RAVA & SISKA

RAVA & SISKA
R&S#29



Saat Ustadz sudah keluar, Rava langsung menyapanya dengan gaya sok kenal sok dekat.


"Pak Ustadz, gimana kabarnya? sehat aja kan?" Sapa Rava.


"Saya sehat." Ucap Ustadz.


"Abah." Ucap Siska langsung menyalami Ustadz yang sudah dianggap ayahnya sendiri ini.


"Bagaimana kabar kamu, Siska?" Tanya Ustadz.


"Saya baik, Abah." Jawab Siska.


"Pernikahan kalian bagaimana?" Tanyanya lagi.


"Wah baik sekali Ustadz, tidak ada yang perlu kalian khawatirkan, kami menikmatinya." Ucap Rava.


"Bagus jika begitu."


Ustadz, Ustadzah juga Rava dan Siska terus mengobrol hingga waktu telah menunjukkan pukul 8 malam waktu setempat.


"Saya ingin menjadi donatur dipesantren ini, apakah bisa?" Tanya Rava.


"Bisa sekali." Ucap Ustadz.


"Kalau begitu, saya akan menjadi donatur tetap disini." Ucap Rava.


"Wah mulia sekali." Puji Ustadzah.


"Tidak perlu memuji seperti itu." Ucap Rava.


"Umi ambilkan buku catatan donatur." Suruh Ustadz pada Ustadzah.


Ustadzah langsung pergi mengambilkan buku yang dimaksud Ustadz, dibuku tersebut tertulis semua donatur yang memberikan rezekinya untuk pesantren tersebut.


"Ini." Ucap Ustadzah memberikan bukunya.


"Atas nama siapa, Nak Rava?" Tanya Ustadz yang sudah memegang pulpen ditangannya.


"Ravael Varo Maldini." Ucap Rava.


"Vransiska Alvaleria." Lanjutnya memberikan nama Siska. Siska yang mendengar langsung tersenyum bahagia, yang juga langsung dibalas senyuman oleh Rava.


"Baiklah, sudah." Ucap Ustadz hendak menutup pulpennya.


"Satu lagi." Ucap Rava.


Ustadz dan yang lain bingung, siapa lagi yang akan ditulis oleh Rava.


"Tulisan atas nama keluarga Faraqueen." Ucap Rava. Ustadz dan Ustadzah langsung membulatkan matanya.


"Faraqueen? keluarga no.1?" Tanya Ustadzah yang kaget mendengarnya.


"Iya, kenapa ada yang salah?" Tanya Rava.


"Sebenarnya siapa suami Siska ini." Batin Ustadz bertanya, karena saat ia memaksa Rava menikahi Siska, ia sama sekali tidak mencari tahu silsilah keluarga Rava.


"Saya, Ravael Varo Maldini, putra pertama Allice Fera Faraqueen dan Austin Jonathan Sanjaya, cucu dari Sisilia Faraqueen." Ucap Rava.


Ustadz dan Ustadzah kaget mendengar nya, mereka diambang percaya dan tidak, bahwa anak keluarga Faraqueen menjadi donatur tetap pesantren mereka.


"Kenapa wajah kalian seperti itu, tulis saja." Ucap Rava.


"Sudah." Ucap Ustadz menulis nama Faraqueen.


"Kejadian malam itu?.." Ucap Ustadz yang berpikir bahwa, mana mungkin anak keluarga terhormat melakukan kegiatan bodoh seperti itu.


"Saya sudah jelaskan, bahwa saya bukan melakukan apapun, saya menolongnya, bahkan Siska sendiri sudah berusaha menjelaskannya, namun apa, kalian malah terhasut oleh satu santriwati kalian sendiri." Ucap Rava panjang lebar, ia mengeluarkan kekecewaannya pada Ustadz.


"Bukannya mendengarkan penjelasannya malah mengabaikannya, dia ini korban." Lanjutnya.


Sedangkan Ustadzah yang malam itu tidak ada ditempat, tidak mengerti tentang apa yang sudah terjadi.


"Siska, Rava, ada apa ini? apa yang kalian bicarakan?" Tanya Ustadzah.


"Tidak apa Umi." Jawab Siska.


"Tidak usah diungkit lagi." Ucap Siska pada Rava.


"Emm." Jawab Rava mengangguk.


Sedangkan Ustadz merasa bersalah pada Siska dan Rava.


"Maafkan Abah, Siska." Ucap Ustadz.


"Tidak usah diungkit lagi Abah, Siska sudah melupakannya." Ucap Siska.


"Tidak, bukan Siska yang beruntung, tapi aku, karena sudah mendapatkan istri yang baik dan apa adanya." Ucap Rava.


"Kalau bukan karena Ustadz, mungkin sekarang aku masih melajang." Ucap Rava pada Ustadz.


"Terima kasih." Lanjutnya berterima kasih.


"Tidak perlu, saya yang harusnya berterima kasih." Ucap Ustadz.


Tiba tiba datang orang yang diharapkan oleh Rava, siapa lagi kalau bukan Wati yang telah menghasut para Ustadz hari itu, juga sudah menyebarkan gosip yang bukan bukan tentang Siska dikampus.


"Siska, kau disini." Ucap kaget Wati.


"Ah Wati kau disini, iya aku datang, hanya ingin berkunjung sebentar, menemui Abah dan Umi." Ucap Siska tersenyum pada Wati.


"Kenapa kau sangat kaget melihat Siska?" Tanya Rava pada Wati.


"Tidak, aku tidak merasa begitu." Ucap Wati.


"Ah tidak masalah, ya aku ingin mengucapkan terima kasih padamu, karna hasutan mu malam itu, aku bisa memiliki Siska." Ucap Rava membuat Wati meremas tangannya.


Rava menyadari bahwa Wati sudah mulai geram dengan keberadaannya.


"Dan ya satu lagi, nama baik Siska dikampus sudah 100 persen bersih dan tidak akan ada lagi yang berani menggosipkannya, jadi kau tidak perlu menyebarkan gosip lagi tentangnya." Ucap Rava membuat Wati takut.


"A..apa yang kau katakan, a..ku tidak menyebarkan gosip apapun." Ucap Wati mengelak.


"Kau tidak mengakuinya juga tidak masalah, karna pengakuan mu juga tidak penting bagiku." Ucap Rava.


Ustadz dan Ustadzah bingung dengan apa yang dikatakan oleh Rava, begitu juga dengan Siska, ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh suaminya ini. Namun beberapa saat Siska berpikir, ia langsung menemukan jawabannya.


"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Ustadz.


"Ah tidak apa, tanyakan saja padanya." Jawab Rava menunjuk Wati.


"Wati ada apa ini? apa yang kamu lakukan dikampus?" Tanya Ustadzah.


"Tidak Umi, aku tidak melakukan apapun." Jawabnya namun dengan ekspresi panik dan takut.


"Jika kau tidak jujur maka konsekuensi akan kau tanggung nanti." Ucap Ustadzah menatap tajam Wati.


"Ah sudah sudah, sebentar lagi larut, lebih baik saya dan Siska kembali, selesaikan interogasi kalian." Ucap Rava.


"Kami permisi." Pamit Rava.


"Abah, Umi, Siska pamit." Pamit Siska menyalami satu persatu tangan Ustadz dan Ustadzah.


"Hati hati dijalan." Pesan Ustadzah.


Rava dan Siska beranjak pergi, namun saat Rava melewati Wati, ia mengatakan sesuatu pada Wati.


"Nikmatilah, jangan pernah mengganggu Siska lagi, atau akibatnya lebih dari ini, dan ya nantikan kejutanku besok dikampus." Bisik Rava langsung pergi meninggalkan Wati yang akan diintrogasi oleh para Kyai dan Ustadzah.


Diluar Pesantren.


"Kamu ini, tadi siang bilang tidak akan menghukum pelakunya, baru saja kau menghukumnya." Ucap Siska.


"Hei istriku jangan salahkan aku, salahkan dirimu, kenapa begitu baik, orang seperti dia harus diberi pelajaran." Ucap Rava.


"Tapi tidak begitu." Ucap Siska.


"Tidak begitu apanya, itu belum seberapa, kau belum pernah melihatku lebih dari ini." Ucap Rava menatap Siska jahil.


Siska yang ditatap begitu langsung seketika merinding dibuatnya.


"Ada apa? kenapa kau menatapku seperti itu, membuatku takut saja." Ucap Siska.


"Kau akan tahu nanti." Ucap Rava tersenyum jahil.


"Masuk." Suruh Rava pada Siska.


Siska langsung masuk kedalam mobil, dengan Rava juga menyusul masuk dan melajukan mobilnya menuju apartemen.


***************************************


Like


Komen


Vote


Tambahkan favorite 💜


AUTHOR SAYANG KALIAN💕