
Dikediaman Lea tepatnya di meja makan, Daella dan Lea sedang makan malam bersama di meja yang amat besar juga panjang serta beberapa hidangan tersaji di atasnya. Sebelumnya, Daella berpikir kalau Lea akan marah karena ia yang telat pulang sekolah. Namun ternyata tidak, syukurlah. Sehingga Daella pun bisa makan dengan tenang.
"Daella, " panggil lembut Lea setelah ia menghabiskan makanannya lebih dulu kebanding Daella. Daella merespon panggilan Lea, tetapi tanpa melihat ke arah Lea dan terus menyantap makanannya. "Maaf karena sudah mencium kamu waktu saya sedang mabuk, kamu pasti marahkan? " lanjut Lea.
Daella tertegun dan seketika menghentikan aktivitas nya. Wajahnya memerah, ia bingung harus mengatakan apa terhadap Lea. Karena sesungguhnya ia tidak marah setelah kejadian itu. Pikirnya, bukankah Karl sudah berjanji untuk tidak menceritakan tentang kejadian malam itu? Yakan? Karena sulit untuk orang yang mabuk berat bisa mengingat kejadian selama mereka mabuk.
"K-ko lu bisa tau si?" tanya Daella balik, Lea pun menjawab kalau ia mengetahui hal itu dari Karl. Karl sialan batin Daella.
Ternyata Karl memang sengaja mengingkari janjinya, ia sungguh orang yang tidak bisa diajak kerja sama. Daella menyesali telah mempercayai Karl. Sudah jelas-jelas Karl tangan kanan Lea, jadi tidak mungkin ia menyembunyikan sesuatu dari Lea.
Disaat Daella yang sedang kebingungan harus mengatakan apa atas perkataan Lea sebelumnya, ia justru dibuat semakin bingung dengan perkataan Lea selanjutnya.
"Daella, mungkinkah kamu mulai ada perasaan untuk saya? " tanya Lea dengan PD-nya, melihat dari sikap Daella akhir-akhir ini.
F*ck! Bisa-bisanya ni orang mikir gitu "G-gue ga tau, " sahut Daella. Ia harus jawab apa? Jawaban mana yang harusnya ia ucapkan? Sejujurnya ia masih belum mengerti dengan perasaannya. Namun, mungkinkah perasaan aneh akhir-akhir ini adalah perasaan suka?
Selama ini Lea tidak pernah meragukan sesuatu yang telah dikatakan hatinya dan saat ini hatinya mengatakan kalau Daella mulai menyukainya. Walaupun pun itu sedikit sudah cukup membuatnya bahagia. Kemudian Lea pun tersenyum di hadapan Daella sembari berterima kasih.
Kenapa Lea berterima kasih dengannya? Padahal ia belum memberi penjelasan tentang perasaannya, pikir Daella. Lea seolah-olah mengetahui bagaimana perasaan Daella yang sebenarnya. Degupan kencang dari jantung Daella mulai ia rasakan, setelah melihat senyuman yang begitu tulus terukir di wajah tampan Lea untuknya yang bahkan belum pernah tersenyum sekali pun kepada Lea.
Daella tertunduk, ia merasa tidak adil untuk Lea. Kenapa Lea bisa begitu mencintai orang yang mungkin saja tidak mencintainya. Itu sungguh bukan sesuatu yang adil untuk Lea. Tak lama dari itu Daella pun mengatakan sesuatu yang membuat Lea tertegun karena tak menyangka.
"Sama-sama," ucap Daella atas terimakasih Lea kepadanya dan ia pun memutuskan untuk membalas senyuman Lea.
Saat itu juga seorang Lea seperti ingin menangis lagi setelah melihat Daella tersenyum dengannya. Ia semakin tidak menyerah untuk membuat Daella jatuh cinta dengannya dan memilikinya seutuhnya. Bahkan jika ia matipun, ia tidak akan pernah melepaskan Daella.
"Daella kamu tahu? Semalam saya bisa semabuk itu karena saya memikirkan apa yang ayah saya katakan kepada kamu, sehingga kamu terlihat sedang marah dan menghindari saya. Saya ga mau kamu melakukan itu Daella. " Lea menjelaskan penyebab ia mabuk.
Dia salah paham batin Daella. "Tapi gue lagi ga marah atau ngehindarin lu ko, gue cuma-" Daella tak melanjutkan perkataannya karena ia hampir saja keceplosan.
Lea pun bertanya-tanya kenapa Daella tidak melanjutkan perkataannya? Ia begitu penasaran sebenarnya apa yang sudah ayahnya katakan. Untuk mengalihkan topik, Daella pura-pura Mengaduh karena sakit di pergelangan tangannya, sehingga Lea pun bertanya ada apa dengannya dan tidak jadi bertanya tentang ucapan yang tidak ia lanjuti.
Daella mengatakan kalau pergelangan nya sedang keseleo akibat ia berkelahi disekolah. Namun ternyata Daella salah dalam mengambil langkah. Setelah mengetahui Daella yang habis berkelahi, Lea begitu syok dan bertanya-tanya siapa yang sudah berani berkelahi dengan Daella.
"Omg... Gadis macam apa dia ini tuhan? " gumam Lea sembari memijat keningnya. Betapa beraninya Daella berkelahi dengan 5 orang laki-laki, bagaimana jika dia kenapa-kenapa? Bagaimana jika ternyata diantara mereka ada yang membawa senjata tajam? Beberapa pertanyaan terus Lea lontarkan kepada Daella.
Daella meminta Lea untuk tenang, karena sesungguhnya ia sudah terlatih menyangkut hal-hal seperti itu. Ia pun menceritakan kepada Lea kalau ia pernah dilatih silat oleh sepupunya untuk melindungi diri, setelah ia mengatakan bahwa ia ingin tinggal mandiri ketika masuk sekolah menengah pertama.
Namun Lea tetap saja khawatir, mereka itu laki-laki bukan perempuan dan permainan laki-laki itu berbeda dengan perempuan. Begitu juga dengan fisik dan daya tahan mereka. Ah, Daella sungguh kesal, ia jadi dinasehati habis-habisan oleh Lea.
"Okey, okey. Gue ngerti dan gue ga akan ngulangin lagi ko. Jadi lu bisa stop nasehatin gue kan? " Di mata Daella, Lea lebih seperti kakak angkatnya. Sudah lama ia tidak merasa diperhatikan seperti ini semenjak ia memutuskan untuk tinggal sendiri. Kalau dipikir-pikir om, tante dan sepupunya belum mengetahui situasi ia sekarang.
****! Gue lupa sama mereka, gue harus ngomong apa tentang ini ke mereka? Batin Daella yang tiba-tiba saja teringat dengan kerabatnya. Ia pun berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat tentang kebersamaannya dengan Lea.
Lea yang melihat Daella seperti sedang bingung dan bergumam sendiri di dalam hatinya pun bertanya apa yang sedang Daella pikirkan. Daella pun memberitahu apa yang sedang ia pikirkan itu. Benar, Daella masih memiliki kerabat, pikir Lea dengan memasang wajah sedih. Ia menginginkan Daella hanya memiliki ia seorang, tetapi ia juga tidak boleh egois kalau ia menginginkan Daella jatuh cinta dengannya.
"Saya yang akan menjelaskan kepada mereka, " ucap Lea dengan tiba-tiba. Daella bertanya-tanya apa yang akan ia jelaskan kepada kerabatnya? Apakah ia akan berbohong? Atau justru sebaliknya dan mengatakan hal yang sesungguhnya terjadi. Namun, apapun itu memang sudah seharusnya untuk ia bertanggung jawab.
Kita lihat apa yang akan Lea katakan pada kerabatnya, itulah gumam Daella. Setelah cukup lama berbicara dimeja makan, Lea pun tumben-tumbenan pamit lebih dulu dan mengatakan kalau ia ada urusan dikediaman ayahnya.
Namun, sebelum Lea pergi ia sempat menghampiri tempat Daella duduk. Daella hanya diam saja karena tidak tahu apa akan Lea lakukan, sampai tibalah Lea yang menggapai wajahnya, mendekatkan bibirnya di kening Daella lalu mengecupnya dengan lembut sembari berkata "Aku pergi dulu. " setelah itu, tanpa basa-basi lagi Lea pergi begitu saja.
Daella tertegun, wajahnya memerah setelah apa yang baru saja terjadi. "Aku? " gumam Daella setelah mendengar Lea berbicara menggunakan kata 'Aku' dari yang biasanya 'Saya'
Lea juga sering berbicara acak-acakan, yang dimaksud dengan acak-acakan adalah ia yang berbicara formal tetapi di campurnya dengan informal. Entah itu memang cara bicaranya atau mungkin kebiasaannya. Entahlah, Daella tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal yang tidak penting.
Daripada memikirkan hal sepele, lebih baik ia bermain biola diruang musik yang pernah ia datangi. Setelah lelah bermain musik, barulah ia pergi ke kamarnya untuk tidur dan menanti mimpi indah.
...~...
...Tbc:/...
...Note : kalau kalian perhatiin, beberapa dialog Lea memang dicampur antara formal dan informal....