
"Pagi Ma, Umi." Sapa Siska pada saat ia bergabung bersama Umi dan Mama mertuanya.
"Kamu sudah bangun, Sayang." Sapa balik Allice.
"Udah Ma, maaf ya jadi ngerepotin." Ucap Siska yang merasa tidak enak dengan Allice.
"Nggak kok Sayang, Mama seneng bisa main sama cucu Mama sendiri." Ucap Allice tersenyum.
"Kamu mandi saja dulu, Drian biar sama Umi dan Mama." Ucap Umi yang melihat Siska masih mengenakan baju yang sama, seperti semalam.
"Hahah, lucunya, kenapa itu kaca mata gede banget." Tawa Rava yang baru saja menghampiri Drian.
"Lihat lah sayang, Papa mu menertawakan mu, besok kalo kamu sudah besar, bungkam saja mulutnya jika menertawakan mu." Ucap Allice bergurau dengan Baby Drian.
Namun Baby Drian langsung merespon dengan menendang kecil sang nenek.
"hahaha lihat, dia tidak setuju, dia pasti sangat sayang dengan ku, Nenek." Ucap Rava mengejek Allice.
"Ada ada saja." Ucap Umi yang melihat kelucuan antara Allice dan Rava.
"Sudah sudah sana mandi, jangan menggangguku dengan cucuku." Usir Allice.
"Iya iya, main saja sana, aku akan membuatkan cucu baru untuk mu Nenek, hingga nanti kamu pusing sendiri dengan tingkah mereka." Ejek Rava.
Siska yang mendengar langsung mencubit pelan pinggang Rava.
"Wah seru itu sepertinya, banyak cucu, aku jadi membayangkan bagaimana kamu nanti mengurusnya." Ucap Allice mencoba menggoda balik Rava.
"Mudah saja." Jawab Rava.
"Hust, mengurus anak itu tidak mudah, jika tidak sanggup jangan memaksakan, nanti kalau tidak ter urus yang kasihan anaknya, dan yang merugi diakhirat nanti orang tuanya." Ucap Umi menasehati.
"Iya Umi, makasih nasehatnya, Siska nggak akan menelantarkan anak anak Siska nanti." Ucap Siska berterima kasih karena Uminya dengan senantiasa selalu mengingatkannya.
"Iya sama sama, sudah tugas Umi mengingatkan yang benar pada anak anak Umi, karena anak umi juga bukan hanya satu." Ucap Umi.
"Iya bukan hanya satu saja Umi, ribuan di pesantren." Ucap Rava.
"Itu benar."
"Sudah sudah, kalau kita berdebat dengan mu tidak akan ada ujungnya, lebih baik kau mandi, nanti baru memandikan Drian." Ucap Allice.
"Iya Nenek." Ucap Rava yang sudah tidak memanggil Allice dengan Mama lagi, melainkan Nenek.
Rava langsung merangkul Siska untuk kembali ke kamar mereka.
Mereka berdua membersihkan dirinya masing masing dengan Siska terlebih dahulu baru Rava.
Setelah Siska membersihkan tubuhnya ia pergi mengambil Baby Drian untuk dimandikan. Setelahnya ia bergabung dengan yang lain di ruang makan.
"Selamat makan semuanya." Kompak semuanya.
"Nanti Abah dengan yang lain, akan kembali ke negara M jam 8, karena pesawat akan lepas landas jam 9." Ucap Abah.
"Kok cepat sekali, Abah?" Tanya Siska.
"Iya, karena Abah dan Umi masih harus mengurus pesantren, kalau tidak ada Abah san Umi kasihan para anak anak." Terang Abah.
"Iya sudah, tidak apa apa, Siska mengerti." Ucap Siska mengerti.
"Tenang aja Sis, nanti kita masih bisa telponan, video call." Ucap Wati yang mengerti perasaan Siska.
"Iya, nanti aku video call." Ucap Siska.
"Nanti Rava yang anter ke bandara." Ucap Rava.
"Tidak perlu, nanti Umi dan yang lain naik taxi aja." Ucap Umi.
"Nggak boleh, Rava mau anterin." Titah Rava tidak ingin ditolak.
"Terserah lu dah, itung itung gw di sopirin ama sopir ganteng." Celetuk Roni.
"Nah tuh tau kalo gw ganteng." Balas Rava dengan tingkat kepedean yang sudah memuncak.
"Iya, ganteng banget, udah kaya pengeran gatot kaca." Ucap Audrey mengejek.
"Eleh, lu punya kakak genteng gini kaga terimaan banget lu, mentang mentang suami lu juga genteng."
"Padahal gantengan juga gw." Sambung Rava.
"Terserah kakak ipar tersayang, mau dilawan juga nggak enak, takut kualat." Ucap Mike.
"Hahahah, dasar tua!" Seru Audrey, Roni, Aqilla dan Wati.
"Orang ganteng ya gini banyak yang nggak terimaan." Ucap Rava lagi.
"Anak udah satu, kelakuan masih bocah." Cibir Allice.
"Weit Nenek, Papa muda mah bebas." Balas Rava.
***************************************
Like
Komen
Vote
Tambahkan favorite 💜
AUTHOR SAYANG KALIAN💕