
"Maafkan Lea, " ucap Inre. Ia meminta maaf kepada Daella atas perlakuan Lea sebelumnya. Inre juga mengatakan kalau Lea sangat menyesali perbuatannya kemarin dan ia harap Daella bersedia memaafkan Lea.
Daella sungguh tidak menyangka ayahnya Lea ingin bertemu dengannya untuk mengatakan hal ini? Sungguh ayah yang bijaksana. Ia pun memberitahu Inre kalau ia sudah memaafkan Lea, sehingga Inre tidak perlu khawatir. Inre sangat senang mendengarnya, kemudian Inre mengatakan satu fakta yang membuat Daella lebih terkejut lagi.
"Kamu cinta pertamanya, Daella. Kalian sudah pernah bertemu saat kamu berusia 3 tahun dan Lea berusia 16 tahun, di sebuah tempat wisata, " jelas Inre. "Sebab itulah Lea ga menikah ataupun berkencan sama siapa pun sampai sekarang. Karena dia menunggu kamu dewasa, Daella. Lea begitu yakin kalau kalian pasti akan bertemu lagi, entah kapan pun itu dan sekarang, ucapannya sudah terbukti."
Tidak ada yang bisa Daella katakan, ia terlalu terkejut. Sangat tidak masuk akal baginya, seorang remaja jatuh cinta dengan anak kecil berusia 3 tahun? Apa cinta sebahaya itu? sehingga yang usianya berbeda jauh saja tetap bisa jauh cinta.
Kini ia bisa percaya dengan perkataan yang pernah Lea ucapkan padanya dan berpikir semua yang Lea lakukan padanya saat ini karena ia benar-benar cinta denganya. ia memegang pipinya ketika ia merasa pipinya kini sedang merona.
D-dia rela ga menikah karena nunggu gue dewasa? Bisa-bisanya orang aneh itu berpikir kaya gitu. Gimana kalau kita ga bisa ketemu lagi? Apa dia bakal bener-bener ga menikah seumur hidupnya?
"Daella, " panggil Inre.
"I-iya ayah? " sahut Daella.
"Saya harap kamu bisa jatuh cinta dengan Lea, " ucap Inre diakhiri dengan senyumannya yang begitu menawan. Sampai-sampai Daella bingung, sebenarnya Inre itu ayahnya Lea atau malah kakaknya? Ia begitu terlihat muda juga bijaksana, tipikalnya sekali.
Daella menjawab perkataan Inre dengan anggukan kecil yang menandakan kalau ia bersedia untuk jatuh cinta dengan Lea suatu hari nanti. Kini pembicaraan Daella dan Inre telah berakhir dan ia sudah diperbolehkan untuk kembali bersama Lea.
Ketika Daella keluar dari ruangan Inre ia mendapati Lea sedang berdiri didekat pintu, tetapi bisa diyakinkan kalau Lea tidak mendengar pembicaraan mereka tadi. Lalu Lea pun bertanya kepada Daella apa saja yang telah mereka bicarakan. Namun, Daella hanya mengatakan "Rahasia~" sebagai jawabannya. Sama seperti jawaban Lea di hari pertama mereka bertemu.
Lea pun memutuskan untuk menanyakan langsung dengan Inre, ayahnya. Namun, Inre juga tidak mengatakan apa yang telah ia bicarakan dengan Daella. Hahh... Ia begitu penasaran tetapi tidak tahu harus bertanya dengan siapa lagi. Mereka begitu cepat akrab, sehingga sama-sama tidak ingin memberitahu nya tentang pembicaraan mereka.
Saat ini Daella dan Lea sedang dalam perjalanan menuju kediaman Lea. Selama perjalanan Daella hanya terdiam tidak mengatakan apa-apa, ia takut ketika ia nanti banyak bicara malah keceplosan dengan yang seharusnya ia rahasiakan. Karena Inre memintanya untuk merahasiakan semua pembicaraan mereka tadi.
Disisi lain Lea mengira kalau Daella sedang marah dengannya, sehingga ia tidak mau bicara dengannya. Apa yang telah ayahnya katakan pada Daella? Pikirnya sembari menyetir. Karena ini termaksud pertemuan pribadi, jadi ia memutuskan untuk tidak disupiri dan memilih menyupirnya sendiri.
Sampai dirumah Lea pun bertanya langsung kepada Daella apakah dia sedang marah dengannya atau tidak dan jawaban Daella, tidak. Daella pun mengatakan kalau ia sudah mengantuk dan ingin cepat tidur dikamarnya, sehingga ia pun langsung pergi meninggalkan Lea sendiri.
Lea justru menganggap Daella sedang menghindarinya, ia merasa begitu tidak nyaman dengan sikap Daella yang seperti itu. Ia terus berpikir bagaimana cara untuk membuat Daella tidak marah lagi dengannya walaupun ia tidak tahu penyebabnya.
Ia berharap ini bukanlah situasi buruk untuk saat ini dan kedepannya. Setelah banyak merenung membuatnya mengantuk dan tertidur padahal masih pukul 20.09.
Di rasanya baru beberapa menit terlelap, dibalik pintu kamarnya terdengar seorang pria yang terus mengetuk dan memanggilnya namanya. Sontak ia pun terbangun dan membukakan pintu kamarnya tersebut.
Pria itu adalah Karl, ia begitu terlihat tergesa-gesa. Ia pun mengatakan kalau Lea sedang mabuk berat di Bar xxx sambil terus menyebut nama Daella. Daella yang baru saja terbangun dari tidurnya, tidak terlalu mengerti dengan apa yang Karl bicarakan padanya. Bagaimana tidak? Orang baru bangun tidur sudah diajak bicara dengan begitu tergesa-gesa.
Karl yang melihat Daella seperti sedang kebingungan pun memutuskan untuk langsung membawa Daella ke Bar tempat Lea berada dan Daella pun hanya menurut ketika Karl menariknya sampai ke mobil.
Beberapa waktu kemudian mereka pun sampai di Bar xxx yang Karl maksud. Karl langsung mengajak Daella untuk masuk, lagi-lagi Daella pun menurut dan ikut masuk bersama Karl dengan terburu-buru seolah Lea dalam keadaan darurat.
Sampai didalam, Daella begitu terkejut dengan keadaan didalam Bar. Memang keadaan darurat pikirnya. Bagaimana tidak, ia melihat keadaan Bar yang begitu berantakan dan melihat Lea sedang mengcengram kerah baju milik seorang pria sembari ia mengatakan "Dimana Daella?! "
Karl pun seketika panik dan langsung menghampiri Lea untuk menghentikan aksinya. Karl berusaha untuk membujuk Lea supaya ia berhenti. Namun, Lea tak mau mendengarkan ucapan Karl dan terus saja memarah-marahi pria asing yang sudah ketakutan itu.
Daella yang sudah kesal melihat aksi Lea pun seketika menjerit "LEA!! " Semua orang langsung tertuju kepada Daella, salah satunya Lea. Lea pun langsung menghentikan aksinya dan melepaskan cengkeramannya dari baju si pria asing.
Daella menghampiri Lea lalu menampar nya agar ia bisa sadar dengan apa yang telah ia lakukan. Semua orang begitu terkejut melihat Daella menampar Lea, beberapa orang disana tahu Lea dan tidak ada satupun dari mereka yang berani melawan apalagi sampai menampar Lea.
Lea terdiam setelah Daella menampar nya, seketika itu air matanya mengalir membasahi pipinya. Ia menoleh ke arah Daella dan meminta maaf kepada Daella diiringi dengan tangisnya. Lea yang sekarang, bak anak kecil yang tengah menangis karena dimarahi oleh sang ibu.
"Maaf Daella, jangan marah... " ucapnya dalam tangis sembari ia menggenggam kedua tangan Daella. Daella yang tidak tega pun menarik Lea ke dalam pelukannya. Bukannya berhenti menangis, Lea justru semakin jadi.
Ga malu kah orang ini nangis kaya bocah batin Daella. Tak lama dari itu ia mengajak Lea untuk pergi menuju mobil mereka disusul Karl dari belakang. Semua orang disana begitu tercengang melihat aksi memukau Daella yang seolah habis menaklukkan seekor singa liar. Sangat memukau bukan?
Selama perjalanan pulang Lea hanya tertidur sembari bersandar di bahu Daella. Didalam mabuknya ia takut Daella akan pergi, maka dari itu ia terus memeluk lengan Daella sampai lengan Daella kesemutan.
...~...
...Tbc:/...