RADEN ABINAYA AGRA

RADEN ABINAYA AGRA
SUASANA HATI MEREKA



...***...


Raden Abinaya Agra saat itu sedang latihan bersama kakaknya. Keduanya tampak sangat serius dengan arah anak panah yang mereka lepaskan. Berbagai macam tempat sasaran yang akan mereka incar.


CTAK.


Putri Gantari Wardani telah berhasil memanah target yang berada di celah pohon tinggi, tempat yang cukup sulit untuk di jangkau.


"Boleh juga kau yunda, tapi lihat ini?." Raden Abinaya Agra tidak mau kalah, ia menargetkan papan target yang ada di antara batu dan pohon yang lumayan besar.


"Memangnya kau bisa menargetkan di tempat itu rayi? Jangan banyak bicara jika kau tidak bisa melakukannya."


"Yunda jangan meremehkan aku."


Raden Abinaya Agra melepaskan tembakan itu, dan mereka semua menjadi saksi, jika ia telah berhasil menaklukkan target itu.


"Apakah yunda bisa melihat itu? Aku telah melakukannya dengan sangat tepat sasaran."


"Kau tidak perlu berbangga diri dulu, masih banyak target yang belum kita panah, dan kita masih satu sama."


"Baik, jika memang seperti itu."


Keduanya tampak sangat semangat dengan apa yang akan mereka lakukan. Pertandingan memanah, siapa yang paling banyak menancapkan anak panah di papan target?. Maka dialah pemenangnya.


Para prajurit yang melihat itu tentunya sangat menunggu itu. Karena mereka sangat senang melihat bagaimana gaya yang akan digunakan oleh Raden Abinaya Agra dan Putri Gantari Wardani saat memanah. Bukan hanya sekedar melepas panah saja, namun mereka menggunakan tenaga dalam mereka untuk membantu anak panah itu lebih terasa hidup.


"Sepertinya kalian terlihat bersemangat sekali." Ada seseorang yang menyapa mereka, sehingga keduanya berbalik arah untuk melihat orang itu siapa.


"Raka abinaya admaja?." Keduanya sedikit terkejut melihat keberadaan Raden Abinaya Admaja yang merupakan kakak laki-laki mereka hanya beda ibu saja.


"Kalian ini terlalu bersemangat latihan memanahnya, apakah kalian tidak kasihan pada prajurit yang memunguti semua anak panah yang kalian lepaskan?."


Raden Abinaya Agra dan Putri Gantari Wardani memperhatikan prajurit yang kesulitan memuat anak panah yang telah mereka lepaskan tadi yang mengenai.


"Sudah berapa banyak anak panah yang kalian lepaskan? Apakah kalian masih ingin mau bermain anak panah?."


Kembali mereka memperhatikan sekitarnya hingga tertawa canggung, karena merasa bersalah dengan apa yang telah mereka lakukan. Untung saja para prajurit tidak merasa keberatan sama sekali. mereka juga tampak bersemangat memungut semua anak panah itu.


"Maafkan kami Raka, kami hanya sedang bersemangat saja hari ini."


"Bener itu Raka, kami hanya sedang bersemangat saja."


Keduanya terlihat salah tingkah dan mencoba mencari alasan.


"Kalian ini ya?." Raden Abinaya Admajanahla nafasnya melihat kelakuan adik-adiknya yang sedang bersemangat.


"Tapi apakah yang membuat neraka datang ke sini? Bukankah istana utama lumayan jauh dari sini?."


Deg!.


Raden Abinaya Admajaterkejut mendengarkan pertanyaan dari adik laki-lakinya itu.


"Jangan-jangan raka kabur?." Putri Gantari Wardani dan Raden Abinaya Agrasecara bersamaan mencoba menembak alasan kenapa kakak laki-laki mereka berada di sana?.


Duakh!.


Keduanya mendapat jitakan keras dari Raden Abinaya Admaja.


"Aku ke sini dengan tujuan yang sangat jelas, aku tidak kabur! Kalian jangan berbicara sembarangan seperti itu kepadaku!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras.


"Raka! Kami akan melaporkan hal ini kepada ibunda dyah chandrawati! Bahwa putra yang paling ia banggakan malah bersikap hanya kepada adiknya!." Putri Gantari Wardani meringis sakit sambil menunjuk kesel ke arah kakaknya itu.


"Aku akan melaporkan kekerasan ini kepada ibunda retania wardani." Raden Abinaya Agra juga tampak kesal karena ada telah dipukul oleh kakaknya.


Setelah itu keduanya tampak kompak mundur?.


"Lalu bagaimana dengan kita?."


"Untuk sementara waktu kita pungut saja semua anak panah ini, setelah itu kita kembali melakukan tugas selanjutnya."


Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran mereka karena ditinggalkan begitu saja oleh kedua tuan muda mereka?.


...***...


Sigra Sadubi saat itu sedang membersihkan ruangan itu, akan tetapi pada saat itu ada seseorang yang datang mendekatinya dengan raut wajah yang sangat sedih.


"Hari ini ada dua puluh orang pemuda yang dicambuk sampai mati."


"Kegh!." rasanya jantungnya benar-benar diremas dengan sangat kuat oleh sesuatu yang dinamakan dendam yang sangat membara.


"Mereka semua tertangkap, dan langsung dieksekusi mati oleh Patih gardapati mahawira." Ia berusaha untuk menekan perasaan sakitnya. "Sangat kejam sekali atas apa yang telah mereka lakukan, rasanya itu membuatku tidak berdaya untuk melakukan pemberontakan lagi." Dari raut wajahnya terlihat bagaimana perasaan sedih yang sangat dalam di hatinya. Dadanya terasa sakit mengingat apa yang telah terjadi di masa lalu, kejadian yang mengerikan terhadap orang-orang yang berniat untuk melakukan pemberontakan di negeri ini.


"Kita tidak boleh menyerah hanya karena ancaman yang tidak manusiawi itu." Dengan perasaan yang sangat sakit ia mencoba untuk menguatkan hatinya. "Kita tidak akan mundur barang setapak pun, kuatkan hati kita untuk melakukan pemberontakan ini." Panas api membara di dalam hatinya masih sangat kuat. "Kita tidak boleh menyerah! Berjuanglah demi memberikan kebebasan pada diri kita yang sudah sangat lama menderita!." Ini rasanya ia mengeluarkan semua perasaan sakit itu, tapi ia harus kuat demi kemerdekaan yang harus ia capai.


"Baiklah, kalau begitu, aku akan menyampaikan kepada mereka semua untuk tetap melakukan pemberontakan ini!." Ada perasaan yang muncul di dalam hatinya untuk melakukannya.


"Katakan kepada mereka, jangan sampai menyerah! Lebih baik kita mati dengan cara berperang daripada setiap harinya mengorbankan diri kita, hanya demi membayar pajak kepada orang-orang yang tidak berguna seperti manusia agung itu!." Gejolak emosinya semakin meningkat.


"Ya, akan aku sampaikan kepada mereka semua, bahwa kita akan terus memperjuangkan kemerdekaan kita dari orang-orang yangtelah berani menindas harga diri kita sebagai manusia!." Kobaran api semangat telah muncul di dalam hatinya.


"Aku tunggu kabar berikutnya darimu."


"Kalau begitu aku pamit dulu, sampurasun."


"Rampes."


"Kau juga berhati-hatilah di sini, jika mengalami kesulitan jangan sungkan-sungkan untuk memanggil kami semua." Setelah berkata seperti itu ia langsung pergi meninggalkan tempat.


Duakh!.


Ia pukul kuat meja itu dengan perasaan dendam, hatinya sangat sakit mendapat kabar menyakitkan seperti itu dari salah satu teman yang ingin berjuang.


"Berani sekali mereka melakukan itu! Akan aku bunuh mereka dengan tanganku ini suatu hari nanti." Dalam hatinya telah berjanji akan melakukan itu dengan gejolak yang sangat membara. "Darah yang tumpah dari bangsa kami! Akan kalian bayar dengan darah kalian semua satu hari nanti!." Dalam hatinya bersumpah akan membalaskan kematian teman-teman seperjuangannya yang menginginkan kemerdekaan. Semangat berjuang!.


...**...


Di sebuah tempat.


"Apakah kalian telah berhasil masuk ke dalam istana?. Apakah semuanya aman?."


"Kami telah melakukannya dengan sebisa mungkin, dan kami telah berhasil masuk ke dalam istana."


"Tapi kalian harus berhati-hati, karena kabar yang aku dengar, bukan hanya Raja kejam itu saja yang harus kita hindari, tapi juga Patihnya yang suka mencari muka di hadapan Raja kejam itu."


Mereka semua tampak sedang berdiskusi dengan apa yang akan mereka lakukan saat itu.


"Perjuangan kita tidak boleh sia-sia, ini semua demi anak cucu kita di masa depan yang menginginkan kehidupan yang lebih baik dari pada kita hari ini."


"Ya, kamu sangat setuju, kita harus melakukannya dengan sangat hati-hati demi masa depan yang lebih baik."


"Semoga saja perjuangan kita tidak sia-sia!."


"Hidup untuk merdeka!."


Teriak mereka dengan penuh semangat membara. Semangat untuk bebas dari golongan kaum yang sangat kejam pada kehidupan mereka. Tapi apakah akan berhasil atas apa yang akan mereka lakukan?. Dukung mereka untuk mendapatkan kemerdekaan.


...***...