Radiant Energy/Strahlungsenergie

Radiant Energy/Strahlungsenergie
Bab 7



Sudah 8 jam berlalu sejak Daella dibuat tak sadarkan diri oleh Lea, sampai sekarang ia masih belum juga sadar dari. Lea khawatir dengan Daella yang tak kunjung bangun.


"Dia ga akan meninggal kan? " tanyanya terhadap Karl yang sedari tadi berdiri dibelakangnya.


"Maaf tuan, saya kurang tahu. Karena saya bukan tuhan. " Karl memohon maaf sembari ia sedikit membungkukkan tubuhnya terhadap Lea. Mendengar ketidakpastian dari Karl, Lea pun segera menelfon seorang dokter untuk datang kesana dan memeriksa keadaan Daella.


Setelah dokter tiba dan meriksa keadaan Daella, ia menyatakan kalau obat yang diberikan kepada Daella memiliki dosis yang terlalu tinggi. Sehingga, itulah yang membuatnya belum sadarkan diri sampai saat ini dan ia juga menyatakan kalau Daella akan sadar dalam waktu 17 jam.


Lea syok, ia tidak menyangka akan seperti ini. Untungnya tidak ada efek lain yang membahayakan Daella. Dokter itu pula menyarankan untuk tidak memberi Daella obat seperti itu lagi. Mendengarnya pun Lea mengangguk dan dokter segera pamit undur diri kepada Lea dan juga Karl.


"Karl, kenapa kamu ga cari tahu dulu dosis dari obat itu?" ucap Lea terhadap Karl. Karl hanya kembali membungkukkan diri sembari meminta maaf kepada Lea. Setelah itu pun ia diperintah Lea untuk pergi meninggalkan ia sendiri bersama Daella.


Karl pun menjalani perintahnya. Kini di kamar itu hanya ada Lea dan Daella yang masih belum sadarkan diri. Jujur Lea begitu menyesali perbuatannya kepada Daella, kira-kira apa yang akan Daella lakukan terhadapnya ketika ia sadar nanti. Ia mengusap lembut kepala Daella, lalu tak lama sebuah kecupan mendarat di kening Daella sebelum akhirnya ia meninggalkan Daella sendiri di kamarnya.


Saat ini ia harus kembali ke perusahaan ayahnya untuk mengurus dokumen-dokumen yang ayahnya minta untuk ia kerjakan.


Lea dan ayahnya membangun perusahaan dengan Brand yang kini sudah begitu terkenal di masyarakat Jerman bahkan di beberapa negara lainnya. Sebuah perusahaan Fashion bernama Glühen, artinya bercahaya. Kenapa Glühen? Karena mereka berharap di setiap orang-orang yang memakai Fashion dari brand mereka akan terlihat bercahaya alias memukau bagi yang melihatnya.


"Ayah, " panggil Lea kepada ayahnya yang tengah berdiri memandangi pemandangan kota Bad Ems dari kaca perusahaannya. Sungguh memandangan malam yang indah.


Sang ayah pun menoleh ke arah sumber suara dan melihat wajah anak tunggalnya yang sedang murung. "Lea? Kenapa muka kamu ditekuk 10 begitu? " gurau Inre Paxton, ayah dari pria yang sedang murung tersebut.


Lea pun menceritakan apa yang sudah membuatnya murung, yakni kesalahannya yang sudah asal memberi Daella obat berdosis tinggi. Inre hanya menghela nafasnya, anaknya begitu terobsesi dengan gadis yang pernah Lea jumpai 13 tahun lalu.


"Lea, itu ga baik. Seharusnya biarkan dia bebas di luar sana. Gimana kalau kamu yang memperlakukan dia seperti itu malah buat dia benci dan ga bisa jatuh cinta sama kamu? " ucap Inre lalu kembali duduk di kursinya.


Lea hanya terdiam, ia tahu kalau ia memperlakukan Daella seolah burung dalam sangkar mas. Namun, ia juga tidak ingin Daella lepas dari pandangannya. Bagaimana pun caranya, ia harus membuat Daella jatuh cinta padanya. Bagaimana pun itu!


Setelah menghabiskan waktu beberapa saat bersama ayahnya dan Lea juga sudah menyelesaikan tugas-tugasnya, ia pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya.


Sekitar pukul 2 pagi Lea sampai di rumahnya, ia cukup lelah dengan pekerjaannya hari ini. Ia pun segera membersihkan diri lalu tidur. Namun, sebelum ia pergi tidur ia sempat mengunjungi kamar tempat Daella berada.


"Selamat tidur, meine liebe, " ucap Lea dan kembali mengecup kening Daella. Dalam bahasa jerman 'Meine Liebe' mengartikan 'Cintaku' atau bisa disebut sebagai panggilan sayang.


Ketika Lea dalam perjalanan menuju kamarnya, Tiba-tiba otaknya memberi isyarat tentang suatu tindakan yang berhubungan dengan Daella. Apa tindakan itu? Sebuah ciuman, otaknya memikirkan sekaranglah waktu yang bagus untuk ia mencium Daella secara diam-diam. Namun, ia tidak melakukannya. Ia menepis semua pemikiran kotor yang muncul lalu ia terus menuju kamarnya, merapihkan bantai, dan mulai memejamkan matanya.


Ia ingat Lea yang menyuntikan sesuatu pada lehernya. Namun, setelah itu ia tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya.


"Ugh! Perut gue sakit, gue laper pengen makan. Tapi apa yang harus gue lakuin? Ngejerit minta makan gitu? " gumamnya saat baru saja bangun. Bagaimana ia tidak lapar, ketika ia pingsan selama 17 jam lamanya. Apalagi ia seorang yang rakus dan banyak makan. Ya... Walaupun ia banyak makan tetapi berat badanya tidak bertambah. Entah pergi kemana semua makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.


Terdengar seseorang sedang berjalan menuju kamar Daella dan perlahan pintu kamarnya pun terbuka. Daella melihat bawahan Lea yang kemarin ikut membawanya kemari. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik sampai akhirnya Karl pun kembali pergi sembari memanggil nama tuannya.


Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Karl langsung membuka pintu kamar Lea dan memanggil-manggil tuannya. Lea yang tengah tertidur pun, mendadak terbangun dengan kebisingan yang Karl buat. Karl pun langsung memberitahu apa yang ingin ia beritahukan kepada Lea.


Lea begitu terkejut mendengar Daella yang sudah kembali sadarkan diri, seolah-olah Daella bangun dari komanya. Ia pun berlari menuju ke kamar Daella dengan wajah ala bangun tidurnya dan piyama yang terbuka bagian bidang dadanya.


Sesampai dikamar Daella ia mendapati Daella sedang bercermin menyisir rambutnya lalu menoleh ke arahnya dengan memegangi perutnya. Lea pun mengerti maksud dari Daella, ia langsung menyuruh Karl untuk menemui Chef di dapur mereka dan memintanya memasak beberapa hidangan.


Chef dan para Sous Chef pun langsung bergerak sesuai dengan perintah yang diberikan Lea pada mereka. Mereka pun menyajikan beberapa hidangan mewah dan nikmat dimeja makan yang kini ada Lea juga Daella.


Mata Daella begitu terbinar-binar melihat semua hidangan diatas meja, tak lama ia pun langsung menyantap mereka. Lea begitu senang melihat Daella makan makanan yang sehat dengan lahap. Namun, ia merasa heran kenapa Daella bersikap biasa saja atas apa yang telah ia lakukan padanya kemarin. Ia jadi semakin merasa bersalah.


Usai Daella menghabiskan makanannya, Lea pun mengajukan suatu pertanyaan kepada Daella. "Daella? Apa kamu ga marah sama saya atas apa yang saya lakukan kemarin?" Daella pun langsung menatap Lea dengan ekspresi datarnya.


"Gue bingung mau marah kaya gimana. Kalaupun gue marah, mungkin lu ga ngerti dan ga peduli sih... Yakan?" ucap Daella lalu bersandar di kursi karena merasa kekenyangan. Sebenarnya ia begitu marah dengan Lea atas sikapnya, ia juga berpikir untuk kabur lagi. Namun, ia kembali berpikir dimana ia pergi jika nanti ia kabur lagi dari Lea? Dan juga kemungkinan besar Lea tidak akan diam saja, ia pasti akan terus mencarinya.


Satu hal lagi, suatu perasaan aneh didalam hatinya. Perasaan ini juga yang membuatnya jadi sulit untuk begitu marah kepada Lea. Ia harus memastikan terlebih dahulu apa perasaan yang ia miliki saat ini.


Lea hanya terdiam setelah mendengar Daella berkata seperti itu. Ia bersyukur Daella tidak mengatakan kalau ia membencinya karena perlakuan buruknya. Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak bersikap kasar seperti itu lagi kepada Daella.


"Makasih, saya berterima kasih sama kamu Daella karena kamu ga membenci saya, " ucap Lea. Ia berterima kasih dengan di akhiri senyum tipis tanpa ia melihat ke arah Daella.


Daella yang melihat senyum tipis dari sang Lea pun mendadak wajahnya memerah. Saat itu pula ia langsung memalingkan pandangannya dari Lea sembari membatin S-siapa bilang gue ga benci lu bodoh! apa yang telah terjadi dengan dirinya, pikirnya.


...~...


...Tbc:/...