RADEN ABINAYA AGRA

RADEN ABINAYA AGRA
HAL YANG MUSTAHIL



...***...


Purwati Sadubi saat itu benar-benar tidak bisa berkata-kata, ia tidak menduga jika itu yang dikatakan temannya Resatari?.


"Masalah cinta kadang membuat seseorang lebih kehilangan kendali, apakah benar? Raden abinaya agra adalah orang yang singgah di hatimu saat ini?." Dengan penuh keyakinan ia berkata seperti itu. "Sesekali katakanlah masalahmu sehingga beban yang ada di dalam pikiranmu sedikit berkurang, percayalah jika aku tidak akan menceritakan kepada siapapun atas apa yang kau rasakan kepadanya."


Purwati Sadubi terlihat sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh temannya itu. "Ini hanya masalah pribadi, aku rasa aku tidak perlu melibatkanmu."


"Tapi masalah pribadimu telah melibatkan aku, guru menyuruhku untuk memastikan jika kau bisa berlatih dengan benar, jadi? Apakah menurutmu teguran guru itu hanya untukmu saja? Kau yang memiliki masalah, tapi aku juga ikut-ikutan ditegur oleh guru."


"Baiklah, aku akan mengatakan kepadamu sekali saja, tapi dengan satu syarat."


"Katakan saja syaratnya, mungkin aku bisa memenuhi syaratmu itu."


"Jangan katakan kepada siapapun juga, karena ini adalah masalah yang sangat sulit untuk aku hadapi sebenarnya."


"Tentu saja aku tidak akan mengatakan kepada siapapun, aku berjanji akan menyimpan rasa ini dengan sebaik mungkin."


Malam itu Purwati Sadubi menceritakan apa yang ia rasakan kepada temannya, ia memang mengakui memang jika ada perasaan cemas terhadap Raden Abinaya Agra.


Sementara itu Raden Abinaya Agra baru saja sampai di bilik kecil yang telah ia bersihkan. "Ayahanda, ibunda, raka, yunda, rayi, apakah kalian tidak ingat denganku? Sekali saja aku ingin melihat kalian semua, hadir hadir dalam mimpiku malam ini, rasanya aku sangat merindukan kalian semua." Perlahan-lahan Raden Abinaya Agra memejamkan matanya karena ia merasakan kantuk.


"Kau tenang saja anakku, kami juga sangat merindukan dirimu." Bisikan itu memberikan senyuman yang lembut pada Raden Abinaya Agra.


Namun apa yang terjadi setelah itu?.


Byur!.


"Eagkh!."


Raden Abinaya Agra sangat terkejut karena ia merasakan dingin yang sangat luar biasa, ia merasakan ada guyuran air yang mengenai wajahnya sehingga ia terbangun paksa karena terkejut.


"Bedebah busuk! Sudah hampir pagi kau masih saja tidur enak-enakan? Apa kata tidak ingat dengan pekerjaanmu di sini??."


"Uhuk!." Raden Abinaya Agra sempat terbatuk. "Maafkan saya tuan, saya akan segera mengerjakannya." Dengan terburu-buru Raden Abinaya Agra meninggalkan tempat itu untuk mengerjakan pekerjaannya.


"Dasar tidak berguna!." Umpatnya dengan sangat kesal.


Raden Abinaya Agra mencoba mengeringkan wajahnya dengan kain kecil, setelah itu ia melangkah menuju pasar untuk membeli beberapa keperluan. Banyak mata yang memandangnya dengan tatapan yang sangat menghina dirinya.


"Harusnya dia itu juga diberi hukuman mati, tapi kenapa Prabu sigra sadubi malah membiarkan dia hidup?."


"Ya, kau benar, aku rasa tidak ada gunanya dia hidup di dunia ini, lihat saja bagaimana kondisi fisiknya saat ini benar-benar membuatku ingin muntah."


"Orang dibantu seperti dia emangnya bisa berbuat apa?."


Setidaknya seperti itulah yang mereka katakan tentang Raden Abinaya Agra yang melewati mereka. Bahkan lebih parahnya mereka melempari Raden Abinaya Agra dengan batu.


"Kegh!." Raden Abinaya Agra sedikit meringis karena kepalanya terkena lemparan batu, seluruh tubuhnya menjadi sasaran lemparan batu oleh mereka semua yang sangat membencinya.


Akan tetapi pada saat itu Raden Abinaya Agra sama sekali tidak membalas, ia hanya membiarkan mereka melakukan itu kepadanya. Hingga pada saat itu ia melihat ada seorang anak kecil yang berjalan sempoyongan, ia segera berlari untuk melindungi anak kecil itu agar tidak ikutan entah kena lemparan batu. Mereka yang melihat itu sangat terkejut, karena sebenarnya anak itu mengalami kesulitan ketika berjalan.


"Apa yang dia lakukan? Kenapa dia malah melindungi anaknya kecil itu?."


"Aku yakin dia hanya pura-pura saja."


Pada saat itu mereka telah berhenti melempari Raden Abinaya Agra, cara mereka masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat."


Tiba-tiba saja pada saat itu ada seorang perempuan merebut anak kecil itu dari pelukan Raden Abinaya Agra, sehingga anak kecil itu menangis dengan suara yang sangat keras.


"Apa yang telah kau lakukan pada anak?!." Bentaknya dengan penuh amarah yang sangat membara.


"Maaf saya hanya melindunginya dari lemparan batu, saya tidak berniat jahat kepadanya."


Ya, jika dilihat dari situasinya memang seperti itu yang terjadi. Bahkan ia melihat Raden Abinaya Agra yang terluka karena lemparan batu mereka tadinya?.


"Kegh! Sakit." Anak kecil yang berada dipelukan ibunya itu mengeluh sakit.


Deg!.


Raden Abinaya Agra pada saat itu terkejut karena melihat sosok yang tidak biasa, yang menempel di kaki anak kecil itu. Tanpa sadar Raden Abinaya Agra mendekati anak kecil itu, dan saat itu pula ia menyentuh anak kaki anak kecil.


"Kegh! Sakit!." Anak kecil yang kira-kira berumur 7 tahun itu terlihat sedikit meringis kesakitan.


Plak!.


Ibu dari anak kecil itu menepis kuat tangan Raden Abinaya Agra.


"Apa yang kau lakukan kepada anakku buntung sialan!."


Melihat kemarahan dari wanita itu?. Beberapa dari tiga orang dewasa menarik kuat tangan Raden Abinaya Agra agar menjauh dari anak itu.


"Eagkh!." Raden Abinaya Agra berteriak kesakitan karena mereka menyentuh tangannya yang beruntung itu.


Dan yang lebih parahnya adalah mereka memukul tubuh Raden Abinaya Agra dengan sangat kuat sehingga rasa sakit itu semakin menjadi-jadi.


"Ibu, kakiku rasanya tidak sakit lagi." Anak kecil itu merasakan kakinya sedikit ringan dari yang sebelumnya.


"Apakah itu benar?." Ibunya terlihat tidak percaya. Ia menurunkan anaknya dari gendongannya, ingin memastikan apakah yang dikatakan anaknya itu benar atau tidak?.


Deg!.


Ibu itu sangat terkejut ketika melihat anaknya berjalan dengan sangat lancarnya?. Begitu juga dengan mereka yang menyaksikan itu?.


"Kalian hentikan!." Ibu itu meminta ketika orang dewasa itu agar tidak memukuli Raden Abinaya Agra.


"Kenapa kau menyuruh kami berhenti?."


"Lihatlah anakku? Dia bisa berjalan dengan sangat lancar setelah disentuh olehnya." Air matanya mengalir begitu saja, karena selama ini anaknya tidak bisa berjalan dengan baik.


"Tapi bagaimana mungkin itu bisa terjadi?."


"Ya? Bagaimana bisa itu terjadi?."


Seketika suasana di pasar menjadi lebih heboh karena apa yang dilakukan oleh Raden Abinaya Agra pada anak kecil itu?.


"Apa yang telah kau lakukan kepada anakku? Kenapa setelah disentuh olehmu dia bisa berjalan?." Itulah yang menjadi tanda tanya bagi wanita itu.


Tidak ada tanggapan dari Raden Abinaya Agra, karena apa yang dilakukan hanyalah bisa membantu saja?. Ia tadi spontan melihat ada makhluk gaib yang menempel di kaki anak kecil itu. Apakah Raden Abinaya Agra memiliki kemampuan khusus?.


...***...