
Sore harinya, setelah lama mengobrol, kini waktunya untuk mengisi perut, semua keluarga menuju ruang makan untuk mengisi perut mereka masing masing.
Kini Baby Drian sudah dalam pangkuan Siska kembali, setelah dioper kesana kemari.
"Mari." Ucap Rava membantu Siska berjalan, ia terus saja mengkhawatirkan keadaan Siska, meski Siska sudah terlihat baik baik saja, tetap saja Rava selalu ingin membantunya.
Rava mendudukkan Siska di kursi meja makan.
Semunya sudah makan dengan lahap dengan menu yang istimewa disiapkan oleh asisten rumah tangga.
Rava yang melihat Siska belum makan karena terus mengurus sang Baby menjadi kasihan, ia langsung menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Siska dan langsung menyuapi Siska.
"Tidak, kamu makanlah dulu, nanti aku makan setelah kamu." Ucap Siska.
"Tidak, ayo makan." Tolak Rava tetap menyuapkan makanan kedalam mulut Siska.
Siska yang sudah tidak dapat menolak langsung saja membuka mulutnya.
"Sosweet amat si lu berdua." Ucap Arra yang iri pada keperdulian dan perhatian Rava pada Siska.
"Lah lu iri? minta suapin suami lu lah." Balas Rava acuh, ia juga makan dengan piring dan sendok yang sama dengan Siska.
"Anak lu kenapa jadi sweet banget dah, padahal bapaknya kaga." Bisik Allice pada Austin.
"Oh jadi iri nih sama anak sendiri." Balas Austin juga berbisik.
"Kaga lah, ngapain, udah pernah."
"Nah itu tahu udah pernah." Respon terakhir Austin.
Arra melirik tajam Varrel yang memang kurang peka terhadap dirinya.
"Apa?" Tanya Varrel yang sadar.
"Nggak." Ketus Arra yang kesal.
"Hahaha, makannya lu jadi cewe jangan irian." Ejek Audrey.
"Lu juga Kak, jadi cowo pekaan dikit." Sambung Audrey berbicara pada Varrel.
"Lah, kok jadi gw sih." Ucap Varrel yang belum tahu keadaan.
"Hedeuh, habis ini pasti ada perang dunia." Ucap Ollive.
"Bener tuh, pasti habis ini mansion mereka berdua runtuh." Imbuh Risha menimpali.
"Hust, makan, ngomong aja lu pada." Kesal Rava yang melihat perdebatan antara sepupunya.
Siska hanya tersenyum menanggapi, dengan Rava yang terus menyuapinya.
"Kalian berlima menginap saja disini." Ucap Allice.
"Eh, nggak perlu, kita akan menginap di hotel." Ucap Umi yang merasa tidak enak.
"Iya Tan, kami sudah memesan hotel untuk malam ini, barang kami juga sudah di hotel." Sambung Aqilla yang juga merasa tidak enak.
"Tidak ada penolakan." Ucap Allice dengan tatapan tajamnya, ia tidak ingin ditolak.
"Kalian kan sekarang keluarga kami, jadi menginap saja disini, tidak usah sungkan atau merasa tidak enak, lagian kalian juga sudah lama tidak bertemu dengan Rava dan Siska, jadi gunakan saja kesempatan ini." Ucap Austin yang mengerti perasaan kedua besan juga para sahabat Rava dan Siska.
"Baiklah." Ucap Abah yang menolak juga percuma.
"Kalian tadi menginap di hotel apa?" Tanya Audrey pada Roni dkk.
"Hotel xx." Jawab Wati.
"Tadi atas nama siapa reservasi nya?"
"Nama ku." Jawab Roni.
Audrey juga langsung mengeluarkan handphone nya dan menghubungi pihak hotel.
"Batalkan reservasi atas nama Roni, dan kirimkan barang barang mereka kemansion Faraqueen." Ucap Audrey sepihak langsung mematikan panggilannya.
"Sudah selesai." Ucap Audrey.
"Terima kasih." Ucap Roni.
"Biasa aja."
Para keluarga Faraqueen juga sudah berpamitan dan kembali kemansion mereka masing masing, yang jaraknya juga tidak jauh dari mansion utama Faraqueen.
Kini dimansion tinggalah Allice, Austin, Rava, Siska, Mike, Audrey, Abah, Umi, Roni, Aqilla, juga Wati.
***************************************
Like
Komen
Vote
Tambahkan favorite 💜
AUTHOR SAYANG KALIAN💕