
Setibanya mereka di toko kue, Lea mengajak Daella untuk ikut masuk bersamanya dan memilih kue yang Daella suka. Awalnya Daella menolak, ia ingin Lea saja yang memilih kuenya dan ia menunggu di dalam mobil. Namun, bukan Lea namanya kalau ia tidak keras kepala. Lea terus bersikeras mengajak Daella sampai akhirnya Daella pun luluh.
Di dalam, banyak sekali kue-kue yang telah diukir dan dirias dengan cantik. Daella begitu terpesona dengan semua kue disana, ingin rasanya ia membeli semua kue tersebut.
"Sayang, kamu suka kue yang mana? " tanya Leaa sembari ia merangkul Daella. Daella tak menjawabnya ia masih terus melihat-lihat kue disana, sampai akhirnya ia tertuju ke kue yang di design simpel tetapi terlihat elegan.
"Ini." Daella menunjuk kue tersebut kepada Lea, ia memberitahu Lea kalau ia menyukai kue tersebut.
"Udah itu aja? Apa mau sekalian sama tokonya? Surat tanah, surat rumah, surat nikah? " ucap Lea di depan beberapa orang yang tak sedikit dari mereka masih single.
Mereka yang mendengar dan melihat langsung kebucinan Lea kepada Daella hanya bisa gigit jari, apalagi Lea yang begitu tampan, tinggi juga gagah. Rasanya begitu serasi dengan Daella yang juga cantik dan bertubuh kecil yang hanya sebahunya Lea.
"Apaan si, bawa-bawa surat nikah. Ini toko kue bukan KUA. " Sahut Daella sedikit tersipu.
Setelah memilih, mereka pun langsung membayar kue tersebut lalu pulang. Tak sabar rasanya ingin mencoba kue mahal. Bisa dibilang Daella sangat senang, karena sudah lama juga ia tidak makan kue semacam yang baru ia beli itu. Pikirnya, pasti enak karena harganya yang mencapai 26 Euro. Jika di rupiahkan maka harga kue tersebut sekitar 432.156,92 Rupiah.
Sesampainya mereka di rumah dan duduk di ruang makan, Lea langsung menyiapkan kue tersebut dengan memotongnya dan diberikannya kepada Daella. Daella pun menerima potongan kue dari Lea, setelah itu ia menyantap sesendok dan saat itu pula expresi wajahnya berubah.
"Emn~ enak banget. Ini kue terenak yang pernah gue cobain, " ucap Daella lalu lanjut melahap kue tersebut.
Lea tidak ikut makan, ia hanya asyik memperhatikan Daella yang begitu lahap. Rasanya ia seperti sedang bermimpi melihat gadis yang pernah ia cari dari 13 lalu kini tengah duduk memakan kue yang ia belikan.
Di tengah lamunannya Daella menyodorkan sesendok kue ke hadapan Lea, guna ingin menyuapinya. Lea pun tersadar dari lamunannya, ia tersenyum lalu menerima suapan dari Daella.
Dia tampan, baik, juga kaya. Ga ada salahnya kan kalau gue nyoba buat jatuh cinta sama dia. Gue juga yakin, perasaan aneh waktu itu berhubungan sama cowo redflag ini batin Daella di tengah ia menyuapi Lea. Sebelumnya ia sudah pernah berpikir tentang perasaannya waktu itu, kalau itu adalah perasaan suka. Namun ia masih belum terlalu yakin, karena ia juga baru merasakan perasaan semacam itu untuk pertama kalinya.
Degupan kencang dari jantung Daella mulai Daella rasakan, wajahnya memerah dan sikapnya berubah menjadi canggung di hadapan Lea. Perasaan aneh itu timbul lagi dan kali ini ia bisa meyakinkan kalau itu benar-benar perasaan suka. Karena perasaan itu selalu timbul ketika Lea melakukan atau berkata sesuatu yang membuatnya tersipu.
Ia juga tidak menyangka kalau pada akhirnya tumbuh perasaan suka terhadap Lea yang awalnya ia benci dan takuti. Mungkinkah perasaan ini akan terus tumbuh menjadi cinta? Pikirnya.
"G-gue mau ke kamar, bye. " Daella beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar meninggalkan Lea sendiri di meja makan bersama kue yang belum habis di makannya. Lea tak banyak bicara ketika Daella yang mendadak pergi.
Daella malu jika Lea sampai mendengar detak jantungnya yang berdetak terlalu keras dan ia juga malu jika Lea terus menatapnya seperti itu. "Sialan, jantung gue... Gimana kalau dia denger? " gumam Daella sesampainya ia di dalam kamarnya.
Disisi lain, Lea ikut tersipu karena ia mendengar detak jantung Daella yang berdegup begitu kencang. "Ternyata bukan aku sendiri yang merasa deg-degan, tetapi Daella juga. Itu artinya Daella benar-benar... " gumamnya sembari menutup mulutnya dengan satu tangan disertai wajahnya yang semakin memerah.
Di waktu yang sama handphone Lea berdering menandakan ada yang menelfon nya, ia pun segera mengangkat telefon tersebut.
Tepat pada keesokan harinya, hari di mana Daella berangkat sekolah ia tidak di antar oleh Lea, melainkan diantar oleh Karl dan supir yang sebelumnya pernah mengantarnya sekolah.
Menurut perkataan Karl, Lea sudah pergi dari pagi-pagi sekali karena ia ada urusan mendadak di perusahaannya. Sehingga ia tidak bisa mengantar Daella sekolah bahkan tidak sempat menyiapkan bekal makan siang untuk Daella.
"Tch." Daella mendecih kesal, pikirnya urusan apa yang membuatnya pergi segitu paginya bahkan sampai tidak berpamitan kepadanya terlebih dahulu.
...~...
...Tbc:/...