
Selesai mereka sarapan, Lea mengatakan kepada Daella kalau setelah ini ia harus keluar karena ada urusan di perusahaannya. Daella hanya menanggapi perkataan Lea dengan satu kata singkat darinya.
"Oh." kemudian ia beranjak dan kembali ke kamarnya. Yah... Ia tidak tahu harus kemana kalau bukan ke kamarnya. Lagi-lagi Lea hanya menghela nafasnya.
Sebelumnya Lea sudah mengatakan kalau Daella izin dulu hari ini untuk tidak masuk sekolah dan fokus istirahat di rumahnya. Besok Daella akan kembali bersekolah seperti biasanya. Jujur Daella bingung harus senang atau sedih. Namun, kalau ia dipikir-pikir lagi letak sedihnya itu dimana?
Ia diperlakukan layaknya seorang ratu, disekolahkan di sekolah mewah dan terkenal, dihidangkan makanan yang begitu nikmat oleh Chet yang handal, dan tinggal ditempat yang begitu mewah dan juga besar. Apalagi coba? Apakah sudah waktunya ia bersyukur dan sedikit menikmati perubahan hidupnya ini?
Ya semoga saja Lea sungguh orang yang bukan ingin membunuhnya atau hal buruk lainnya. Walaupun ia belum tau pasti maksud dan tujuan Lea yang sebenarnya dan belum bisa mempercayai ucapannya kemarin.
Sudah berpuluh-puluh menit ia berada di dalam kamarnya sembari memainkan handphonenya. Ia merasa begitu bosan berada di kamar terus-menerus dan ia pun memutuskan untuk keluar kamar, ia membuka pintu kamarnya dan melihat ke sekeliling namun begitu sepi seperti tidak ada penghuni.
Kemudian ia pun berjalan menelusuri lorong besar yang entah mengarah kemana ia tak tahu, ia hanya asal berjalan. Tak lama ia melihat susana hijau didepan sana dan ia pun langsung menghampiri tempat tersebut.
Alangkah terpukau nya Daella setelah melihat taman hijau penuh dengan beraneka macam bunga yang membuatnya begitu indah. Ia pun terus memasuki taman tersebut dan menghirup beberapa aroma dari bunga yang ada.
"Ternyata dirumah ini ada taman bunganya, " gumam Daella dan terus menelusuri taman tersebut. Ia begitu menyukai sesuatu yang berbau alam. Sampai tak terasa ia sudah menghabiskan beberapa waktu disana dan dihampiri oleh seorang pelayan pria.
"Nona, anda suka semua ini? " tanya pelayan itu kepada Daella yang seketika itu Daella terkejut karena tiba-tiba saja ada suara yang menghampiri nya. Ia pun segera menoleh ke arah sumber suara dan mengangguk senang sebagai jawabannya.
Pelayan itu pun menawarkan satu tempat lainnya yang mungkin Daella suka. Mendengarnya Daella begitu antusias dan ingin melihat tempat seperti apa itu. Mereka pun berjalan meninggalkan taman dan menuju ke suatu ruangan.
Ruangan itu adalah sebuah ruangan yang berisikan hampir semua alat musik ada didalamnya. Lagi-lagi Daella begitu terpukau dengan apa yang ia lihat, pikirnya bagaimana pelayan itu bisa tahu kalau kemungkinan ia akan suka dengan ruangan ini? Ia benar-benar salah satu penyuka musik.
Daella pun bertanya para si pelayan tadi, apakah ia boleh untuk memainkan beberapa alat musik disana dan pelayan itu pun menjawab kalau ia sangat diperbolehkan untuk menggunakan semua alat musik tersebut.
Wahh, Daella tidak menyangka kalau ia ternyata diperbolehkan untuk memainkan alat musik yang ada di dalam ruangan tersebut. Lalu ia pun mengambil sebuah biola yang sudah dari tadi mencuri perhatiannya.
Daella memposisikan tubuhnya dengan memegang biola juga busurnya, menggerakkan lengan dan jemarinya dengan mulus. Perlahan ia pun menghasilkan melodi yang sesuai dengan perasaanya saat ini.
Pelayan yang melihat dan mendengarkan melodi yang ia mainkan pun terpukau. Perasaan yang Daella tanam didalam melodinya begitu terasa dan menyentuh bagi si pendengar. Ia sangat pandai menyampaikan perasaan melalui alat musik yang ia mainkan, ia berbakat! Pikir sang pelayan.
Daella begitu menghayati cara ia bermain biola sampai ia tidak menyadari kalau ia tengah diperhatikan beberapa pelayan dan bawahan Lea yang lainnya, diantara mereka ada Lea yang ikut menontoni nya. Mereka seolah-olah sedang menonton sebuah konser musik internasional yang sangat mengagumkan.
Daella begitu terkejut ketika ia menoleh ke arah pintu dan mendapati beberapa orang sedang memperhatikannya. Tak lama mereka pun bertepuk tangan termaksud Lea, guna memberinya apresiasi. Setelah itu Lea pun menghampiri Daella.
"B-biasa aja ko. " Daella buang muka, entah mengapa ia jadi sulit untuk bertatapan langsung dengan Lea. Lea juga notis dengan sikap Daella akhir-akhir ini, tapi ia tidak ingin berpikiran lebih. Ia tidak ingin termakan dengan ekspetasi nya.
Lea pun kembali berkata "Daella, ayah mau ketemu kamu. " Daella yang tadinya buang muka, kini kembali menoleh ke arah Lea. Ayah? Ayah siapa pikirnya. Lea pun menjelaskan kalau Ayahnya lah yang ia maksud ingin bertemu dengan Daella.
Awalnya Daella menolak, untuk apa ayah Lea ingin bertemu dengannya. Namun, Lea tetap bersikeras kalau ayahnya ingin bertemu dan berbicara dengan Daella. Ia sendiri juga tidak tahu mengapa ayahnya meminta ia untuk mempertemukan Daella dengannya.
Terdiam sejenak dan berpikir, hingga akhirnya Daella pun bersedia untuk bertemu dengan ayahnya Lea. Sepetinya tidak sopan jika ia harus menolak ajakan pertemuan ini, pikirnya. Ia sedikit gugup dan bertanya-tanya mengapa ayahnya Lea ingin bertemu dengan orang asing sepertinya.
Singkat cerita kini ia sudah berada di kediaman Paxton tepat didepan ruangan Inre Paxton, ayahnya Lea. Ia meneguk kasar liurnya lalu menoleh kearah Lea memberi sinyal kalau ia sangat gugup, rasanya seolah ia akan bertemu dengan ayah mertuanya saja.
"Ga apa, " ucap Lea menenangkan Daella. Perlahan mereka pun membuka pintu ruangan tersebut dan melangkah masuk.
Yang awalnya Inre duduk membelakangi pintu ruangannya, kini berbalik ketika mendengar pintu ruangannya terbuka. Ia sempat tertegun melihat gadis yang dibawa Lea berdiri tepat di sampingnya, Inre pun tersenyum melihat Daella.
"Syuhh." kemudian Inre menyuruh Lea pergi dari ruangannya dan meminta Lea untuk membiarkan mereka berdua dahulu. Namun, Lea tidak mau. Pikirnya, kenapa ia tidak diperbolehkan untuk ikut serta dalam pembicaraan mereka.
Inre tetap menyuruh Lea untuk keluar sampai pada akhirnya Lea pun menurut dan keluar dari ruangan Inre dengan wajah cemberut nya. Kini di dalam ruangan tersebut hanya ada Daella dan Inre, lalu Inre pun mempersilahkan Daella untuk duduk di sofanya.
Daella pun menurut dan duduk disofa berseberangan dengan Inre. Ia bingung harus bersikap bagaimana, takutnya ia malah salah tingkah dan membuat Inre tak nyaman. Dengan wajah polosnya ia tersenyum di hadapan Inre. Namun, senyuman itu terlihat kaku sehingga membuat Inre tertawa kecil.
"Santai aja sayang... Saya calon ayah mertua yang baik ko. Jadi jangan takut, jangan gugup, " ucap Inre yang melihat Daella begitu gugup di hadapannya.
Calon? Ayah mertua? Wth?? Batin Daella. "E-emn, okey om, " sahutnya kemudian. Namun, Inre tidak menyukai dengan cara Daella memanggilnya. Ia ingin Daella memanggilnya dengan sebutan 'Ayah' bukan 'Om'
"Panggil saya ayah, " ucap Inre lagi dan Daella pun menurut lalu memanggilnya dengan sebutan 'Ayah' usai Daella memanggilnya ayah, Inre pun tersenyum senang.
Tidak perlu banyak basa-basi lagi, Inre pun langsung ke intinya saja. Ia mengatakan sesuatu yang membuat Daella terkejut, ia tak menyangka dengan apa yang Inre ucapkan padanya.
...~...
...Tbc:/...