Radiant Energy/Strahlungsenergie

Radiant Energy/Strahlungsenergie
Bab 28



Untuk pertama kalinya Daella merasakan jatuh cinta kepada seseorang dan untuk pertama kalinya pula ia merasakan sakit yang sangat amat sakit, sampai-sampai membuatnya sulit bernafas. Pikirannya kacau, tidak tahu harus berbuat apa. 


Kemana ia harus pergi? Di mana tempat yang membuatnya tidak bisa di temukan oleh Lea lagi. Ke rumahnya di kota Lübeck? Tidak. Lea sudah pasti bisa menemukannya jika ia kembali melarikan diri kesana. Atau mungkin ke rumah sepupunya nya? Tidak juga. Ia tidak ingin membuat mereka khawatir, sedangkan hanya merekalah sisa keluarga Daella yang sangat menyayangi dan ia sayangi. Oleh karena itu, ia tidak ingin membuat mereka khawatir. 


Daella masih berlari. Gue harus lari kemana?? Batin Daella dengan menangis. Ia terus berlari tanpa arah dan di belakang sana ada Lea juga Garvyn yang sedang mengejarnya. Ada untungnya ia menjadi atlet lari ketika ia masih SMP, sehingga ia bisa membuat Lea juga Garvyn sulit untuk mengejarnya. 


"Daellaa! Tolong berhenti Daella. Aku mohon… " Lea terus berusaha mengejar Daella, memaksa dirinya berlari padahal perut sebelah kanannya sudah kram. Sampai akhirnya, Lea berhenti sejenak sembari memegangi perutnya, ia mencoba mengambil nafas pelan lalu berlari lagi. 


Garvyn masih kuat berlari, ia pun terus berlari dan semakin mendekati Daella. Namun ketika hampir menggapai Daella, tiba-tiba Daella mengambil arah kiri dan asal menyebrang. 


"DAELLAAAA!!!!??? " Lea dan Garvyn menjerit bersamaan. 


TIIIINNNNNN!!!!! seketika itu klakson mobil berbunyi dan hampir saja menabrak Daella, Daella tak peduli dengan ia yang hampir tertabrak, ia menyebrang dan masuk ke gang-gang kecil membuat Lea juga Garvyn kehilangan jejak Daella. Mereka tak sempat mengejar Daella karena beberapa mobil yang masih berlalu-lalang di jalan raya. 


"aaAAAAHKK! Ini semua gara-gara kak Lea! Asal kak Lea tahu, Daella baru aja mau nyatain perasaannya kalau dia udah jatuh cinta sama kak Lea!! Tapi kenapa? Kenapa kak Lea malah.. -aaahhk tauk ah. " Garvyn balik berlari ke arah rumah Lea, ia ingin Lea sendirilah yang mengejar dan menemukan Daella. 


Lea semakin merasa bersalah terhadap Daella setelah mendengar perkataan Garvyn. Daella ingin menyatakan kalau ia sudah mencintainya? Pikir Lea. Itu adalah hal yang paling Lea nanti-nantikan. Namun kenapa di saat waktunya tiba ia justru membuat Daella kecewa. Tak menyerah, Lea kembali berlari dan berusaha mencari jejak Daella. Ia tidak akan pulang sampai bisa menemukan Daella dan membuat Daella percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi. 


Langit di sore hari mulai gelap juga mendung, tak lama dari itu turunlah hujan, membasahi semua yang ada di bawah sana. Daella tak menghiraukan hujan. Kini, setelah merasa tidak ada lagi yang mengejarnya, ia pun mengubah larinya menjadi jalan biasa. 


"Ternyata jatuh cinta itu sakit. Andai gue bisa kaya hujan yang walaupun udah jatuh berkali-kali, mereka ga merasa sakit. Ya kan hujan? "  gumamnya berjalan sambil hujan-hujanan. 


Beberapa orang memperhatikan Daella, tetapi Daella saat ini benar-benar tidak peduli akan hal apapun. Setelah beberapa langkah kemudian, ia menghentikan langkahnya lalu bersandar di tembok sebelahnya. Kemudian ia mengambil handphone di sakunya dan menekan kontak grup. Tadinya ia ingin mengirim pesan tentang apa yang terjadi padanya saat ini. Namun, ia belum siap dan ia pun mengurungkan niatnya. 


Daella pun kembali berjalan menelusuri jalan dengan rintikan air yang masih membasahi tubuhnya. Semua pakaiannya sudah basah, kulitnya pucat dan tubuhnya dingin. Setelah lamanya berjalan dengan hujan-hujanan, tanpa sengaja Daella menemukan sebuah apartemen. Ia pun kesana dan berakhir memesan kamar dengan membayar menggunakan uang cash yang ia miliki. 


Kini Daella berdiri tepat di depan pintu ruangannya. Di saat ia ingin menekan pin ruangannya, ada seseorang yang memanggilnya. Ia pun menoleh ke orang yang tengah berdiri di samping ruangannya tersebut. 


"Daella?? " Zohan begitu terkejut, ketika Daella melihat ke arahnya, ia melihat wajah Daella begitu pucat dan pakaiannya basah kuyup. Terlebih raut wajah Daella yang tampak sedih serta kecewa. Ada apa ini? Pikir Zohan. 


"K-kak Zohan? " ucap Daella dengan suara yang lemas. 


Zohan begitu khawatir melihat keadaan Daella saat ini, ia pun menghampiri Daella dan bertanya apa yang sudah terjadi terhadapnya, kenapa Daella ada di sini. Namun Daella hanya mengatakan tidak ada yang terjadi. Daella pun menekan pin pada ruangannya tersebut lalu masuk setelah ia pamit kepada Zohan. Daella tidak bisa langsung mengatakan apa yang terjadi kepada Zohan. 


Daella pun membuka pintu tersebut. "Kak Zohan? Nico? " Ia melihat Zohan juga Nico berada di depan ruangannya. 


"Kak Daella… " Nico langsung memeluk Daella. Bisa ia lihat kalau Daella sedang sedih dan ia pun ikut merasa sedih, sebab itulah ia memeluk Daella. Daella juga membalas pelukannya. 


Zohan datang ke ruangan Daella untuk memberinya beberapa pakaian seperti hoddie dan celana training untuk Daella pakai. Karena dari yang ia lihat tadi, Daella datang hanya dengan pakaian basah yang ia kenakan itupun pakaian sekolah. Ia sangat yakin pasti ada yang sedang terjadi dan ia menebak kalau ini ada hubungannya dengan pacar Daella. 


Daella pun menerima hoddie tersebut dan sangat berterima kasih dengan Zohan juga Nico. Tak lama dari itu, Zohan mengajak Daella ke ruangannya untuk makan malam bersama kebetulan Zohan masak sedikit banyak. Daella menunduk berpikir sebentar lalu menyetujui ajakan makan malam dari Zohan. Sebelum itu ia berganti pakaian terlebih dahulu, menggunakan hoddie dan celana training berwarna hitam yang Zohan tadi berikan padanya. 


Beberapa saat sesudah makan, Daella duduk sembari melamun. Kemudian ia tersadar ketika Zohan mengatakan sesuatu padanya. "Ada masalah sama pacar kamu? " tanya Zohan, Daella pun mengangguk menanggapi perkataan Zohan. Ternyata benar tebakan Zohan. Melihatnya Nico kembali sedih, andai ia bisa melakukan sesuatu untuk Daella, pikir Nico. 


"Aku ga akan nanya apa masalahnya sampai kamu mau cerita sendiri, tapi kamu jangan sedih terus yah. Aku tau kamu kuat. " Zohan tersenyum terhadap Daella. Melihatnya Daella jadi merasa tenang, ia jadi seperti memiliki seorang kakak dan adik yang sedang mensuport nya. 


Gue sayang sama kalian berdua batin Daella dan ikut tersenyum. Entah mengapa ketika bersama mereka berdua, ia selalu merasa nyaman dan tidak sendiri, seolah-olah mereka keluarganya. Padahal mereka hanya sekedar kakak kelas dan teman seangkatan. 


"Gimana kalau sekarang kita mabar aja? " ucap Nico, ia ingin suasananya berubah menjadi lebih baik dan Zohan pun menyetujui ajakan Nico. 


"Tapi Hp gue mati, belum di charger dan gue gada chargernya, " ucap Daella. Nico pun langsung mengsahut kalau Daella tidak Daella perlu khawatir. Karena Zohan memiliki Handphone cadangan dan Daella bisa memakai handphone tersebut lalu login menggunakan emailnya. 


Akhirnya mereka pun bermain game online bersama, sama seperti terakhir kalinya. Daella sedikit melupakan kejadian hari ini, karena hiburan yang Zohan dan Nico berikan padanya. Ia sangat besyukur bisa bertemu dengan mereka berdua dan mulai saat ini Daella menganggap mereka sebagai saudaranya. Ia tidak akan pernah melupakan mereka berdua di mana dan di kapanpun. 


"Oiya kalian ko bisa di sini? " Daella baru kepikiran ini sangatlah kebetulan bisa bertemu mereka di sini, bahkan mereka tinggal tepat di sebelah ruangannya. 


"Oh.. Kami udah beberapa hari di sini karena rumah kami mau di renovasi, " sahut Zohan masih dengan bermain game di headphone nya. 


Renovasi? Pikir Daella. Seingatnya ketika ia datang kerumah Zohan waktu itu, ia sempat melihat ada ruangan yang sedang di renovasi dan ini di renovasi lagi? Tapi sepertinya kali ini renovasi besar-besaran sehingga membuat mereka harus tinggal di apartemen terlebih dahulu. 


Daella pamit ketika jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi, Lagi-lagi mereka lupa waktu kalau sudah masuk ke dalam zona game. Zohan mengantar Daella sampai Daella benar-benar masuk ke dalam ruangannya. Ia harus memastikan Daella aman dan tidak ada yang menguntitnya. Ia sedikit khawatir dengan Daella yang hanya tinggal sendiri, ia takut sesuatu terjadi. Semoga saja tidak, pikir Zohan. 


...~...


...Tbc:/...