RAVA & SISKA

RAVA & SISKA
R&S#36



Namun tiba tiba Siska langsung berlari kekamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya.


Rava langsung menyusul Siska dan memeriksa keadaannya.


"Kakak ipar kenapa?" Tanya Audrey pada Allice.


"Mama juga nggak tahu, tapi tadi katanya mabuk perjalanan, mungkin belum reda." Jawab Allice.


"Lebih baik panggilkan dokter saja." Ucap Allice pada Austin.


"Sebentar." Ucap Austin, langsung pergi memanggil dokter.


Siska dan Rava keluar dari kamar mandi, dengan Rava memegangi Siska agar ia tak terjatuh karna pusing di kepalanya.


"Bagaimana? tidak apa apa?" Tanya Allice khawatir pada menantunya.


"Tidak Ma, tidak perlu khawatir, Siska baik." Ucap Siska sembari duduk disofa.


Austin kembali masuk kedalam ruangan bersama dengan seorang Dokter.


"Dokter, tolong periksa menantu saya." Ucap Austin menunjuk Siska.


"Tidak perlu Pa, Siska hanya butuh istirahat sebentar." Tolak Siska halus.


"Hust diamlah, silahkan Dokter." Ucap Rava.


Siska hanya menurut saja.


"Ada gejala atau apa yang dirasakan?" Tanya Dokter.


"Dari tadi pagi dia merasa pusing, siang ini setelah turun dari pesawat malah mual." Ucap Rava menerangkan kondisi Siska.


"Kau adik atau kakaknya?" Tanya Dokter yang belum mengetahui bahwa Siska adalah istri dari Rava.


"Suaminya." Jawab Rava.


Dokter langsung tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Rava.


"Silahkan kalian ikuti saya, saya akan memeriksa lebih detail." Ucap Dokter tersenyum.


"Ah ok." Jawab Rava langsung menggendong Siska.


"Rava... aku masih bisa berjalan." Ucap Siska malu.


"Diamlah, kau ini sakit masih saja banyak bicara." Ucap Rava.


Audrey, Mike, Allice, Austin bahkan Dokter yang melihat perlakuan manis Rava langsung tersenyum terbawa perasaan.


"Dokter, ayok." Ucap Rava.


"Baik, mari." Ucap Dokter memimpin jalan.


"Siap siaplah kau." Ucap Allice pada Austin sedikit berbisik.


"Siap apa?" Tanya Austin yang belum mengerti.


"Jadi kakek." Jawab Allice langsung duduk disofa.


Austin yang mendengar langsung tersenyum senang dan menghampiri Allice.


"Benar apa yang kau ucapkan?" Tanya Austin serius.


"Hei, benar atau tidak tunggu nanti, aku ini bukan Tuhan." Jawab Allice.


"Padahal aku cuman tanya." Kesal Austin


Diruangan dimana Siska sedang diperiksa oleh Dokter dengan Rava terus menemaninya.


Setelah beberapa saat, Dokter sudah memeriksa keadaan Siska. Ia langsung memberitahukan pada Rava dan Siska, bagaimana kondisi Siska.


"Gimana, Dok?" Tanya Rava.


"Tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan."Jawab Dokter tersenyum.


"Lalu istri saya sakit apa?"


"Siapa yang bilang sakit, saya nggak bilang lhoh ya." Ucap Dokter.


"Lah nih Dokter niat kaga sih ah, jelasin separo separo." Batin Rava.


"Lalu saya kenapa, Dok? hanya mabuk perjalanan, kan?" Tanya Siska.


"Tidak kok." Jawab Dokter.


Siska dan Rava langsung dibuat bingung dengan jawaban Dokter, yang mereka rasa sama sekali tidak menjawab pertanyaan mereka.


"Ini saya berikan vitamin kehamilan, dan pereda mual." Ucap Dokter memberikan resepnya.


Rava dan Siska langsung melotot mendengar ucapan Dokter tentang vitamin kehamilan.


"Vitamin kehamilan?" Tanya Siska cengoh.


"Iya, selamat kalian akan menjadi orang tua." Ucap Dokter tersenyum senang, Dokter yang melihat ekspresi Rava dan Siska yang terkejut juga ikut terkejut.


"Apa kalian tidak senang?" Tanya Dokter memastikan.


"Tidak, ini mendadak sekali." Ucap Rava.


"Kalau tidak mendadak namanya bukan takdir." Ucap Dokter.


Tanpa disadari air mata Siska terjatuh bulir demi bulir.


"Terima kasih, Dokter." Ucap Rava senang.


"Iya Tuan, tolong dijaga dengan baik kandungannya, trimester pertama kehamilan umunya akan rentan dan sering merasakan mual yang berlebih, untuk itu Nyonya Siska istirahat dengan cukup dan terus konsumsi vitamin, agar janinnya sehat sampai ia dilahirkan." Ucap Dokter menjelaskan panjang lebar.


"Baik Dokter, terima kasih banyak." Ucap Siska.


"Permisi." Pamit Rava langsung menggandeng dan merangkul Siska.


Sampai diruangan Audrey, Allice dan Austin langsung berdiri menghampiri Siska.


"Bagaimana?" Tanya Allice.


"Apa kata dokter?" Imbuh Austin.


"Ma, Pa, tenanglah, biarkan Siska duduk." Ucap Rava langsung membawa Siska duduk disofa.


"Ma, Pa, maaf Rava belum bisa...." Ucap Rava sengaja digantung dengan menggunakan mimik wajah yang dibuat seakan akan ia sedang menderita dan sedih, karna ia ingin mengerjai kedua orang tuanya terlebih dahulu.


"Ah tidak masalah, masih ada hari lain." Ucap Austin.


"Emang Rava mau bilang apa? orang Rava belum jelasin." Ucap Rava menahan tawanya.


"Lalu apa?" Tanya Allice.


"Kalian akan jadi kakek nenek." Ucap Rava langsung mengubah wajahnya menjadi ekspresi yang sangat senang.


"Wouw, benarkah?! benar sekali tebakanku." Seru Allice bahagia.


"Selamat ya, Sayang." Ucap Allice langsung memeluk Siska.


"Makasih, Ma." Ucap Siska.


"Selamat, kamu mau jadi Bapak." Ucap Austin menepuk pundak Rava.


"Iya, makasih kakek." Gurau Rava.


"Gaada gitu yang mau ucapin selamat buat gw, gw juga mau jadi Tante kali." Ucap Audrey.


"Hahah, iya gw juga mau jadi Om." Imbuh Mike tertawa.


"Hahah, selamat selamat." Ucap Rava tersenyum senang pada Audrey.


Ia merasa sangat bersyukur karna Audrey bisa menerima Siska dengan senang hati, tanpa adanya protes.


"Semoga saja, anak kalian nanti tidak kaya papa, tente dan neneknya." Celetuk Austin.


"Memangnya kenapa, Pa?" Tanya Mike penasaran.


"Iya, ngobrolnya dalam hati." Jawab Austin kesal.


"Dalam hati?" Tanya Siska.


"Kamu belum tahu kelebihan suami mu, Sayang?" Tanya Allice.


"Tidak, Ma." Jawab Siska.


"Memang apa kelebihannya? yang aku tahu Audrey memiliki kelebihan bermuka datar dan dingin." Ucap Mike langsung mendapat pukulan hangat dari Audrey.


"Aw, sakit." Protes Mike kesakitan.


"Bodo amat." Kesal Audrey.


"Iya deh maaf."


"Biar Papa yang jelasin." Ucap Austin.


"Mama kalian ini, punya kelebihan bisa denger batinan orang." Ucap Austin.


"Yang entah gimana bisa nurun ke kedua anaknya." Lanjut Austin.


"Ya iyalah nurun, orang anaknya." Kompak Audrey dan Rava.


"Dengar." Ucap Allice menekan katanya pada Austin


"Hmmm." Dehem Austin memutar bola matanya.


Setelah beberapa hari dirumah sakit, kini Audrey sudah diperbolehkan untuk kembali kerumah, ia langsung pulang bersama semua anggota keluarganya, juga Mike yang selalu setia menemaninya.


Kini Rava dan Siska tidak kembali lagi kenegara M. Siska yang tetap diam dirumah karena kehamilannya, ia sama sekali tidak diperbolehkan untuk pergi keluar oleh Rava, karna Rava merasa khawatir akan terjadi sesuatu pada istri dan anaknya. Siska menurut dengan senang hati, karna ia juga tahu siapa keluarga suaminya.


Siska juga sudah memberi tahu kedua sahabatnya dinegara M, siapa lagai kalau bukan Aqila dan Wati. Bahwa ia akan menetap disini, negara kelahiran Rava.


Aqila dan Wati yang sebenarnya berat berpisah dari Siska, namun mereka hanya bisa mendukungnya dari jauh.


Kini keadaan dimarkas BDG, sekarang dipimpin sepenuhnya oleh Audrey sebagai Queen satu satunya, karna King nya, sang Kakak sudah hiatus karena permintaan dari sang istri, Siska.


***************************************


Like


Komen


Vote


Tambahkan favorite 💜


AUTHOR SAYANG KALIAN💕