Radiant Energy/Strahlungsenergie

Radiant Energy/Strahlungsenergie
Bab 21



Di rumah, Daella duduk berseberangan dengan Lea. Lea terus menatapinya sehingga ia tak berani menatap balik wajah Lea. Mungkin Lea benar-benar marah, pikir Daella. Lea bersandar di kursinya sembari ia menyilang kedua tangannya di bidang dadanya. "Kenapa kamu bohong? " Lea buka bicara.


Daella pun menjawab "G-gue takut ga di boleh pergi sama lu, apalagi kalau lu tau temen yang mau gue temuin itu laki-laki. Tapi gue kesana cuma minta di ajarin masak aja ko, " jelasnya kepada Lea masih dengan menunduk, ia terus manatapi lantai. Daella sungguh tak pernah berpikir akan ada di posisi seperti sekarang. Ternyata punya pacar itu cukup merepotkan, pikirnya. Karena menurutnya pacaran itu membuat kita tidak bebas.


"Belajar masak??! Sama siapa? Sama ibunya? Ayahnya? Anaknya? Atau sama nenek-kakeknya? " ucap Lea menanggapi perkataan Daella. Bisa-bisanya ia belajar masak dengan orang luar padahal di rumah mereka ada Chef handal.


"Maaff... " sahut Daella. Mendengar dari ucapan Lea, sepertinya Lea memang benar-benar yang marah tetapi di tahannya.


Waitt. Sejak kapan gue cupu begini? Bisa-bisanya gue nundukin muka gue di hadapan ni orang. Hmph, gue ga takut yah. Batin Daella, lalu ia pun mendongakkan pandangannya ke arah Lea. Di saat itu pula ia langsung melihat Lea yang masih menatapnya dengan mata merah mencoloknya. Tapi emang serem a*j*ng Daella menundukkan kembali pandangannya.


"Kamu harus aku hukum Daella, " ucap Lea sembari ia berdiri dan menghampiri Daella. Daella sontak terkejut mendengarnya, haruskah pakai hukum-hukuman segala? Pikirnya.


Daella pun mengangkat pandangannya "D-di hukum?? Tapi gue kan udah minta maa-!!?? " perkataannya tersela ketika Lea yang tadi datang menghampiri nya langsung memanggulnya di bahu. Lalu membawa Daella menuju kamarnya.


Daella panik, kenapa Lea membawanya ke kamar. Lea bukan orang yang seperti itukan? Pikirnya, dengan ia yang berontak dan meminta di turunkan. Tibanya di kamar Lea langsung menaruh Daella di kasur. "Selama beberapa bulan kamu tidur di sini, " ucap Lea kemudian. Lalu ia duduk di kasur sembari membuka jaketnya.


Perasaan Daella yang tadinya panik dan takut berubah menjadi lega, karena pikirnya ia hanya perlu tidur di kamar Lea bukan? "Terus lu tidur di mana kalau gue tidur di sini, ya... Gue tau si kamar lu banyak. " Daella pun membenarkan posisinya menjadi duduk dari yang awalnya setengah terbaring.


Lea membuka lemarinya dan menaruhnya jaket yang tadi ia pakai. "Yang bilang aku mau pindah kamar siapa? " ucapnya membuat Daella sempat bingung. Namun akhirnya Daella pun mengerti maksud dari perkataan Lea.


"J-jadi maksudnya-" Lagi-lagi perkataannya disela Lea.


"Yap. Maksudnya selama beberapa bulan kamu harus tidur di sini, sama aku~" Di akhiri Lea dengan tersenyum ria di hadapan Daella.


Daella tidak tahu apa isi dari pikiran Lea sehingga ia membuat hukuman semacam itu. Mereka bukan suami istri dan ia tidak ingin tidur satu ranjang dengan Lea. Ia pun bersiap untuk melarikan diri, tetapi di hentikan Lea.


Lea mengatakan kalau Daella hanya cukup tidur satu ranjang dengannya dan ia tidak akan melakukan hal-hal yang tidak Daella inginkan. Namun tetap saja, rasanya aneh bagi Daella tidur satu ranjang dengan orang yang baru berstatus pacar.


"Kita bukan suami istri Lea, jadi ga mungkin gue tidur satu ranjang sama lu, " ucap Daella. Lea bertanya-tanya mengapa, padahal itu hal wajar yang dilakukan beberapa orang ketika mereka pacaran.


"Yaudah, kita nikah hari ini. Biar kamu mau tidur satu ranjang sama aku. " Lea tetap kekeh ingin Daella tidur satu ranjang dengannya, bahkan ia sampai mengajak Daella menikah di hari itu juga.


Oh my god... F*ck banget ni cowo batin Daella dan dengan terpaksa ia pun memilih salah satu ajakan Lea. "Okey fine. Gue akan tidur satu ranjang sama lu. Puas lu? " ucapnya kemudian.


Lea langsung kembali tersenyum ria mendengar Daella yang akhirnya menyetujui ajakan tidur satu ranjangnya. Sejujurnya ia melakukan itu karena ia ingin membuat Daella secepatnya jatuh cinta terhadapnya. Sebelumnya ia sudah membuat Daella menyukainya lebih cepat dari perkiraannya. Jadi, mungkin kali ini bisa sama seperti sebelumnya.


Lea pun memeluk Daella "Makasih sayang~ " ucapnya terhadap Daella yang sudah pasrah tersebut. Di pikiran Daella, kalau Lea bukan orang yang ia sukai mungkin Lea sudah tidak ada masa depan lagi. Mau tahu kenapa? Karena ia akan menendang dan menginjak Bigdicknya.


Setelah sempat adu mulut, kini Daella sedang di kamarnya, ia sedang bersalin dan mengambil beberapa barangnya untuk dipindahkan ke kamar Lea. Ia berharap semoga ini tidak akan menjadi masalah. Rasanya malu sekali harus menaruh barang-barang pribadinya di kamar pria.


Ia pun menaruh beberapa barangnya tersebut di lemari yang sudah Lea kosongkan. Di sana Ia tidak melihat Lea di kamar, mungkin ia sedang mandi. Karena ia mendengar suara air mengalir dari dalam kamar mandinya.


Untungnya Daella masih di perbolehkan mandi di kamarnya sendiri. Kalau tidak, ia tidak akan pernah mandi dengan bebas, terlebih ia mandinya sangat lama bahkan bisa menghabiskan 20 menitan. Ia juga sering berpikir, kenapa ia bisa selama itu. Padahal ia melakukan aktivas orang mandi pada umumnya.


Terdengar, suara pintu kamar mandi terbuka dengan cara di geser. Daella yang mendengarnya pun spontan menoleh dan melihat Lea yang hanya mengenakan handuk di pinggangnya dengan tubuh dan rambut yang masih basah serta meneteskan air.


Busettt... Terakhir gue liat ga gitu deh Daella sampai tertegun menatap tubuh Lea, terutama otot perutnya. Sangat menggoda iman, pikirnya.


Di sisi lain Lea tersenyum mendapati Daella yang terus menatapi tubuhnya, ia jadi teringat saat Daella membuatnya telanjang di hari ia datang ke rumah Daella. Ia pun menghampiri Daella dan Daella segera sadar ketika Lea berjalan mendekatinya. Wajahnya jadi memerah bahkan sangat merah. "Seperti udang, " ucap Lea setelah berada tepat di hadapan Daella. Ia mengatai wajah Daella yang memerah seperti udang.


Daella segera mengalihkan pandangannya dari dari Lea. "Apaan si, jauh-jauh deh. " Lalu Daella berjalan menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya membelakangi Lea. Tidak mungkinkan ia menghadap Lea yang akan berpakaian.


Lagi-lagi Lea tersenyum melihat tingkah Daella. Malam ini sudah seperti malam pertamanya dengan Daella saja, pikirnya. Ia sempat tertawa kecil sebelum ia akhirnya bersalin dan memakai pakaian tidurnya. Pakaian tidur yang di maksud Lea itu adalah baju kaos dan celana oversize.


Tak di sangka-sangka, ketika ia ikut membaringkan tubuhnya di dekat Daella, ia melihat Daella yang ternyata sudah benar-benar tertidur. Mungkin Daella sudah berada di alam mimpinya. Kemudian ia pun tidur dengan memeluk Daella dari depan dengan posisi ia yang di bawah dada Daella.


"Daella, jangan pernah pergi lagi ya... Cobalah untuk mencintai aku, " lirih Lea, lalu tak lama kemudian ia pun ikut tertidur dengan posisi yang masih sama.


...~...


...Tbc:/...