
Sungguh pagi hari yang indah. Daella bangun dari tidur cantiknya, mendengar kicauan merdu burung-burung di luar jendelanya. Setiap ia bangun tidur, ia akan berolah raga di dalam kamarnya selama beberapa menit untuk merenggangkan otot dan sendi-sendinya.
Well... Setelah ia keluar kamar, ia melihat sosok pria kaya raya yang memiliki segalanya tertidur pulas di sofa yang bahkan tidak muat dengan tubuhnya. Daella hanya menghela nafas melihat pria yang entah bagaimana bisa menemukannya, padahal ia sudah susah payah untuk bisa kabur darinya.
Setelah Daella selesai mandi dan mengenakan pakaian kerjanya, masih ada waktu untuk ia sarapan terlebih dahulu. Ia pun pergi ke dapur dan memasak, memasak apa? Yeah... Memasak mie instan, mie lagi.
Ketika ia sedang terlalu malas untuk memasak, ia pasti akan memasak mie atau telur. Karena menurutnya itu yang paling simpel dan cepat matang.
Tidak ada tempat lain untuk makan selain di sofa yang ada Lea. Rumahnya begitu kecil sehingga ia hanya memiliki dua sofa yang cukup untuknya saja. Singkat cerita ia pun memakan mie sembari ia memainkan handphonenya. Meng-scroll medsos, menonton dan menertawai kelakuan random umat manusia.
Ada aroma yang begitu menusuk penciuman Lea sehingga akhirnya membuatnya terbangun dan melihat Daella sedang menyantap makanan yang tidak sehat di pagi-pagi begini. Ia pun langsung menghampiri Daella dan mengambil mangkuk berisikan mie instan yang tengah Daella santap
Daella yang terkejut, sontak membuatnya melihat ke arah orang yang sudah mengambil makanannya tersebut. Namun, ia malah melihat pemandangan di pagi hari yang begitu merusak penglihatannya.
"KYAAAAAAAAAA!!!!!!" jerit Daella dan langsung menutup matanya setelah melihat Bigdick milik Lea berjarak hanya beberapa jengkal saja dari matanya. Siapa yang tidak syok coba?
Lea yang menyadarinya pun kembali menutupinya menggunakan selimut, ia benar-benar lupa kalau ia masih telanjang. ****! "Maaf Daella, s-saya ga berniat, " ucap Lea.
Daella pun perlahan membuka matanya dan sontak Lea terkejut. Daella menangis, ia melihat air mata keluar dari mata Daella. Ia pun kembali menghampiri Daella, berjongkok dan menanyakan kenapa Daella menangis.
Pake nanya lagi, sialan lu. Gue nangis gara-gara liat harta karun lu yang terlalu deket sama mata gue bodoh! Batin Daella, ia tak menjawab pertanyaan Lea secara langsung.
Yah, mungkin Lea bisa menebak apa yang membuat Daella menangis. Tapi sebegitunya? Pikirnya. Kemudian ia mengusap lembut pipi Daella yang basah karna air matanya. "Sekali lagi maaf Daella," ucap Lea dan bersiap untuk memeluk Daella tetapi Daella langsung menahannya.
Daella bangun dan pergi ke suatu tempat dengan tujuan mengambil baju milik Lea yang kemarin ia keringkan menggunakan mesin cuci. Dilempar nya lah baju tersebut ke arah Lea. "Nih, pake. Sial mata gue udah ternodai dua kali. " Daella kembali duduk sembari memijat keningnya. Lea pun memakai pakaiannya dengan santai di depan Daella yang sedang menunduk.
Di waktu Daella menunduk, tak sengaja matanya tertuju pada jam di handphonenya, sudah waktunya ia berangkat kerja. Ia pun membereskan mie yang tidak di lanjutnya makan itu ke dapur dan segera mengambil tas dari dalam kamarnya.
Lea melihat Daella terburu-buru, sepertinya ia akan pergi lagi. Pergi yang ada di pikirannya ialah pergi kabur darinya. Ketika Daella hendak membuka pintu, Lea segera menahan Daella dan bertanya kemana dia akan pergi.
Daella mengerutkan alisnya dan memberitahu kalau ia harus segera berangkat kerja, ia hampir telat. Namun, Lea masih menahan Daella dengan terus menggenggam tangannya Kerja? Pikirnya. Kenapa dia bekerja? Seharusnya dia bersekolah menuntut ilmu bukanya malah bekerja.
Sampai beberapa saat mereka masih beradu mulut. Lea yang ingin Daella kembali ke rumahnya dan bersekolah, selalu dibantah dengan Daella yang ingin tinggal sendiri jauh darinya dan bekerja. Hal itulah yang perlahan membuat kesabaran Lea semakin menipis dan sulit untuk berkata lembut seperti sebelumnya.
"Saya ga mau kamu keluar dari rumah saya Daella dan saya mau kamu terus ada disisi saya!" serunya dan seketika Daella terdiam melihat ia meninggikan suara padanya.
What the-??
Tak lama dari itu, sebuah motor mewah datang dan berhenti tepat di depan rumah Daella. Dia adalah bawahan Lea yang sebelumnya sudah di beri perintah oleh Lea. Tanpa basa-basi lagi, Lea langsung menggendong paksa Daella untuk membawanya ke atas motor, lalu menuju mobilnya yang berada di depan gang.
Sesekali Daella berontak mencoba melepaskan diri dari Lea, tetapi tidak bisa. Sampai akhirnya ia pun masuk ke dalam mobil tersebut bersama dengan Lea. Apa yang sebelumnya ia pikirkan tentang Lea ternyata benar, semua sudah terbukti dengan sikapnya saat ini.
Saat itupun ia mengingat perkataan Lea kemarin tentang pengakuan cinta kepadanya. Kalau yang di ucapnya kemarin itu sungguhan, maka cinta yang ia miliki itu sudah menjadi obsesi. Ah, ia tidak tahu. Ada yang bilang kalau cinta sudah pasti obsesi dan ada juga yang bilang kalau cinta bisa berubah menjadi obsesi.
Apapun itu, pria macam apa yang sudah mencintainya saat ini. Ia bisa saja bersikap lembut tetapi juga bisa kasar seperti sekarang. Menuju panjangnya perjalanan, Lea sampai bertindak untuk mengikat kedua tangan Daella supaya ia tidak berontak.
"F*ck! Oh ini yang lu mau? Jadi lu-"
"Karl," selanya. Lea mengulurkan tangannya terhadap Karl bermaksud meminta sesuatu yang sudah Karl bawa dan siapkan. Sebuah suntikan yang telah di isi dengan suatu obat. Lea pun bersigap untuk menyuntikkan obat tersebut kepada Daella.
"W-woii, apa itu? L-lu mau ngapain?? " tanya Daella panik ketika Lea mengarahkan suntikan di lehernya.
"Shutttt..." kini semua obat itu sudah masuk kedalam tubuh Daella dan mulai memberi efek. Perlahan kepalanya menjadi pusing dan penglihatannya mulai kabur, tak lama dari itu pun Daella jadi tak sadarkan diri.
"Sungguh obat yang manjur, " Gumam Lea kepada Karl dan Karl pun langsung melajukan mobil mereka. Semua sesuai prediksi Lea dan berjalan dengan lancar. Ia sudah menebak kalau Daella tipe orang yang berontak dan tidak mudah untuk bisa membawanya kembali ke rumahnya. Tidak sia-sia ia sampai hujan-hujanan kemarin bahkan sampai jatuh sakit.
...~...
...Tbc:/...