
"Ellaaa... kantin ga? " jerit Ellsie Margarett yang merupakan salah satu teman Daella, ia juga termasuk anggota Gc GAGK! Ellsie memanggil Daella dengan sebutan Ella, menurutnya memanggil Daella seperti itu tidak memperibet lidahnya. Ellsie Margarett termasuk kaum anti ribet.
"Engga, gue bawa bekal." Daella menggelengkan kepalanya lalu mengeluarkan bekal makan siang yang telah disiapkan pelayan.
Setelah itu Ellsie pamit ke kantin sebentar untuk mengambil makan siangnya dan membeli minum. Daella dan 3 temannya hampir setiap hari membawa bekal, hanya Ellsie saja yang tidak pernah membawa bekal karena ia malas membawanya ke sekolah. Ellsie lebih memilih memakan makanan kantin dan membeli ketimbang membawanya sendiri.
Kini 5 pentol korek pun telah berkumpul di satu tempat untuk makan siang bersama. Tak lama dari itu, Nico datang ke kelas Daella karena ia ingin makan siang bersama Daella lagi. Namun ketika ia sampai dikelas Daella, ia mendapati Daella tengah makan siang bersama teman-temannya. Ia pun ragu dan memilih untuk kembali ke kelasnya, tetapi pada saat itu juga Daella melihatnya dan langsung memanggil Nico.
"Nico, " panggil Daella dengan isyarat tangannya yang menyuruh Nico untuk bergabung dengannya dan juga teman-temannya.
Nico sempat menolak, tetapi Thea langsung menghampiri nya dan menarik lengan Nico supaya mau bergabung dengan mereka. Thea Winnola namanya, ia juga termasuk teman Daella. ia dikenal extrovert dan friendly kepada siapapun dan Thea juga lah yang pertama kali mengajak Daella berteman ketika Daella baru saja pindah.
"Ga perlu sungkan Nico, kitakan seumuran, " ucap Thea melihat gerak-gerik Nico yang masih canggung dan malu-malu.
"Iya co, kamu boleh gabung sama kita kapan pun kamu mau. Btw kita temenan sama kamu bukan karena kita mengidolakan kakak kamu ya co, ini tulus dari lubuk hati kami. " Kali ini Ellsie yang berbicara sembari ia menyilangkan tangannya dan bersandar di kursi.
Nico pun mengangguk mengerti, ia senang teman-temannya Daella ternyata orang yang baik. Walaupun beberapa dari mereka memiliki tampang jutek dan seolah tak suka, kenyataannya orang yang seperti itulah yang tulus bahkan tingkat pengertian mereka sangat tinggi.
Pada akhirnya Nico pelan-pelan mulai terbuka dengan teman-teman Daella, sesekali ia menceritakan kegiatan ia dan kakaknya dirumah dan sesekali juga ia menjawab pertanyaan mereka yang bertanya sesuatu tentang kakaknya.
Bisa di bilang Nico Ooberon ini memiliki sifat pemalu atau introvert. Introvert yang tidak pandai mencari teman bisa nyaman dengan seorang ekstrovert yang pandai bergaul. Demikian juga ekstrovert yang mendapat pendengar yang baik jika berteman dengan introvert.
Lambat laun tibalah waktunya bell pulang berbunyi, sampai saat itu Daella masih merasa kekenyangan akibat beberapa temannya yang memberinya banyak makanan. Di tambah Nico yang juga kembali memberi bekal makan siang dari Zohan.
"Huahh... Kayanya gue ga ikut makan malem deh, " ucapnya sembari memegangi perutnya dan berjalan menuju Karl juga supir yang telah menunggunya.
Tiba dirumah, Daella bertanya-tanya siapa beberapa orang yang tengah duduk di ruang tamu bersama dengan Lea. Lea yang menyadari Daella telah tiba pun segera memanggilnya.
"Sayang, Sini, " panggilnya dan Daella pun menurut lalu datang menghampiri tempat Lea berada. Setibanya ia di dekat Lea, Lea langsung menarik Daella ke dalam pangkuannya. Daella tak berontak, ia menurut dan duduk di pangkuan Lea dengan tenang.
"Kenalin dia Daella, pacar saya dan bulan depan kami akan bertunangan. " Di akhiri Lea dengan senyum ala gembiranya, sedangkan Daella syok mendengar pernyataannya tersebut. Pikirnya sejak kapan ia setuju tentang pertunangan? Apalagi itu bulan depan.
"Hhh! " Wanita itu tersenyum angkuh setelah melihat reaksi Daella yang seolah takut dengannya. Ia pun berencana membuat Daella memanas lewat ucapannya. "Lea, bukankah kamu pernah bilang suka sama aku? Kenapa kamu malah jadian sama dia? " ucap wanita itu dengan sesekali melirik ke arah Daella.
Bukanya merasa panas, kesal atau semacamnya nya, Daella juga rekan yang lainnya justru menertawakan wanita tersebut ketika perkataannya di bantah oleh Lea. "Kapan saya pernah bilang seperti itu? Di mimpi mu? " itulah ucap Lea dan wanita itu hanya mendecih kesal.
Setelah ikut tertawa Daella berkata pada Lea kalau ia ingin pergi ke dapur untuk minum. Ia sempat di tawarkan Lea dengan minumannya, tetapi Daella menolaknya karena ia ingin minuman yang lain. Lea pun mempersilahkan Daella turun dari pangkuannya lalu pergi ke dapur.
Ternyata wanita yang tadi, ikut pergi ke dapur dengan alasan ia ingin ke toilet. "Hey Müll! " panggil wanita itu terhadap Daella dan Müll dalam bahasa Jerman mengartikan 'Sampah'
Daella yang mendengar suara wanita itu pun segera menoleh ke arah sumber suara dan tak lama ia melihat ke kiri dan ke kanan. "Ngomong sama gue? " tanya Daella sembari ia menunjukan dirinya. Baru begitu saja sudah membuat wanita itu kesal. Pikirnya, di mana ekspresi takut Daella tadi.
"Denger ya. lu ga ada pantes-pantesnya sama Lea, Lea cuma pantesnya sama gue. Lu itu cuma sampah yang tiba-tiba ada di sekitar Lea, bisa-bisanya Lea pacaran sama cewe norak kaya lu, " ucap wanita itu dengan kata-kata kotor dari mulutnya, lalu ia menyilang tangannya di depan dada juga menaikan dagunya di hadapan Daella.
"Iyakah? Astaga ngerinya. " Hanya itu respon dari Daella sembari ia mengaduk minuman yang sedang ia buat. Wanita itu begitu kesal melihat respon Daella yang biasa-biasa saja dari yang seharusnya kesal dan marah-marah kepadanya.
Daella terus mengaduk minumannya di hadapan wanita tersebut dan menunggu wanita itu kembali mengatakan sesuatu. Namun ternyata tidak, justru wanita itu pergi meninggalkan Daella tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Gue suka ni orang-orang semacam dia, kaya seru aja kalau di panasin balik. " Lalu Daella pun meminum minuman yang telah lama ia aduk tersebut. Rasanya begitu segar setelah meminun minuman tersebut. Pikirnya, seharusnya wanita tadi ikut meminum itu supaya otaknya berubah dingin.
Setelah hari yang mulai larut, para rekan-tekan kerja Lea pun pamit pulang, termasuk wanita yang bernama Violetta. Wanita yang tadi memanggil Daella dengan sebutan 'Müll' Ketika hendak pamit ia ingin memeluk Lea, tetapi Lea segera menghindar. Wanita itu pun langsung di tarik rekan wanita yang lainnya, karena menurut mereka Violet terlalu lancang. Mereka pun membawa Violet pergi dari hadapan Lea.
"Bye Leaaa~ " jerit Violet bahkan saat ia sudah memasuki mobil bersama rekan lainnya.
"Menjijikan. " Lea membuat raut wajah yang seolah jijik akan sesuatu. Ia pun kembali masuk kerumah dan menutup pintu. Ketika usai mengunci pintu ia di kejutkan dengan Daella yang berjerit memanggil namanya.
...~...
...Tbc:/...