Radiant Energy/Strahlungsenergie

Radiant Energy/Strahlungsenergie
Bab 22



Sekitar pukul setengah 3 pagi, Daella terbangun dari tidurnya. Ia menyadari kalau di luar sana sedang turun hujan yang sangat deras. "Lea? " Ketika ia bangun, ia tidak melihat ada Lea di sekitarnya. Mungkin Lea sedang buang air kecil, pikirnya.


Daella pun kembali melanjutkan tidurnya, ia menarik selimut ke seluruh tubuhnya karena dinginnya hujan. "Semoga ga ada guntur deh--AAAAAA!!! " Belum juga tertutup mulutnya, guntur sudah berbunyi dengan sangat keras dan membuatnya menjerit karena kaget juga takut.


Di sisi lain, Lea yang tengah makan pun hampir tersedak ketika mendengar suara guntur dan jeritan Daella dari dalam kamarnya. Lalu ia pun beranjak bangun dan langsung berlari menuju kamar meninggalkan makanannya yang masih tersisa.


"Daella?? " Sampai di kamar, Lea tidak melihat ada Daella di dalam sana. Namun setelah itu matanya tertuju ke arah lemari yang pintunya tidak tertutup rapat karena terganjal selipan selimut. Ia pun menghampiri lemari tersebut dan membukanya.


"Da- "


"Leaaa... " Daella memelas dari dalam lemari tersebut. Ia meringkuk di dalam sana dengan seluruh tubuhnya yang ditutupi selimut. Tidak masalah jika hanya hujan deras bahkan disertai angin sekaligus, tetapi kalau sudah masalah guntur ia tidak bisa. Ia sangat takut dengan suara keras dari sang guntur. Setiap ia mendengar suara guntur ia pasti akan mencari tempat bersembunyi, seperti lemari contohnya.


Ingin rasanya Lea tertawa melihat Daella yang kini seperti anak kucing ketakutan. "Owhh, my little sweetie. Come on babe. " Lea mengulurkan kedua tangannya kepada Daella guna ingin menggendongnya. Pada saat itu Daella tidak menolak atau semacamnya, ia justru mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi bak anak kecil yang sedang meminta di gendong oleh ibunya.


Lea menggendong Daella ala koala dan Daella pun melingkarkan tangannya di leher Lea serta menyandarkan kepalanya di bahu milik Lea. Nyamann... Batinnya, ia tidak ingat kapan terakhir kali ia digendong seperti itu.


Lea membawa Daella pergi ke sofa yang berada di dalam kamar mereka, lalu ia pun duduk dan mengelus-ngelus kepala Daella supaya Daella kembali tertidur. "Aku ga akan pernah ninggalin kamu Daella, " ucap Lea kemudian memeluk erat Daella. Daella tak terlalu mendengar perkataan Lea karena ia sudah setengah tidur. Sangking nyamannya membuat ia kembali tertidur dengan cepat.


Merasa Daella yang sudah benar-benar terlelap, Lea pun memindahkan Daella ke kasur secara perlahan dan lembut agar sang kekasih tidak terbangun. Lalu ia pun ikut tertidur di samping Daella dengan Daella di pelukannya.


Beberapa jam kemudian berlalu dan sudah waktunya untuk Daella bangun. Ketika Daella bangun ia teringat apa yang terjadi semalam dan itu membuat jantungnya berdegup kencang. "Telat banget si deg-degannya, " ucap Daella sembari memegang dada bagian jantungnya.


Lea tidak ada di kamarnya, ia sudah bangun lebih dulu dan mungkin sedang menyiapkan bekal makan siang Daella. Namun, dalam sesaat Daella seperti mendengar ada yang memanggilnya tetapi itu bukan suara Lea. Daella pun langsung mandi dan berganti pakaian seragam sekolahnya.


"Garvyn! " seru Lea setelah seorang laki-laki bernama Garvyn menjerit memanggil nama Daella.


Tak lama dari itu tibalah Daella di ruang makan untuk mengambil bekalnya. "Waw, apa nih? " ucapnya. Di mana ia terkejut melihat 3 laki-laki kembar memakai seragam yang sama sepertinya, tengah berada di ruang makan bersama dengan Lea.


Laki-laki yang bernama Garvyn pun langsung menghampiri Daella yang baru saja keluar dari arah kamar Lea. "Kamu pacarnya kak Lea kan? Ternyata kamu lebih cantik dari di foto... Oiya, mulai hari ini kita bakal satu sekolah loh, " ucap Garvyn buka bicara terhadap Daella.


"Sayang? Udah siap berangkat sekolah? Mau sarapan dulu ga? " tawar Lea terhadap Daella, sembari ia menghampiri Daella dan memberikan bekalnya. Daella menggelengkan kepala kalau ia tidak ingin sarapan. Matanya terus tertuju ke arah si kembar 3 tersebut, ia bertanya kepada Lea siapa mereka dan kenapa mereka bisa di sini.


Lea pun memberitahu Daella kalau mereka bertiga adalah sepupunya, mereka sengaja pindah sekolah karena ingin bersekolah di satu tempat dengan sang kekasih Lea dan mereka juga kemari karena ingin berangkat sekolah bersama-sama dengan Daella.


Awal mereka mendengar kalau Lea sudah memiliki kekasih mereka sangat terkejut dan bertanya-tanya seperti apa wujud dari si Daella yang Lea maksud. Di saat itu lah Lea menunjukan foto Daella kepada mereka yang mengenakan seragam sekolah.


Mereka langsung terpesona melihat paras dari Daella, bahkan mereka sampai mengira kalau Daella mungkin telah di pelet oleh Lea sehingga Daella mau berpacaran dengan Lea yang dingin, jutek, dan galak.


Alasan mereka pindah ke sekolah yang sama dengan Daella adalah untuk menjaga dan melindungi Daella dari laki-laki yang akan mendekati Daella atau semacamnya dan itu murni kemauan dari si kembar 3 tersebut. Mereka tidak inginn Daella sampai direbut oleh laki-laki lain. Walaupun Lea terkesan dingin dan galak kepada mereka, tetapi mereka sangat menyayangi Lea.


Kini Daella dan si kembar pun berangkat ke sekolah bersama 2 mobil pribadi yang mengantar mereka. Seperti biasa Daella diantar oleh Lea.


"Daella, " panggil Lea menghentikan Daella yang baru saja akan keluar dari mobil. Perasaan Daella sudah tidak enak. Mendengar nada panggilan dari Lea, seperti Lea akan meminta sesuatu kepadanya.


Lea menunjuk-nunjuk ke arah pipinya "Cium dulu, " ucapnya kemudian.


Ternyata benar firasat buruknya, pikir Daella. Ia memutar bola matanya sembari menghembuskan nafasnya kasar, lalu ia pun menarik wajah Lea ke dekat wajahnya dan diciumnya lah pipi Lea. Setelah itu Daella langsung keluar dari mobil dan masuk ke area sekolah bersama si kembar.


Tunggu sebentar? Daella tidak mengeluh atau menolak permintaannya? Pikir Lea. Ia langsung membeku ketika Daella yang tanpa basa-basi langsung menuruti permintaannya. Ini bukan hal biasa, pikirnya lagi. Lea memegang pipi yang tadi di cium Daella, wajahnya memerah dan ia tersenyum bahagia.


Namun, "Ini bahaya, " gumam Lea menyandarkan wajahnya yang masih memerah di setir mobil, entah mengapa suhu tubuhnya menjadi panas dan di saat yang sama ada sesuatu yang tegak tetapi bukan keadilan.


Lea mendecih kesal ketika di bawah sana menegak hanya karena Daella mencium pipinya. Kenapa jadi begini, pikirnya. Semakin hari semakin ia merasa ada sesuatu yang melonjak dari dalam dirinya dan ia takut akan melakukan sesuatu yang harusnya belum ia lakukan kepada Daella. Lea pun berusaha menenangkan dan mengontrol dirinya saat ini. Namun ketika ia ingin menenangkan dirinya, ia justru terbayang-bayang wajah Daella saat menciumnya dan itu membuat yang di bawah sana semakin menegang.


...~...


...Tbc:/...