Radiant Energy/Strahlungsenergie

Radiant Energy/Strahlungsenergie
Bab 11



Sekitar pukul 16.46 Lea terbangun dengan kondisi kepalanya yang masih sedikit sakit akibat mabuknya semalam lalu ia memijat pelan kepalanya guna meredakan sakit. Ia tidak bisa mengingat apa saja yang telah terjadi semalam, kecuali ia yang mabuk-mabukan.


Ia pun beranjak bangun dari kasurnya dan pergi mengarah ke kamar Daella. Disana ia mendapati pintu kamar Daella yang terbuka dan sunyi didalamnya. Kemudian ia berpikir apakah Daella melarikan diri lagi darinya?


Tak lama dari Lea yang berpikir seperti itu, datanglah Karl yang melihat Lea sedang berada di dalam kamar Daella. Saat itu juga Karl langsung memberitahu Lea kalau Daella sedang bersekolah. Lea pun menoleh ke arah sumber suara dan seketika itu menghembuskan nafasnya lega.


"Karl, ada yang mau saya tanyakan sama kamu, " ucap Lea. Karl bisa menebak apa yang akan Lea tanyakan padanya, sehingga ia pun sudah menyiapkan jawabannya.


Lea bertanya pada Karl apa yang ia lakukan ketika ia mabuk semalam? Apa ia melakukan sesuatu yang sama seperti saat mabuk pertamanya dulu? Karl hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, membuat Lea heran dan penasaran. Karl pun mengatakan kalau Lea tidakĀ  melakukan hal yang lebih buruk karena berhasil dicegah Daella.


Mendengarnya, Lea langsung senang. Ternyata Daella membantunya untuk tidak melakukan hal buruk saat mabuk. "Benarkah? " tanya Lea terhadap Karl dengan wajah berseri-serinya.


"Tapi tuan..." ucap Karl, tetapi sempat di jedanya. Seketika wajah yang berseri-seri itu pun perlahan memudar ketika Karl ingin mengatakan suatu hal lainnya. Karl menarik nafasnya pelan "Tuan mencium nona Daella, " lanjutnya.


Sontak Lea begitu terkejut tak percaya dan ia bertanya lagi kepada Karl, apakah setelah itu Daella marah dengannya? Karl hanya menjawab kalau Lea harus melihat dan memastikan nya sendiri. Setelah itu pun Karl pamit undur diri untuk ikut menjemput Daella bersama sang supir.


Kebanyakan sekolah di Jerman mulai pada pukul 08.00 pagi s/d 17.00 sore untuk sekolah menengah atas, sedangkan sekolah menengah pertama sampai pukul 16.00 dan untuk sekolah dasar hanya sampai 13.00 atau 14.00 siang.


Kini sudah jamnya Daella pulang sekolah dan Karl juga sang sopir sudah berada didepan gerbang sekolah. Mereka masih menunggu Daella yang belum juga keluar dari gedung sekolah. Ia tidak sedang berencana untuk melarikan diri lagi kan? Pikir Karl.


Karl yang tidak ingin hal itu terjadi pun menyusul Daella ke dalam gedung sekolah dan sesampainya ia di loby ia melihat Daella sedang duduk bersama dengan teman laki-lakinya yang tengah babak belur. Ia pun menghampiri Daella juga temannya itu.


"Nona, sudah waktunya pulang, " ucap Karl. Namun, Daella memintanya untuk menunggu beberapa saat lagi sampai kakak dari siswa yang bersamanya itu keluar dari ruang BK.


Karl tidak mengerti, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa harus Daella yang menemani siswa itu? Karl hanya bisa menurut, kemudian ia duduk disebelah Daella dan bertanya apa yang sudah terjadi, lalu Daella pun menceritakannya.


Sebelumnya, tepat pada istirahat kedua. Daella begitu bosan menghambiskan waktunya hanya dengan memainkan handphone di dalam kelas. Bukannya ia tidak ada teman, hanya saja terkadang ia malas untuk keluar kelas dan saat ini tibalah ia yang merasa bosan.


Ia mencari beberapa temannya tadi, tetapi mereka entah sedang dimana ia tidak melihatnya. Akhirnya ia pun berjalan sendiri, menelusuri beberapa lorong sekolah hanya untuk jalan-jalan saja.


Ditengah perjalanannya Daella iseng ingin pergi ke suatu tempat yakni belakang sekolah, karena ia penasaran. Namun, ketika tiba disana ia mendengar beberapa suara siswa laki-laki yang seolah sedang mengejek atau memaki dan terdengar juga suara pukulan beberapa kali. Ia sontak menghentikan langkahnya, ia takut itu sebuah pembullyan atau semacamnya dan ia sangat membenci akan hal itu.


Benar saja, ketika Daella mendekati sumber suara ia melihat beberapa siswa sedang mengeroyok seorang siswa lainnya hingga babak belur. Disekolah elit seperti ini masih ada pembullyan? Pikir Daella. Tak segan-segan ia langsung menghampiri para siswa itu tanpa rasa takut.


Daella sempat melirik kearah siswa yang sudah terbaring lemas karena dikeroyok dan kembali melirik kearah siswa lainnya. Kini ia dikelilingi oleh beberapa siswa itu, tetapi ia tak gentar dan tetap memasang wajah tegasnya. Sungguh siswi yang pemberani bukan?


Satu tendangan Daella luncurkan tepat pada kelamin dari salah satu mereka. Mereka yang melihat aksi Daella menerjang teman mereka pun langsung menyerang Daella secara bersamaan. Kalian tahu? Semua serangan amatir mereka ditepis dan dihindari Daella dengan begitu mudahnya.


Beberapa pukulan dan tendangan kembali Daella luncurkan kepada mereka, sampai tibalah 1 orang lagi yang merupakan kakak dari siswa yang sudah babak belur tadi.


Siswa itu begitu terkejut ketika melihat adiknya sudah babak belur dan tergeletak di lantai. Seketika amarahnya melonjak naik dan menyuruh Daella untuk menepi, sehingga ia pun langsung menghajar habis-habisan beberapa siswa tersebut.


Daella sempat terkesima dengan siswa yang baru tiba itu, ia terlihat begitu keren saat berkelahi. Namun ia segera mengalihkan pandangannya dan membantu siswa yang tengah babak belur tadi untuk membawanya ke UKS dan melaporkan apa yang sudah terjadi, sehingga guru kesiswaan pun segera bertindak.


Itulah yang membuat kakak dari siswa yang babak belur tadi berada diruang BK bersama dengan beberapa siswa lainnya.


Nico Ooberen lah yang tadi tengah dikeroyok sampai babak belur. Ia mengatakan kepada Daella kalau penyebab ia dikeroyok karena ia yang tak sengaja menyenggol mereka ketika sedang berjalan, sehingga itulah yang membuat mereka marah. Daella begitu kesal mendengar pernyataan dari Nico, betapa bajingannya mereka.


Nico dan kakaknya adalah siswa yang baru pindah kemarin. Mereka pindahan dari kota Wirges, sebuah kota di Westerwaldkreis di Rhineland-Palatinate, Jerman. Berjarak sekitar 21km dari kota Bad Ems. Nico merupakan siswa seangkatan dengan Daella yakni kelas 1 sedangkan kakaknya kelas 2 yang merupakan kakak kelasnya Daella.


Karl begitu terkejut mendengar Daella yang ternyata habis berkelahi, ia begitu mengkhawatirkan Daella karena Daella seorang gadis. Sangat asing di telinganya mendengar seorang gadis berkelahi dengan laki-laki. Apalagi itu bukan hanya 1 orang melainkan 5. Pikirnya bagaimana jika Lea mengetahui hal ini? Ia pasti akan menasihati Daella.


Setelah lamanya menunggu, orang yang ditunggu pun akhirnya timbul. Nico yang menyadari pun langsung memeluk kakaknya, ia begitu manja dengan kakaknya. Zohan, yang merupakan kakak dari Nico berterimakasih kepada Daella karena telah menolong adiknya dari para pengeroyok.


"Sekali lagi makasih ya, " ucap Zohan sembari mengalihkan pandangannya dari Daella dengan tangan yang memegangi belakang lehernya, hal itu menandakan kalau ia sedang gugup.


"Santai aja kak, " sahut Daella dengan menepuk bahu kiri Zohan, ia begitu friendly dengan Zohan. Kemudian ia pun pamit untuk pulang lebih dulu karena hari yang sudah semakin sore. Namun, saat ia ingin melangkahkan kakinya Nico sempat menarik tasnya dan membuatnya terhenti.


Daella terkejut ketika Nico yang tiba-tiba saja memeluknya sembari berkata "Aku fans mu kak. " Fans? Pikir Daella dan kenapa Nico memanggilnya 'Kak' sedangkan mereka seumuran. Ia pun melarang Nico untuk memanggilnya seperti itu, tetapi Nico tetap kekeh dan akan terus memanggilnya seperti itu.


Well... Nico juga terlihat seperti bayi jadi sepertinya tidak terlalu masalah jika Nico memanggilnya 'Kakak' terlebih ia pernah memiliki keinginan untuk memiliki adik laki-laki yang imut. Daella pun membalas pelukan Nico sebagai adiknya, setelah itu barulah ia pamit dan mereka saling melambaikan tangan.


...~...


...Tbc:/...