
"D-dae- Daella??? " ucap Violetta yang sudah kembali berdiri lagi. Di saat itu pula ia melihat jelas kalau gadis yang tengah bertengkar untuk menolongnya tersebut adalah Daella.
Setelah Daella berhasil menghajar orang yang sudah melukai wajahnya, ia berlari ke arah Violetta dan langsung menariknya keluar gang dari tersebut. Tibalah mereka di depan apartemen Daella.
"Lu bisa pergi sekarang, " ucap Daella sembari ia yang dengan santainya mengusap darah di wajahnya. Luka di wajahnya tidak dalam.
Violetta masih terdiam, saat ini ia tengah melihat seorang yang telah ia sakiti dan rusak hubungannya, terluka karena menolongnya dari beberapa pria yang hampir saja memperk0s4nya. Apa-apaan ini? Pikirnya. Kenapa Daella mau menolongnya padahal ia sudah jahat terhadapnya.
"Apa yang lu tunggu? Lu ga lagi care sama gue yang terluka ini kan? " ucap Daella lagi melihat Violetta yang belum juga pergi. Di pikirannya, entah apa yang Violetta lakukan sehingga jam segini masih di luar. Sungguh wanita yang ceroboh, terlebih Violetta memakai pakaian seksi dan ketat.
Violetta tertunduk di hadapan Daella yang sedikit lebih tinggi darinya itu. "Maaf, " lirih Violetta.
Seketika Daella menghentikan aktivitasnya. Apa yang barusan gue denger? Maaf? Tch, ga mungkin. Batin Daella. Lalu Violetta pun kembali mengulangi ucapannya.
"Maaf Daella, G-gue salah. Sebenarnya Lea ga pernah selingkuh atau ada nafsu sama gue, tapi gue yang udah ngasih obat perangsang di minuman dia waktu itu, " jelas Violetta masih dengan tertunduk.
Daella begitu terkejut mendengarnya, bahkan ia sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Ternyata ini ulah Violetta? Dan yang Lea ucapkan waktu itu benar? Pikirnya. Ia jadi merasa bersalah karena tidak mempercayai Lea pada saat itu.
"G-gue bener-bener minta maa-!!?? " Violetta terhenti dalam bicaranya ketika ia melihat Daella terluka untuk yang kedua kalinya.
Seorang pria datang dari belakang Daella, ia berlari ke arah Violletta juga Daella sembari memegangi pisau yang sempat melukai wadah Daella di awal. Daella sempat terkejut ketika ia menoleh ke belakangnya sudah ada seseorang yang mengarahkan pisau di mata kirinya. "Ugh!! " Rintihnya. Pisau tersebut berhasil mengenai matanya. Namun beruntung lukanya tidak dalam dan matanya masih aman. Kalau Daella tak cepat menghindar, kemungkinan Daella bisa kehilangan satu matanya.
Daella pula spontan menghalangi Violletta dari pria tersebut. Lalu ia menyuruh Violletta untuk cepat pergi dari sana saat itu juga. Namun Violletta tidak menurut, sejujurnya Violletta masih memiliki hati dan ia ingin membalas budi kepada Daella dengan membantunya.
Dengan tergesa-gesa, Violletta mengeluarkan handphone dari tasnya lalu menelfon polisi. Sebelum polisi datang, sudah ada beberapa orang dari apartemen yang keluar dan membantu Daella setelah mereka mendengar keributan dari depan apartemen.
Daella dan Violletta pun terselamatkan dari pria bersenjata tadi, tetapi ia memiliki banyak luka sayatan pada tubuhnya. Ia tidak fokus saat melawan pria tadi mengingat pernyataan dari Violletta.
Kini pria tersebut telah di tangkap dan di tahan oleh polisi, begitu pula dengan 2 pria yang lainnya. Mereka semua langsung di bawa ke kantor polisi. Pada nyatanya mereka adalah buronan yang memang sudah polisi incar atas perbuatan mereka.
"Daella," panggil Violletta. "Makasih karena udah nolongin gue." lanjutnya sembari membungkukkan tubuhnya di hadapan Daella. Setelah meminta maaf kali ini Violletta mengucapkan terimakasih nya kepada Daella.
Violletta membawa Daella ke rumah sakit untuk mengobati luka Daella dan sudah di setujui oleh Daella, sehingga tidak ada pemaksaan di antara mereka. Ibu, aku udah nuntasin permintaan ibu, aku janji bu, aku ga akan pernah ngulangin perbuatan ku lagi. Isi batin sang Violletta dengan ia yang tersenyum kecil. Senyuman yang terlihat tulus akan ia yang sangat menyayangi ibunya.
Usai sudah pemeriksaan dan pengobatan Daella, lalu Violletta pun pamit untuk pulang. Daella menyuruh Violletta untuk lebih berhati-hati lagi dan Violletta pula mengangguk atas perkataan Daella. Kenapa dia? Batin Daella sembari melihat kepergian Violletta, ia sangat terheran-heran.
Detik itu pula hati Daella merasa lega atas terungkapnya kebenaran. Ia pun memutuskan untuk segera kembali ke apartemennya dan tidur, urusan besok ia pikirkan nanti saja karena ia yang sudah sangat mengantuk. Rasanya sulit sekali untuk membuka mata seutuhnya.
Ketika taxi yang ia numpangi beberapa meter lagi sampai di apartemennya, dari kejauhan sana ia melihat 2 mobil mewah mewarna hitam tengah parkir di depan apartemennya dan ia seperti mengenali mobil tersebut. Setelah sampai ia pun turun dari taxi sembari melihat beberapa orang yang sedang keluar dari apartemen tersebut, tetapi ia belum melangkahkan kakinya ke arah mereka.
Betapa terkejutnya Daella ketika melihat salah satu dari mereka yang sangat ia kenal. "L-lea? " gumamnya pelan. Pada saat itu juga, Lea keluar dari apartemen dengan raut wajahnya yang tampak sedih. Namun tak lama matanya pun tertuju ke arah keberadaan Daella dan melihat Daella yang tengah berdiri di tepi jalan sembari menatapnya.
Seketika Lea tertegun dengan membelalakkan matanya, wajahnya yang masih memerah karena demam semakin memerah dan air mata yang tak tertahan pun mengalir begitu saja. "Daella??!!" ucapnya dan langsung berlari menghampiri Daella, ia pun memeluk Daella seerat-eratnya. Di dalam pelukannya ia meminta maaf sebanyak mungkin dengan tangisnya yang tersedu-sedu.
Pelukan nyaman yang biasa Lea berikan kepada Daella, kembali ia rasakan. Suaranya, aromanya serta kasih sayangnya, ia sangat merindukan hal tersebut. Ia bersyukur kalau kejadian waktu itu murni bukan kemauan Lea. Jika tidak, mungkin ia tidak akan pernah mau merasakan cinta lagi dan lebih memilih untuk sendiri hingga ia mati. Karena cinta itu sangat berbahaya.
Lea melepas pelukannya. "K-kamu kenapa Daella? Kenapa wa-" saat itu pula Daella mengarahkan tangannya ke wajah Lea, ia menatap wajah menangis Lea dari jarak yang dekat.
Tch, badan doang besar nangis kaya bocah batinnya, kemudian ia menghapus air mata Lea dan tersenyum kepadanya. Tak lama dari itu Daella pun terjatuh ke dalam pelukan Lea.
"Daella???!! Ayahhh…!!! " Lea menjerit memanggil ayahnya yang juga ada di sana, ia panik ketika Daella yang tiba-tiba terjatuh ke pelukannya. Ada apa dengan Daella? Kenapa ada perban di wajah dan tangannya, serta pakaian Daella yang memiliki beberapa robekan. Apakah perempuan yang beberapa orang tadi maksud, adalah Daella? Pikirnya. Setelah sebelumnya ia mendengar sebuah gosip di dalam apartemen tersebut.
Inre langsung berlari menghampiri Lea juga Daella, kemudian ia mengecek nadi Daella. Inre menghembuskan nafasnya lega, awalnya ia mengira kalau Daella pingsan. Namun ternyata tidak. Daella hanya tertidur yang mungkin ia mengalami ngantuk berat. Mendengarnya Lea ikut merasa lega, ia pun kembali memeluk orang kedua yang paling berharga di hidupnya tersebut, lalu di bawa pulanglah Daella ke kediaman Paxton bersama ayahnya.
Lea tidak tahu persis apa yang terjadi, tetapi melihat perilaku Daella tadi sepertinya Daella sudah tidak marah lagi dengannya. "Syukurlah… " gumam Lea sembari tersenyum memandangi wajah Daella yang tengah tertidur pulas di pangkuannya. Ia pula mengelus lembut perban di wajah Daella dan berharap luka-luka Daella bisa segera sembuh. Kini Lea, Inre juga beberapa bawahan yang mengarahkan tempat keberadaan Daella tadi, sedang dalam perjalanan menuju kediaman Paxton.
...~...
...Tbc:/...