Radiant Energy/Strahlungsenergie

Radiant Energy/Strahlungsenergie
Bab 29



2 hari kemudian, siang hari di kediaman Paxton. Inre mendapat kabar tentang kejadian kemarin dan ia juga mendapat kabar kalau anak tunggalnya tersebut belum pulang dari semalam. Ia sangat khawatir dengan Lea, bagaimana jika Lea kembali mabuk? Sudah di pastikan kalau hal buruk akan terjadi, bahkan bisa lebih buruk dari sebelumnya. 


Inre Paxton pun turun tangan, ia memutuskan untuk mencari langsung keberadaan Lea dan ia juga telah mengerahkan 1.200 bawahannya untuk mencari Daella di kota Lübeck dan Bad Ems. Ia harus bantu menjelaskan semuanya kepada Daella. 


Saat ini Inre sedang mencari Lea di daerah bar yang biasa Lea kunjungi, tetapi ia tidak menemukan Lea. Semisal Lea sudah datang ke bar tersebut dan mabuk-mabukan pasti sudah ada sesuatu yang terjadi. 


"Di mana kamu nak, " gumam Inre lalu kembali melajukan mobilnya. Beberapa meter kedepan, ia melihat seorang pria dengan pakaian lusuh dan rambut berantakan tengah duduk menunduk di halte bus. Inre pun menghentikan mobilnya tepat di depan orang tersebut, lalu ia datang menghampiri nya. 


"Lea???!! " ucap Inre lalu langsung memeluk anaknya. 


Lea sempat bingung ketika ada yang memanggil namanya. "Ayah? " sahutnya dengan nada pelan, Lea pun membalas pelukan Inre dan seketika menangis di dalam pelukan sang ayah. "Ayahh… Daellaaa… " ucapnya dalam tangis. 


Inre mengangguk paham dan mengelus-elus punggung besar Lea untuk menenangkan nya. Ia jadi ingin menangis juga tetapi ditahannya. Inre harus menunjukkan kalau ia kuat, sehingga Lea bisa mencontohnya. 


Beberapa saat kemudian, Inre mengajak Lea masuk ke mobil untuk pulang. Awalnya Lea menolak, ia ingin terus mencari Daella sampai ketemu. Namun Inre menyuruh Lea tenang dan jangan khawatir, karena ia yang sudah mengerahkan 1.200 bawahannya untuk mencari Daella. Pada akhirnya pun Lea menurut dan pulang bersamanya ke kediaman Paxton. 


Inre adalah ayah yang kuat, ia mengurus Lea sendiri semenjak istrinya meninggal. Tidak ada yang Inre miliki lagi selain Lea, satu-satunya anaknya. Istrinya sudah lama meninggal tepat pada usia Lea yang ke 6 tahun. Ia meninggal karena terkena penyakit kanker pleura. 


Pada saat itu Inre dan keluarganya adalah keluarga yang sangat-sangat sederhana, bahkan mereka pernah tidak makan 2 hari karena tidak memiliki uang. Saat istrinya, Adriane Wyllea di vonis kanker pleura, Inre sangat syok. Saat itu pula ia semakin bekerja keras menafkahi anak, istrinya dan mengumpulkan uang untuk pengobatan Adriane.


Bukannya perlahan sembuh, penyakit Adriane justru semakin parah dan kecil harapannya untuk Adriane sembuh dari penyakit tersebut. Namun Inre tidak menyerah ia terus bekerja keras bahkan pernah meminjam uang kesana kemari untuk pengobatan Adriane. Ia sangat mengharapkan Adriane sembuh dan membesarkan Lea bersama-sama, melihat Lea menjadi pria tampan, sukses serta memiliki istri dan anak. 


Namun takdir berkata lain, Adriane pun meninggal pada tanggal 7 July tepat di hari ulang tahun Lea yang ke 6. Betapa putus asanya Inre saat itu sembari ia memeluk erat Lea yang menangis melihat jasad ibunya dikubur. Ternyata usahanya untuk menyembuhkan sang istri berakhir sia-sia, pikirnya. Ia sempat ada rasa untuk bunuh diri menyusul istrinya tetapi, begitu itu melihat Lea ia pun mengurungkan niatnya. 


Inre bangkit dari keterpurukan nya, lalu mencoba sebuah usaha menjahit kecil-kecilan dan berakhir menjadi pengusaha fashion yang saat ini sudah sangat terkenal bahkan di luar negeri. Awalnya ia takut usahanya kali ini akan gagal sama seperti dulu. Namun ternyata tidak. Ia sangat bersyukur bisa mengangkat derajat keluarga kecilnya tersebut. Inre juga telah lama memutuskan untuk tidak akan pernah menikah lagi, ia ingin membesarkan anaknya sendiri dan ia juga tidak menyukai orang baru yang hadir di tengah perjalanannya. 


Kini setelah mereka tiba di kediaman Paxton, Inre memanggilkan dokter untuk memeriksa Lea. Lea terlihat kurang sehat dan itu membuatnya sangat khawatir. Setelah sang dokter meriksa Lea, ia menyatakan kalau Lea demam, ia juga kurang tidur, kurang asupan dan terlalu banyak pikiran. 


Inre menghela nafasnya melihat Lea yang tengah terbaring di atas kasur tersebut dengan sesekali ia yang mengigau dan memanggil nama Daella. Inre harus bergegas untuk menemukan Daella, ia pun mencari Info dari para bawahannya. 


Di sisi lain, Daella masih mengurung diri di apartemen selama malam belum tiba. Seharian ia memilih untuk tidak keluar karena ia takut ada orang di luar sana yang di utus untuk mencarinya. Ia pun akan keluar di jam-jam pagi seperti jam 1, 2 hingga 3 pagi dan sekarang tepat pukul setengah 3 pagi. 


Di jam segitu Daella akan keluar untuk mencari angin sembari jalan-jalan. Ia memang tidak takut terhadap preman atau semacamnya, pikirnya ia bisa melawan mereka semua karena ia bisa silat. Padahal belum tentu. 


Ketika sedang asik berjalan-jalan, langkahnya terhenti di saat ia mendengar suara perempuan minta tolong dari arah gang sempit di belakang apartemennya. Namun sebelum itu ia seperti mengenal akan suara tersebut, suara yang sedang menjerit itu terdengar seperti suara Violetta. Kenapa ia ada di sini? Pikirnya kemudian. 


"Well… i don't care. " Daella pun kembali berjalan sembari memasukkan tangannya ke dalam kantung hoodie yang ia kenakan. 


Di saat ia yang kembali berjalan menuju apartemennya, suara minta tolong tersebut semakin keras dan membuat Daella terganggu. Bagaimana jika suara itu bukan dari Violetta? Dan orang tersebut di ambang kematian? Sedangkan Daella yang mendengarnya tidak menolong orang tersebut. Itu terkesan sangat kejam kan? . 


Daella pun memutuskan untuk menghampiri sumber suara, perlahan ia menelusuri gang sempit tersebut lalu mengintip apa yang sedang terjadi. 


"Ap-a??!! " mata Daella membelalak karena begitu terkejut ketika melihat sebuah upaya p3merk0sa4n yang terjadi kepada Violetta. Ternyata suara itu benar dari Violetta. Ini tidak bisa di biarkan, mereka baj1ng4n yang tidak bisa menahan nafsu terhadap perempuan. 


Daella menghampiri para baj1ng4n yang berjumlah 3 orang tersebut. "OUCHHH!!!! " Ia pun langsung menendang sel4ngk4ng4n di salah satu mereka dari belakang, hingga akhirnya sang empunya pun tersungkur dan mengerang kesakitan, kemudian lanjut dengan menghajar yang lainnya. 


Violetta tertegun melihat keberanian gadis yang tengah melawan 3 orang pria sekaligust. Namun gadis yang memakai pakaian serba hitam serta masker tersebut, terlihat seperti Daella. Itulah isi pikirannya. Ia bisa berpikir seperti itu karena melihat dari mata sang gadis yang bagaikan kristal biru tengah menyala di gelapnya suatu tempat dan itu salah satu ciri khas Daella.


2 pria sudah tumbang oleh Daella, mereka sama-sama di serang pada bagian yang sama yakni sel4ngk4ng4n. Tersisa 1 orang lagi dan orang tersebut langsung mengeluarkan sebuah benda tajam berupa pisau dari belakangnya, ia ingin menyerang Daella menggunakan pisau tersebut. 


Beberapa serangan di lakukan orang tersebut dan beberapa kali pula Daella berhasil menghindar. Namun sesuatu membuat Daella lengah hingga akhirnya pisau dari orang tersebut berhasil mengenai wajah Daella dari bawah matanya sampai ke dagu dan itu membuat masker yang Daella kenakan terbelah. 


...~...


......Tbc:/......