
Pukul setengah 6 pagi, Garren, Garvyn, Garson dan Karl tengah menanti-nanti kepulangan Lea juga Inre di kediaman Paxton. Mereka di minta kesana setelah mendapat kabar tentang Lea yang telah menemukan Daella dan segera membawanya pulang. Mereka jadi tidak sabar, pikir mereka kalau Daella berakhir mau di ajak pulang oleh Lea berarti Daella telah memaafkan Lea dan mungkin Inrelah yang telah menjelaskan semua kebenaran kepada Daella.
Beberapa saat kemudian 2 mobil mewah mewarna hitam memasuki area kediaman Paxton. Kemudian mobil itu berhenti dan dari salah satu mobil tersebut keluarlah Lea dengan menggendong Daella, di susul Inre serta para bawahan mereka.
Si kembar dan Karl juga beberapa pelayan pun langsung menyambut kedatangan mereka. Namun satu hal membuat mereka bertanya-tanya tentang kondisi Daella. Di mana Daella seperti tak sadarkan diri serta tangan dan wajah Daella yang di balut perban. Belum lagi baju Daella yang robek menunjukkan seperti bekas sayatan pisau.
Garvyn sangat panik setelah melihat hal tersebut ia pun memutuskan untuk bertanya kepada Lea. "Kak, Daella? Dia kenapa? Kenapa ada perban di wajah sama tangannya? " ucapnya sembari membuntuti Lea. Namun pertanyaannya tak dihiraukan oleh Lea, justru ia mendapati Lea yang seperti orang gila dengan terus tersenyum sembari berjalan menuju kamar.
Melihatnya membuat Garren ikut bertanya, tetapi ia bertanya kepada Inre dan jawaban Inre pun menyuruhnya untuk mendengarnya langsung dari Daella nanti. Garren dan saudara kembarnya pun di buat kebingungan, tetapi ya sudah lah. Nanti juga mereka akan mendapatkan jawabannya, pikir mereka.
Kini Daella telah berada di sebuah kamar dan sangking mengantuknya, ia tak bangun ketika beberapa pelayan menggantikan pakaiannya. Di dalam tidurnya yang pulas ia mendapati sebuah mimpi akan sesuatu.
Daella,
"Suara ini? "
kebahagiaan akan datang ke dalam hidupmu nak,
tetapi pasti akan ada saja ujian untuk hal tersebut.
"Suara ayah! Ayah? Ayah dimana? "
Namun kamu jangan khawatir, karena kamu memiliki ayah yang akan selalu mencintai dan menyayangi mu, serta Aura yang kelak akan menolongmu.
"Aura?? "
Berbahagialah nak, dan maafkan ayah yang tidak bisa menemani mu hingga kamu dewasa.
"T-tunggu ayah, ayah? Ayah?? "
"Ayahh??!! " Daella terbangun dari tidurnya dengan setetes air mata yang mengalir dari mata kanannya. Aura? Batinnya kemudian. Tak lama dari itu ia melirik ke setiap sudut ruangan yang terlihat asing baginya.
Terdengar suara langkah kaki yang melangkah dengan cepat menuju kamar tempat Daella berada, lalu terbukalah pintu dengan keras. "Daella???!!! " ucap Lea lalu menghampiri Daella yang tengah duduk di atas kasur. Terlihat pula bekas air mata yang mengalir di pipi Daella. Ia pun langsung memeluk Daella walaupun ia belum tahu penyebab Daella menangis.
"Gue gpp, " sahut Daella, kemudian Lea bertanya mengapa Daella menangis dan Daella pun menjawabnya kembali dengan mengatakan kalau ia memimpikan ayahnya yang telah lama meninggal, ia juga tidak menyadari kalau ternyata ia tadi menangis.
Lea melepas pelukannya "Daella, " panggil Lea pada Daella, ia sedikit menundukkan pandangannya. "Tentang kejadian waktu i-"
"Ga perlu dilanjutin, gue udah percaya sama lu ko. " sela Daella dengan cepat, ia mengangkat wajah Lea dan mengarahkan pandangan Lea lurus ke matanya. "Justru seharusnya gue yang minta maaf, maaf karena waktu itu gue ga percaya sama ucapan lu dan bertindak semaunya. "
Lea di buat Daella tidak bisa berkata-kata, seketika matanya berkaca-kaca disertai dengan wajahnya memerah. Ingin sekali rasanya Lea mencium Daella saat itu juga. Namun mungkin waktunya belum tepat. Akhirnya Lea lega karena Daella yang tidak jadi memutuskan dirinya, ia pun menyandarkan kepalanya di bahu kecil milik Daella.
Singkat cerita di sebuah ruang tamu yang berisikan Daella, Lea, Inre, si kembar juga Karl yang berdiri di samping Lea. Walaupun Karl hanya seorang tangan kanan Lea, tetapi ia berhak ikut serta dengan mereka karena ia juga memberikan salah satu bukti perbuatan Violletta.
Di saat itu salah satu dari si kembar yakni Garren, menjelaskan kalau hasil tes yang ia selidiki tentang minuman yang Lea minum itu mengandung obat perangsang. Garren juga menjelaskan kepada Daella tentang rekaman vidio CCTV tersembunyi di dapur rumah Lea, lalu Garren pun menunjukkan vidio tersebut kepada Daella agar tingkat kepercayaan Daella mencapai 100%
Ternyata Violletta bener-bener mengakui kesalahannya batin Daella setelah mendengar semua penjelasan dari Garren yang sama persis seperti pengakuan Violletta. Daella pun buka bicara kepada semua orang yang berada di ruang tamu tersebut. Ia mengatakan kalau ia sudah tau kebenarannya dari pengakuan Violletta semalam. Mereka begitu terkejut, Violletta? Mengakui kesalahannya kepada Daella? Pikir mereka, termaksud Lea juga Inre.
Setelah itu Daella menjelaskan perihal perban di wajah dan tangannya. Ia mengatakan semuanya dari awal Daella bertemu Violletta di jam 3 pagi, ia yang terluka, pengakuan Violletta, hingga Violletta yang mengantarnya berobat ke rumah sakit.
"Jadi- " ucap Lea yang belum terselesaikan sudah diangguki oleh Daella. Lea dan Inre pun saling tatap-menatap usai mendengar penjelasan dari Daella, mereka seperti percaya tak percaya akan hal tersebut. Pada akhirnya mereka sama-sama penasaran dengan perubahan Violletta.
Satu hari sebelumnya…
Violletta mendapat telefon langsung dari sang pemilik perusahaan yakni, Inre Paxton. ia tidak tahu mengapa Inre sampai menelfon nya, hal penting apa yang akan Inre katakan kepadanya? Pikir Violletta.
"A-apa pak??!! Ha-?? " Violletta mendapat kabar yang tidak enak di dengannya, di mana Inre mengatakan kalau Violletta dipecat dari perusahaannya. Inre juga mengatakan untuk Violletta tidak mendekati Lea lagi. Setelah itu pun Inre langsung mematikan telefon nya.
Violletta bergumam kesal tentang ia yang baru saja di pecat. Padahal ia suka bekerja di sana karena ia diupah dengan jumlah yang memuaskan. "Apa pak Inre udah tau kalau gue udah ngerusak hubungan anaknya? Makanya pak Inre sampai langsung mecat gue dan nyuruh gue ngejauh dari Lea, ah sialnya, " ucap pelan Violletta tetapi masih terdengar oleh wanita paruh baya yang tengah berdiri di belakangnya.
Sontak wanita tersebut begitu terkejut, tak percaya mendengar anaknya melakukan hal yang tak sewajarnya seperti itu. "Apa yang udah kamu lakukan Vio? " ucap sang wanita, ia adalah ibu kandung dari Violletta.
Violletta pun langsung menoleh ke arah ibunya. "I-ibu? A-aku, aku bisa jelasin bu. Itu ga seperti yang- !!?? " seketika Violletta terdiam ketika sang ibu menampar nya untuk yang pertama kalinya. Ia memegang sebelah wajahnya yang di tampar sang ibu dan perlahan menunduki pandangannya.
Ibunya sangat kecewa mengetahui Violletta melakukan hal yang serupa, seperti yang almarhum adik perempuan nya lakukan. Di mana dulu adik perempuan Violletta melakukan hal tersebut kepada laki-laki yang sangat ia cintai yang ternyata laki-laki tersebut merupakan suami orang. Yeah, adik perempuan Violletta dulu merupakan seorang pelakor dan ia berakhir meninggal di bunuh oleh istri dari laki-laki yang ia cinta itu.
Sebab itulah ibu Violletta begitu marah setelah mengetahui apa yang telah Violletta lakukan. Ia tidak ingin anaknya yang hanya tinggal Violletta seorang berakhir sama seperti adiknya. Sungguh ia tidak ingin hal tersebut terjadi untuk yang kedua kalinya.
Sang ibu pun meminta Violletta untuk meminta maaf dan mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada orang yang telah ia rusak hubungannya tersebut. Semenjak hari itu Violletta selalu di cuekin oleh ibunya dan enggan untuk berbicara dengannya. Violletta pun jadi merasa bersalah yang amat tinggi terhadap ibunya, Lea juga Daella. Ingin rasanya ia cepat-cepat bertemu dengan Daella dan mengakui kesalahannya, serta meminta maaf kepada mereka. Namun sekarang saja ia tidak tahu di mana keberadaan Daella.
Tibalah di malam hari, Violletta ketiduran di sebuah kaffe outdoor karena merasa lelah akibat mencari pekerjaan baru. Ia tertidur hingga kaffe tersebut tutup, lalu terbangun pada pukul setengah 3 pagi. Menyadari akan hari yang sudah kelewat larut, ia pun memutuskan untuk pulang. Namun ia ingin sedikit berjalan kaki dan mencari angin terlebih dahulu sebelum ia memesan taxi.
Semakin jauh ia melangkahkan kaki, semakin ia merasa takut juga. Karena suasana pagi itu begitu sepi tidak ada orang yang berada di luar kecuali dirinya, bahkan jalan raya pun sunyi dengan tidak adanya kendaraan yang berlalu-lalang. Ia pun memutuskan untuk segera memesan taxi. Namun di tengah ia yang sedang memainkan handphonenya, datang 3 pria asing dan langsung membekap nya lalu membawanya ke tempat gelap dan sepi.
Di sana ia mencoba menjerit minta tolong berharap akan adanya seseorang yang menolongnya dari para pria cabul tersebut. Setelah beberapa kali menjerit, jeritan nya pun tersampaikan kepada Daella yang berakhir menolongnya.
...~...
...Tbc:/...