
Pagi harinya Audrey terbangun dari pingsannya, Mike yang menyadarinya langsung menggenggam tangan Audrey.
"Kau sudah sadar." Ucap Mike senang.
"Ma, Pa, Bang, Audrey sadar." Ucap Mike memberi tahu yang lain.
"Panggilkan dokter." Suruh Austin.
Rava langsung memencet tombol yang biasa digunakan untuk memanggil dokter.
Tak lama dokter datang memeriksa Audrey.
"Nyonya Audrey sudah tidak apa apa, hanya perlu waktu saja untuk pemulihan luka lukanya." Ucap Dokter.
"Makasih, Dokter." Ucap Mike tersenyum.
"Saya permisi."
"Minum." Pinta Audrey, Mike langsung memberikan air untuk Audrey.
"Gimana Sayang, ada yang sakit?" Tanya Allice.
"Nggak ada, Ma." Jawab Audrey.
Audrey langsung menatap Rava.
"Bang..." Panggil Audrey pada Rava.
"Iya, kenapa?" Tanya Rava mendekat.
"Maafin Audrey, kalo bukan karena Audrey ngajak kak Siska keluar mungkin kejadian ini nggak akan terjadi." Ucap Audrey menunduk bersalah.
"Hust, nggak, lu nggak salah, namanya musibah nggak ada yang tahu." Ucap Rava mengelus rambut Audrey.
"Kak Siska mana?" Tanya Audrey.
"Itu." Tunjuk Rava kebrankar sebelah Audrey, disana ada Siska yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
"Kak Siska." Ucap Audrey mulai menangis.
"Hust nggak boleh nangis, kak Siska nggak papa, cuman butuh waktu aja buat sadar." Ucap Allice.
"Beneran, Ma?" Tanya Audrey.
"Iya."
"Mau lihat ponakan lu nggak?" Tanya Rava.
"Loh, udah lahir, mana mana lihat." Ucap Audrey antusias.
"Ini." Ucap Rava memberikan handphone nya agar Audrey bisa melihat ketampanan anaknya.
"Wahh tampan banget, mirip banget sama lu bang." Ucap Audrey.
"Iya dong, anak gw." Ucap Rava.
"Namanya siapa, Bang?" Tanya Audrey.
"Nanti nunggu Siska sadar dulu baru gw kasih nama." Jawab Rava.
Sudah tiga hari Siska belum sadarkan diri.
Rava terus menemani dan menunggunya bersama keluarga yang lain, kadang Arra, Arka juga Dion datang secara bergantian untuk menjenguk Audery dan Siska.
Saat Rava menggenggam tangan Siska, tiba tiba Rava merasakan jika jari Siska bergerak, tak lama mata Siska juga perlahan teebuka.
"Siska, kau sadar." Ucap Rava senang, semua yang mendengar langsung mendekat kearah Siska.
Siska menatap Rava dengan senyum manisnya.
"Ada yang sakit?" Tanya Rava, Siska langsung menggeleng.
"Air." Ucap Siska meminta minum.
"Ini." Ucap Rava langsung memberikan Siska minum sedikit demi sedikit.
Siska menggerakkan tangannya dan mengusap perutnya, namun ia menyadari bahwa perutnya sudah rata.
"Rava, perutku." Ucap panik Siska.
"Sudah lahir." Jawab Rava.
"Benarkah?!" Tanya Siska antusias. "Dimana dia? aku ingin melihatnya." Lanjutnya.
"Kak, maafin Audrey ya." Ucap Audrey pada Siska.
"Eh Audrey, enggak papa, bukak salahmu, ini kecelakaan, sudah takdir yang maha kuasa." Ucap Siska.
"Gimana kamu? nggak ada yang sakit kan?" Tanya Siska.
"Enggak Kak, aku udah sembuh."
Saat itu juga datang suster bersama Allice dengan membawa tabung berisi anak Siska dan Rava.
Siska yang melihat mulai terharu, ia meneteskan air mata bahagianya.
Suster memberikan bayinya kepangkuan Siska.
"Makasih, Sus." Ucap Siska.
"Sama sama, Nyonya."
"Lucu sekali." Ucap Siska.
"Laki laki." Ucap Rava.
"Tampan." Balas Siska.
"Jadi iri." Bisik Mike ditelinga Audrey.
"Hust diamlah." Balas Audrey juga berbisik.
"Mau dinamai apa?" Tanya Austin.
"Apa?" Tanya Rava pada Siska.
"Adrian bagus." Ucap Siska.
"Jonathan Sanjaya." Lanjut Rava.
"Bagus."
"Sanjaya?" Tanya Mike.
"Marga, Papa." Jawab Audrey.
"Ouw, baru tahu aku."
"Menantu kurang ajar." Kesal Austin.
"Maap atuh Pa, lupa." Ucap Mike tersenyum kuda.
"Baiklah namanya Adrian Jonathan Sanjaya." Ucap Rava memutuskan.
Semuanya bergantian menggendong Baby Drian dengan senangnya. Rava dan Siska yang melihat juga merasa senang.
"Tidak ada kebahagian lain selain menjadi orang tua." Ucap Siska pelan pada Rava.
"Aku juga berpikir seperti itu, apa lagi dengan pengalaman dan berbagai masalah yang sudah kita hadapi." Balas Rava.
"Semuanya sudah direncanakan oleh yang maha kuasa, kita hanya bisa berdoa dan berusaha sebaik mungkin, dalam setiap masalah pasti ada hikmahnya, juga pasti ada kebahagaian diending cerita." Ucap Rava yang dapat didengar semuanya.
"MASUK PAK EKO." Seru semuanya yang langsung membuat kaget Baby Drian, ia langsung menangis keras.
"Hayoloh, Mama." Ucap semuanya menyalahkan Allice.
"Kalian ini." Kesal Allice.
Allice yang menggendongnya langsung panik dan memberikan Baby Drian pada Siska untuk disusui.
Semuanya tertawa dan tersenyum bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf semuanya, dalam beberapa minggu kedepan, Author nggak akan up dulu, karena harus ikut PAS (Penilaian Akhir Semester).
Jadi tolong pengertiannya, dan tetap dukung novel ini.
Juga satu lagi, setelah itu, Author akan bikin satu novel lagi beriringan dengan novel ini, dengan gendre yang berbeda.
Judul: Shen Lige
Gendre: Time travel, Action