RADEN ABINAYA AGRA

RADEN ABINAYA AGRA
DIA MENGETAHUINYA?



...***...


Pagi itu, ada dua orang prajurit yang baru saja mendekati penjara yang dihuni oleh Raden Abinaya Agra. Keduanya terlihat sangat gahar dan tidak bersahabat sama sekali pada Raden Abinaya Agra.


"Hei! Budak!." Ia membuka kunci penjara itu. "Bersyukurlah kau kepada Gusti Prabu, karena dengan kemurahan hatinya kau dibebaskan, setelah kau memiliki saksi."


"Nanti akan saya sampaikan rasa terima kasih saya kepada Gusti Prabu."


"Kau tidak usah banyak bicara! Melihat wajahmu saja kami semua sangat benci kepadamu!."


Setelah itu mereka Giring Raden Abinaya Agra menuju halaman utama istana. Tentu saja mereka saat itu diperintahkan oleh Prabu Sigra Sadubi untuk membawa Raden Abinaya Agra sana.


Sementara itu di halaman istana?. Seorang kakek tua yang merupakan pedagang yang merupakan saksi apa yang telah terjadi pada saat itu.


"Benarkah kau memang berada di sana ketika kejadian itu?." Senopati Wastu Aji terlihat sangat mengintimidasi kepada orang tua itu. "Memangnya kau siapa baginya? Sehingga kau ingin membela budak itu?."


"Mohon ampun Gusti Senopati, hamba memang bukanlah siapa-siapa baginya." Ia memberi hormat. "Akan tetapi pada saat itu hamba memang melihat bahwa si budak." Dengan berat hati ia menyebutkan nama Raden Abinaya Agra dengan sebutan budak. "Pada saat itu si budak sedang berbelanja di tempat hamba, akan tetapi pada saat itu tiba-tiba saja ada beberapa orang pendekar yang berbuat kerusuhan Gusti, kami semua sangat takut dengan apa yang telah mereka lakukan." Ucapnya sambil mengingat bagaimana kejadian itu. "Kami semua sangat takut sekali Gusti, bahkan prajurit tidak ada yang datang ketika suara keributan itu terjadi, kami semua berusaha untuk lari dari keganasan ketiga orang pendekar itu." Lanjutnya. "Kami semua yang melihat itu menyaksikan bagaimana si budak dengan berusaha keras mengusir mereka Gusti."


"Apakah dia menggunakan jurus istimewa untuk mengalahkan ketiga orang pendekar itu?."


"Hamba rasa tidak ada Gusti, sebab dari pengamatan hamba, si budak benar-benar murni menggunakan kemampuan ilmu kadigdayaannya daripada ilmu kanuragannya."


"Apakah kau yakin dengan apa yang kau lihat itu?." Ia melihat ke arah Prabu Sigra Sadubi yang terlihat sangat tidak tenang sama sekali dengan apa yang telah ia dengar.


"Meskipun hamba telah tua, namun mata hamba belum lah terlalu tua, si budak hanya menggunakan ilmu kadigdayaannya."


Akan tetapi pada saat itu ada dua orang prajurit yang telah berhasil membawa Raden Abinaya Agra ke penjara. Mereka menyeret tubuh Raden Abinaya Agra dengan sangat paksa, tanpa perasaan mereka melakukan itu dengan sangat sengaja?. Apakah mereka tidak memiliki hati nurani?.


"Oh aki? Apakah akibat baik-baik saja?." Raden Abinaya Agra tidak menyangka akan melihat orang tua yang menjual sembako itu.


"Saya baik-baik saja aden." Bisiknya. Tentu saja ia tidak berani memanggil Raden di hadapan mereka semua. Ia masih sayang dengan nyawanya, sehingga ia tidak berani memanggil seperti itu.


"Syukurlah kalau begitu aki." Dalam hati Raden Abinaya Agra sangat senang. "Setidaknya aku akan mengucapkan terima kasih kepada aki nantinya." Dalam hatinya.


"Kali ini kau selamat karena pembelaan orang tua itu." Prabu Sigra Sadubi terlihat sangat kesal. "Jika saja karena bukan pembelaan orang tua itu? Maka sudah aku bunuh kau karena kau telah berani berbuat kerusuhan di tempat wilayah kekuasaanku." Dengan suasana hati yang sangat panas ia berkata seperti itu.


"Terima kasih hamba ucapkan kepada Gusti Prabu yang telah bermurah hati untuk membebaskan hamba yang tidak berguna ini."


"Kegh!." Raden Abinaya Agra meringis kecil ketika bahu kirinya yang terkena lemparan itu.


Deg!.


"Aden!." Dalam hati Kakek tua ia sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh Prabu Sigra Sadubi. "Sungguh keji sekali apa yang telah dilakukan oleh orang ini." Dalam hatinya sangat tidak menduga sama sekali dengan apa yang ia lihat. "Sungguh orang-orang yang tidak memiliki perasaan sama sekali." Dalam hatinya sangat sakit hati melihat apa yang telah ia saksikan.


"Kalau begitu kalian berdua pergilah dari sini! Aku sudah tidak ada memiliki urusan apapun dengan kalian." Setelah berkata seperti itu ia pergi meninggalkan tempat itu. Karena suasana hatinya saat itu sedang dipenuhi dengan amarah yang sangat membara. Suasana hatinya yang sama sekali tidak bisa menerima pembelaan itu, akan tetapi pada saat itu ia masih memikirkan bagaimana pandangan rakyat terhadap dirinya. Begitu juga dengan mereka yang segera pergi meninggalkan tempat itu.


"Aki kenapa menangis?." Raden Abinaya Agra sangat terkejut.


"Sungguh malang sekali nasibmu, setelah kau kehilangan apa yang kau punya, namun kau hidup untuk menanggung beban yang ditinggalkan oleh ayahandamu, sungguh sangat malang sekali nasibmu Aden." Hatinya merintih pilu melihat itu. "Apakah mereka tidak memiliki perasaan apapun untuk melihat bagaimana kondisi Aden yang sekarang? Hati mereka hati batu den."


"Aki jangan berkata seperti itu, jika aki berkata seperti itu? Saya benar-benar sangat sedih dengan kehidupan saya yang sekarang." Ia hampir saja menangis dengan ucapan yang seperti itu.


"Saya harap aden yang bisa menjalani hidup yang pahit ini dengan penuh kesabaran." Ia mencoba menghapus air matanya. "Sebab, ada seseorang yang pernah berkata kepadaku, dewata Agung akan selalu memberikan ujian kepada umatnya untuk ia berusaha ke arah yang lebih baik, saya percaya ujian yang Raden alami ini adalah untuk menuju ke puncak yang lebih baik, karena itulah Raden harus kuat apapun yang akan terjadi kedepannya." Ia tepuk-tepuk pundak Raden Abinaya Agra dengan penuh rasa haru yang sangat luar biasa.


"Akan saya ingat apa yang aki katakan, saya akan mencobanya, meskipun saya tidak mengetahui kapan saya menuju puncak itu." Raden Abinaya Agra hanya mencoba untuk tersenyum, walaupun suasana hatinya pada saat itu benar-benar sangat terguncang.


"Jika Raden mengalami kesulitan suatu hari nanti, Raden tidak memiliki tempat untuk kembali? Maka datanglah ke pasar untuk menemui saya, semoga saja saya bisa membantu Raden."


"Terima kasih atas kebaikan aki, saya sangat beruntung bisa bertemu dengan orang baik seperti aki."


"Orang baik pasti akan bertemu dengan orang baik juga, ketika masa muda hanya itu saja yang saya percayai untuk menempuh hidup yang baru, dan menempuh hidup yang sangat susah di dunia ini."


"Sepertinya saya harus belajar banyak dari aki, aki adalah orang yang sangat luar biasa menurut saya."


"Ahaha! Raden jangan terlalu memuji saya, saya ini adalah penduduk asli, saya hanya mengenal Raden melalui berita-berita yang sangat menarik ditebarkan oleh penduduk kerajaan ini, jadi sedikit banyak saya mengetahui Raden adalah orang yang sangat baik, bahkan sangat baik kepada orang yang berniat memberontak kepada istana." Informasi yang sangat baru ia sampaikan. "Sungguh tidak tahu budi sama sekali mereka itu. Saya rasa urat malu mereka telah putus dari tempatnya."


Deg!.


Pada saat itu Raden Abinaya Agra sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh kakek tua itu. Apakah yang telah diketahui kakek tua itu mengenai dirinya?. Next halaman.


...***...