RADEN ABINAYA AGRA

RADEN ABINAYA AGRA
KEINGINAN DAN HARAPAN



...**...


Di sebuah tempat rahasia.


Saat itu kebetulan mereka semua sedang berkumpul karena mereka mendapatkan kabar yang sangat bahagia.


"Ini mungkin kabar yang baik untuk kita semua, karena Raden abinaya agra tidak lagi diperlukan secara kejam oleh mereka."


"Syukurlah jika memang seperti itu, syukurlah jika memang Raden abinaya agra diperlukan dengan baik oleh mereka semua."


"Rasanya aku ingin menangis ketika melihatnya, aku melihat secara langsung bagaimana mereka yang saat itu memperlakukannya jauh lebih baik."


Kabar itu tentunya membuat hati mereka sangat senang luar biasa, bagi mereka Raden Abinaya Agra adalah calon Raja yang harus mereka lindungi. Raja masa depan yang akan mengubah kehidupan semua kalangan rakyat, seorang Raja yang mampu merangkul semua kehidupan rakyat di kerajaan besar itu.


"Jika memang Raden abinaya agra diperlakukan dengan baik? Apakah kita masih ingin melakukan pemberontakan?."


"Kita memang melakukan pemberontakan ini tujuannya untuk membebaskan Raden abinaya agra dari penderitaan yang telah ia rasakan selama ini." Itulah tujuannya melakukan pemberontakan selama ini. "Karena saat ini kondisinya baik-baik saja, untuk saat ini kita diam saja sambil memperhatikan Raden abinaya agra dari kejauhan." Mungkin itulah yang harus ia lakukan dalam situasi yang seperti itu. "Kita harus menyusup ke istana, harus mengambil tahta itu demi Raden abinaya agra."


"Aku rasa kita hanya perlu mengamankan Raden abinaya agra di sini saja, karena pada akhirnya Raden abinaya agra suatu hari nanti pasti akan menjadi raja yang baik."


"Kenapa kau sangat yakin dengan itu?."


"Apakah kalian tidak menyadarinya? Kekuatan Raden melebihi siapapun sebenarnya, dengan bukti ia mampu menyembuhkan seorang anak yang sudah lama tidak bisa berjalan."


"Semoga saja memang seperti itu, karena menurutku raja yang sekarang itu bukanlah raja yang pantas."


"Kita semua harus mendukung Raden abinaya agra."


Tentu saja mereka harus menjaga keselamatan Raden Abinaya Agra, mereka tidak bisa bergerak sembarangan. Apalagi raja yang sekarang sepertinya memang benar-benar sangat ingin membunuh Raden Abinaya Agra karena dendam masa lalu.


...***...


Di sebuah bukit yang cukup curam, hutan hutan di sana masih lebat sehingga suasana di sana benar-benar sangat sepi. Ada dua orang laki-laki yang sudah berumur sedang berbincang mengenai seorang pemuda.


"Sudah sejak kapan dia bertapa di sana?."


"Sudah hampir satu sasi dia bertapa di sana."


"Memangnya apa yang hendak ia capai sehingga ia melakukan pertapaan sejauh dan selama itu?."


Saat itu mereka memperhatikan seorang pemuda yang sedang melakukan pertapaan di sebuah batu yang sangat besar.


"Katanya dia hendak mengambil alih kerajaan besar itu."


"Maksudmu kerajaan yang telah didirikan oleh Prabu maharaja abinaya sura wardhana?."


"Kabarnya memang seperti itu."


Terkadang tujuan anak muda zaman sekarang itu memiliki tekad yang aneh-aneh, sehingga para orang tua hanya bisa mengendalikan mereka agar tidak salah memilih jalan.


"Aku tidak tahu pasti, tapi katanya dia memiliki dendam terhadap keturunan raja yang telah tiada itu."


"Bukankah sudah tersebar kabar? Bahwa keturunannya telah dimusnahkan semuanya dalam pemberontakan beberapa sasi yang lalu?."


"Mungkin saja dia belum mengetahui informasi itu, tapi aku rasa dia akan segera mengetahuinya."


Pertapaan yang dilakukan oleh pemuda itu cukup memakan waktu yang sangat lama, sehingga pemuda itu sama sekali tidak menyadari jika ia telah melewatkan hal-hal yang sangat penting berhubungan dengan kerajaan yang sedang ia incar. Lalu apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu jika mengetahui informasi itu?.


...**...


Di desa Tiga Daun.


Saat itu Raden Abinaya sedang bersama seorang gadis yang bernama Sulasih. Gadis manis yang memiliki sifat yang sangat baik, gadis baik yang tidak memandang rendah Raden Abinaya Agra.


"Kakang, apakah kakang tidak keberatan jika saya membantu kakang?."


"Terima kasih." Raden Abinaya Agra tidak menyangka sama sekali jika ada seorang gadis yang membantu pekerjaannya. "Tapi saya takut, nini akan mendapat masalah nantinya jika ini berani membantu saya."


Saat itu Raden Abinaya Agra sedang meracik sebuah ramuan, ia sudah mengobati seorang pemuda yang tidak bisa mengendalikan dirinya lagi setelah mempelajari ilmu dukun yang tidak biasa.


"Kami semua telah sepakat untuk membantu mu kakang, jika ada prajurit yang datang ke sini untuk membawamu? Kami semua akan turun tangan untuk mengusir mereka semua."


"Terima kasih saya ucapkan jika memang seperti itu."


"Meskipun kakang seorang pangeran, ternyata kakang memang orang yang sangat sopan dan terlihat sedikit kaku."


Sulasih merasa terkesan dengan sikap yang telah ditunjukkan oleh Raden Abinaya Agra kepadanya, sehingga ia tidak segan-segan untuk memberikan pujian yang sangat luar biasa kepada Raden Abinaya Agra.


"Untuk saat ini saya bukanlah seorang pangeran, saya hanyalah seorang budak yang akan selalu diperlakukan kasar oleh siapa saja."


"Kakang jangan berkata seperti itu, meskipun saat ini kakang berada di bawah? Bukan berarti kakang juga harus merendahkan diri." Kali ini iya benar-benar mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya saat itu. "Cobaan hidup itu memang terasa sangat berat, bahkan kami rakyat kecil pun bisa merasakan penderitaan walaupun Raja telah berganti? Kehidupan kami masih tetap menderita merasakan kemiskinan yang seakan-akan bagian dari kehidupan kami yang tidak bisa kami pisahkan lagi." Bahkan ia memberikan semangat kepada Raden Abinaya Agra sambil menceritakan bagaimana masa lalu yang dihadapi olehnya beserta keluarganya.


"Semoga saja sang hyang Widhi memberikan perubahan yang baik kepada kita suatu hari nanti, saya juga berharap saya bisa membantu siapa saja untuk mengubah hidupnya."


"Sebagai seorang pangeran, harapan kakang memang sangat luar biasa." Kembali ia memberikan pujian terhadap Raden Abinaya Agra. Sungguh ia sangat terkesan dengan sikap yang telah ditunjukkan oleh Raden Abinaya agar kepadanya. "Jangan patah semangat hanya karena kondisimu yang sekarang ini, entah kenapa ketika saya berbicara dengan kakang seperti ini, Saya sangat berharap suatu saat nanti kakang bisa mewujudkan impian itu dengan tangan kakang sendiri." Lagi dan lagi ia memberikan semangat kepada Raden Abinaya Agra tidak menyerah begitu saja.


"Kau juga gadis yang sangat baik, terima kasih karena telah memberikan saya semangat yang sangat luar biasa." Raden Abinaya Agra merasa lega karena ada seorang gadis yang tidak memandang rendah terhadap dirinya.


"Ah! Raden, maksud saya, kakang." Ia terlihat tersipu malu. "Jangan terlalu memuji saya seperti itu." Entah kenapa detak jantungnya berdebar-debar ketika melihat senyuman Raden Abinaya Agra yang sangat luar biasa menawan menurut pandangannya saat itu. "Oh? Dewata yang agung, apa yang telah terjadi padaku?." Dalam hatinya kebingungan.


...**...