." Ucap Rava langsung keluar kamar, mengambilkan makanan untuk Siska.


"Ini makan." Ucap Rava memberikan satu piring nasi beserta lauk.


"Aku suapi?" Tanya Rava.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri, lagian tangan dan mulut ku tidak apa apa." Jawab Siska langsung mengambil piringnya dan menyendokkan nasi kedalam mulutnya.


"Yasudah nanti piringnya taruh saja dibawah, nanti aku yang bawa kedapur, aku berangkat dulu." Pesan Rava.


"Emmm, baiklah."


"Ingat jangan jalan dulu." Ucapnya sebelum pergi.


"Iya, aku mengingatnya.


Rava langsung pergi meninggalkan Siska diapartemen sendirian, ia tidak merasa khawatir karena sistem keamanan diapartemen mereka sudah sangat aman.


"Iya, kenapa Rav?" Tanya Aqila.


"Nitip absenin Siska."


"Lah, Siska kenapa?" Tanya Aqila.


"Ada diapartemen, istirahat." Jawab Rava.


"Oh ok."


Rava lalu melirik orang yang duduk dibelakang Aqila dengan sinis dan senyum devilnya. Rava sudah merencanakan sesuatu padanya.


"Gw balik." Pamit Rava pada Aqila, ia langsung pergi meninggalkan kelas Siska.


Saat keluar ia berpapasan dengan Roni.


"Woy, Rav." Panggil Roni, Rava langsung menoleh.


"Apa?" Tanya Rava datar.


"Ngapain lu kekelas sebelah?" Tanya Roni. "Nganterin bini lu?" Lanjutnya.


"Nitip absen." Jawab Rava.


"Lah, Siska kenapa? sakit?"


"Ada." Jawab Rava.


Tarlintas sesuatu dibenak Roni.


"Lu apain Siska semalem? kaga bisa jalan ya?" Tanya Roni dengan nada menggoda Rava.


"Ngomong lagi gw patahin rahang lu." Ancam Rava.


"Hahah, maap maap, berarti iya." Ucap Roni meminta maaf, namun langsung mengambil kesimpulan.


"Hmmm." Dehem Rava.


Rava lalu berjalan mendahului Roni yang pikirannya sedang terbang membayangkan sesuatu.


"Eh Rav, tungguin!" Seru Roni menyusul Rava dengan sedikit berlari.


Roni mengikuti Rava, namun Rava bukan masuk kedalam kelasnya, melainkan masuk kedalam ruang Dekan.


"Rav, lu ngapain kesini?" Tanya Roni berbisik ditelinga Rava.


"Diem." Jawab Rava.


"Rava kamu.. ada apa?" Tanya Dekan.


"Ini." Ucap Rava memberikan handphone nya, Dekan mengambil dan melihat apa yang ditunjukkan oleh Rava.


"Jadi dia yang melakukannya?" Tanya Dekan.


"Hmmm, dan saya mau, Anda urus dia sekarang juga." Ucap Rava.


"Baik, lebih cepat lebih baik." Ucap Dekan langsung menyuruh seseorang untuk memanggilkan orang yang dimaksud didalam video.


"Rav, siapa sih?" Tanya Roni kepo.


"Lihat sendiri." Jawab Rava cuek.


Taklama datang seorang yang diperintahkan oleh Dekan, ia datang bersama satu mahasiswi dibelakangnya.


"Pak, ini dia." Ucap orang tersebut.


"Baik, terima kasih."


"Kamu masuk." Suruh Dekan dengan nada dinginnya.


"Duduk." Lanjutnya.


"Oh ini orangnya." Batin Roni menatap Wati datar.


"Lu tau apa tugas lu." Ucap Rava pada Roni dengan memberikan sebuah kamera.


"Ok, gw tahu." Ucap Roni mengambil kamera dari tangan Rava.


***************************************


Like


Komen


Vote


Tambahkan favorite 💜


AUTHOR SAYANG KALIAN💕