
Mendengar namanya terpanggil, Lea pun menghentikan aksinya lalu menoleh ke arah sumber suara. Di saat itulah ia tersadar dan terkejut melihat Daella yang tengah berdiri memandangi nya dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia kembali melihat ke arah wanita yang kini berada di bawahnya tersebut, bukan Daella melainkan Violetta. Lalu ia pun beranjak bangun dari posisinya awalnya. Apa yang telah ia lakukan? Pikirnya.
Perasaan yang sesak dan air mata yang ingin keluar adalah keadaan Daella saat ini, tetapi ada amarah yang lebih menguasainya. Ia berjalan menuju Lea dan Violetta berada. Ketika ia mengabaikan Lea dan terus berjalan mendekati Violetta, di situ Violetta terlihat ketakutan terhadapnya.
Di sisi lain, Lea dari belakang Daella berusaha mengatakan kalau semua itu bukanlah kemauannya. Ia mengatakan kalau ia mengira Violetta tadi adalah Daella dan ia juga mengatakan kalau tadi ia merasakan ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Namun, Daella benar-benar tak menghiraukan Lea. Daella terus berjalan mendekati Violetta.
Tak lama matanya melirik kearah bibir Violetta yang sedikit berdarah, serta bajunya yang terbuka 3 kancing menunjukkan beberapa tanda merah dan gigitan di leher juga area dada Violetta. Lalu ia kembali melirik wajah mulus Violetta. "Kenapa mundur? Takut? " ucapnya terhadap Violetta yang terus berjalan mundur untuk menghindarinya. Hingga akhirnya Violetta terpojok di sofa dan membuatnya tidak bisa mundur lagi.
"G-gue korban! Kenapa malah gue yang-!! " Sebuah suara nyaring terdengar, mengisi ruangan dan menyela perkataan Violetta. Suara itu adalah suara tamparan dari Daella yang mendarat tepat di wajah mulus Violetta, ia sampai terpental ke arah sudut meja dan membuat kepalanya terbentur hingga berdarah. Ia pun mengerang kesakitan sembari memegang kepalanya.
Kemudian Daella kembali buka bicara, tetapi perkataannya kali ini tertuju untuk Lea. "Gue mau putus, " ucapnya dengan nada datar.
Semua yang mendengar perkataan Daella barusan, seketika terkejut, terutama Lea. "A-apa? E-engga-engga. Aku ga mau Daella. Aku ga mau kita putus dan aku ga bisa lagi kalau harus pisah serta jauh dari kamu Daella. " Sangking tidak inginnya putus dan jauh dari Daella, Lea sampai berlutut di hadapan Daella. Ia memohon maaf atas segalanya dan lagi, ia mengatakan kalau semua itu bukanlah kemauannya. Jikalau dari awal ia tahu perempuan yang ia cumbui tadi bukalah Daella, ia tidak akan pernah melakukan hal tersebut.
Omong kosong. Lu pasti udah nahan nafsu lu dari lama, karena lu ga bisa nahan lagi, akhirnya lu milih cewe lain yang lebih cantik dan mau ngelayanin nafsu tinggi lu itu. Batin Daella, ingin rasanya ia ungkapan hal tersebut kepada Lea.
Salah, harusnya dari awal gue ga usah percaya sama dia. Pada nyatanya, Laki-laki yang katanya tulus pun bisa kalah sama nafsunya. Lanjutnya lagi. Di saat itulah ia mengerti atas perasaan sakit dan amat sesak di dalam dadanya. Kemudian, setetes air mata pun mengalir membasahi pipi nya dan perlahan semakin deras.
Daella mengusap air matanya, lalu berlari menuju luar rumah. Tak peduli dengan Lea yang tengah berlutut di hadapannya tersebut. Menyadari Daella yang berlari meninggalkan nya, Lea pun langsung berdiri dan mengejar Daella. Ia benar-benar tidak ingin Daella lepas darinya lagi.
"Daellaaa!! " jerit nya sembari berlari dan berusaha mengejar Daella.
Di sisi lain, Garren, Garvyn, dan Garson begitu kecewa dengan Lea. Mereka tidak menyangka kalau Lea akan melakukan hal semacam ini. Mereka tidak tega dengan Daella yang sudah berniat untuk menyatakan perasaannya kepada Lea.
"Gue benci kak Lea!! " seru Garvyn lalu ikut berlari untuk mengejar Daella.
"Garvyn!! " panggil Garson dan menyusul Garvyn. Garvyn adalah orang yang paling menyayangi Lea dari saudara-saudaranya.
Kini Violetta tengah mengelap darah di kepalanya dengan menggunakan tissu. S**t! Gue ga pernah berpikir kalau ternyata akan banyak orang. Gimana nih? Gue ga akan ketahuan kan? Batin sang Violetta. Sebelumnya ia berpikir kalau Daella akan pulang sekolah hanya dengan Karl seperti biasanya, tetapi kenapa malah dengan beberapa orang lainnya. Yang di maksudnya orang lain adalah si kembar, ia tidak mengetahui kalau si kembar merupakan sepupu Lea.
"Karl, anter gue pulang, " perintah Violetta terhadap Karl.
"Maaf nona, saya sedang ada urusan dan tidak bisa mengantar anda pulang, " sahut Karl lalu pergi begitu saja dan Garren pun ikut menyusul Karl. Mereka sama-sama meninggalkan Violetta sendiri, hingga akhirnya Violetta pulang dengan sendirinya disertai perasaan kesal tetapi tercampur dengan perasaan senang juga.
"Senangnya… akhirnya gue bisa dapet ciuman dari Lea, bahkan beberapa tanda merah di leher gue. Gue jadi makin cinta sama Lea setelah lihat dia seagresif itu sama gue. " Violetta terus bergumam pelan di dalam taxi yang telah ia pesan untuk mengantarnya pulang.
Namun, ada satu hal yang mengganjal hatinya. Yakni melihat Daella ketika marah dengannya. Ia mengira kalau Daella adalah tipe perempuan yang kalau tersakiti hanya bisa menangis dan tidak berani melawan maupun membalas. Sungguh kesalahan besar, pikirnya. Untung saja luka di kepalanya tidak parah.
"Well… yang penting gue udah berhasil buat ngehancurin hubungan mereka dan misahin mereka. Ya, walaupun gue harus berkorban sedikit. "
Violetta, nama aslinya dan tidak ada kepanjangannya dari nama tersebut. Pertama kali ia bertemu Lea adalah di waktu Lea datang ke perusahaan Glühen. Ia melihat Lea sebagai sosok laki-laki idamannya. Di mana Lea begitu tampan, tinggi, juga kaya, apalagi yang kurang coba? Pikirnya.
Violetta bertanya-tanya ke beberapa rekan kerjanya, tentang Lea yang sudah memiliki pacar atau belum dan ia begitu semangat setelah mengetahui kalau Lea belum memiliki pacar, bahkan mantan pun tidak punya. Ia ingin menjadi orang pertama yang membuat Lea jatuh cinta dan berakhir pacaran dengannya. Namun, sebuah rumor pun beredar di perusahaan Glühen kalau Lea tidak ingin menikah atau berpacaran dengan siapapun, kecuali dengan gadis yang pernah ia jumpai beberapa tahun yang lalu.
Mendengarnya, Violetta begitu kesal, kenapa Lea segitunya dengan gadis tersebut. Ia berharap Lea tidak akan pernah bertemu dengan gadis yang ia maksud, sehingga ia lah yang akan menggantikan gadis tersebut dan hidup bahagia bersama Lea.
Sampai tibalah waktu di mana Violetta di angkat menjadi sekretaris Lea dan sering di perintah ke rumah Lea untuk mengerjakan pekerjaan bersama. Setelah berbulan-bulan, ia kembali di perintahkan ke rumah Lea, hanya saja dengan rekan-rekannya yang lain.
Violetta begitu syok ketika Lea mengenalkan pacarnya kepada ia dan rekan-rekannya. Inikah gadis yang Lea maksud? Pikirnya ketika melihat Daella. Ia sangat cemburu melihat sikap Lea yang begitu ramah terhadap Daella, sedangkan dengan ia sangat dingin. Mungkin setiap pertemuannya dengan Lea, bisa di hitung berapa kali dan berapa kata yang Lea ucapkan. Sebab itulah ia membenci Daella dan ingin memisahkannya dari Lea, kalau perlu melenyapkan nya.
...~...
...Tbc:/...