
...***...
Memang ada rasa penasaran yang menyelimuti dirinya saat itu mengenai Raden Abinaya Agra tanya menurutnya ada rahasia yang tidak ia ketahui sama sekali, sehingga ia meminta Bibi Asih untuk menceritakan tentang Raden Abinaya Agra yang tidak diketahui oleh siapapun?.
"Aden adalah anak yang baik, Aden membantu siapa saja secara diam-diam tanpa diketahui oleh keluarga istana."
"Dalam hal apa dia membantu orang lain?."
"Apakah Gusti pernah mendengar pendekar topeng hitam yang membantu rakyat kecil mendapatkan makanan? Itu yang mengenakan topeng hitam itu adalah Aden sendiri, Aden yang membantu rakyat tanpa identitas saat itu."
"Tidak mungkin, tidak mungkin si topeng hitam itu adalah si budak!."
Amarahnya malah keluar begitu saja ketika ia mendapatkan kenyataan yang tidak pernah ia duga sebelumnya?. Hatinya sangat menolak dengan kenyataan yang selama ini tersembunyi dari siapapun?.
"Tapi itulah kenyataannya Gusti."
"Sial! Padahal aku pernah bertemu dengannya saat itu." Hatinya sangat mengutuk ketidaktahuan jati diri orang bertopeng hitam itu. "Lalu apalagi yang dia sembunyikan? Bagaimana mungkin dia bisa membantu rakyat? Sedangkan ayahandanya adalah Raja yang sangat kejam!."
"Mohon ampun Gusti Putri, meskipun ayahandanya adalah orang yang sangat kejam, bukan berarti anaknya juga bersikap kejam."
"Diam kau wankta tua! Aku dapat menangkap jika kau hanyalah mengagungkannya saja! Apakah kau pikir aku percaya dengan apa yang kau katakan?."
"Hamba tidak mungkin berani mengarang cerita Gusti Putri, hamba berkata yang sebenarnya."
"Sudahlah, pergilah kau wanita tua! Rasanya aku tidak mau mendengarkan apapun yang kau katakan!."
"Hamba akan melanjutkan pekerjaan hamba Gusti."
"Kegh! Rasanya aku semakin sesak jika membayangkan pemuda topeng hitam baik itu adalah si budak! Rasanya sangat mustahil!."
Gayatri Sadubi semakin marah, sehingga pada saat itu ia mengusir Bibi Asih, menyuruh wanita tua itu pergi dari hadapannya. Apakah karena suasana hatinya yang buruk saat itu membuatnya ingin marah-marah pada siapa saja?.
...***...
Di rumah Sulasih.
"Untuk saat ini kakang akan meminta berhenti bekerja pada bapak kepala desa, karena aku sangat takut akan keselamatan mu sulasih."
"Aku sangat takut sekali kakang, aku takut kakang lana serapi akan berbuat yang tidak-tidak nantinya."
"Aku akan segera mencari orang tua wasri, aku akan meminta bantuan pada mereka mengenai menantunya yang kurang ajar padamu, serta kakang walet yang merupakan kakang dari lana serapi untuk menyelesaikan masalah ini."
"Kakang jangan meninggalkan aku sendirian, bagaimana jika dia datang ketika kakang pergi mencari mereka?."
Raut wajah Sulasih terlihat sangat ketakutan ketika mendengarkan ucapan kakaknya Pusara, ia tidak mau mengalami hal buruk lagi.
"Kau tenang saja, bukankah ada-, dia?."
"Mohon maaf tuan, kedudukan saya sebagai budak tidaklah kuat, saya rasa titipkan saja nini sulasih ke tempat pak kepala desa, saya takut timbul fitnah nantinya, saya tidak mau memperkeruh keadaan."
Sulasih dan Pusara tampak berpikir mendengarkan ucapan Raden Abinaya Agra.
"Benar yang dikatakan kakang abinaya agra, aku takut dia memanfaatkan kelemahan ini kakang."
"Baiklah, kalau begitu kita segera ke rumah kepala desa, akan aku ceritakan semuanya."
Setelah itu mereka pergi ke rumah kepala desa untuk mengamankan menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi.
...***...
"Kau membawa banyak makanan lagi anak muda, apakah kau tidak takut jika suatu saat kau akan ditangkap oleh penggawa istana?."
Kakek tua yang hidup sebatang kara itu melihat anak muda yang beberapa hari ini telah membawanya banyak makanan, dan kadang ia bagikan pada penduduk yang tinggalnya tak jauh dari rumah kakek tua itu.
"Kakek tenang saja, aku ini memiliki jurus seribu wajah, jadi tidak masalah bagiku."
"Aku hanya cemas saja, karena kau hari ini boleh dipuja oleh mereka yang mendapatkan makanan darimu, namun suatu hari nanti mereka akan balik mencaci maki mu, apakah kau tidak takut dengan itu anak muda?."
"Sudah kek, jangan banyak bicara lagi." Ia berjalan mendekati kakek tua itu dengan beberapa macam buah-buahan yang berhasil ia ambil dari kebun pemilik tuan tanah. "Aku tidak keberatan sama sekali, karena berbagi hasil curian itu cukup menyenangkan."
"Hm, kau ini aneh juga anak muda."
"Kau juga aneh kakek tua, sudah jelas-jelas aku ini adalah anak muda yang jahat, tapi kau masih saja membiarkan aku tinggalkan bersamamu."
"Artinya kita dua orang yang aneh."
Seketika suara tawa lepas begitu saja antara keduanya, gubuk kecil itu cukup ramai setelah kakek tua itu membiarkan anak muda tinggal bersamanya.
...***...
Di padepokan.
"Apakah menurutmu kau akan merasa aman bersamanya?."
"Kau ini bicara apa?."
"Maksudku hubunganmu dengannya, bukankah dia telah dinikahkan dengan kakakmu gayatri sadubi?."
Sore itu Purwati Sadubi dan Resatari sedang berada di telaga untuk mengambil air, mereka sedang santai sejenak sambil menikmati kesunyian sekitar telaga.
"Aku lah yang terlebih dahulu mencintainya dalam bayangan, dan dia pun sama denganku."
"Jadi kalian sebenarnya saling mencintai satu sama lain? Tapi kenapa Gusti Prabu malah menikahkannya dengan adikmu?."
"Itu karena Raka Prabu tidak ingin aku menjadi tamengnya, sedangkan adikku tidak sudi menikah dengan orang buntung seperti Raden abinaya agra." Ia terlihat menghela nafasnya dengan sangat lelahnya. "Kau sendiri mengetahuinya, kan? Bahwa seluruh rakyat membenci kerajaan yang dipimpin oleh prabu maharaja abinaya bagaskara, termasuk keluarganya." Kembali ia menghela nafas. "Raka Prabu sangat benci pada Raden abinaya agra, sehingga ia ingin menyiksanya sampai mati dalam keadaan mengenaskan." Hatinya sangat sedih mengingat itu semua.
Sementara itu tak jauh dari telaga itu, ada Aki Layang Senjana dan Senopati Taksa Wursita mendengarkan pembicaraan itu.
"Cinta anak muda memang sangat sulit dihentikan, bahkan badai didekat saja tidak ia hiraukan, apalagi ribuan langkah yang memisahkannya."
"Aki terdengar seperti seorang penyair yang sangat hebat untuk mengungkapkan isi hati seseorang."
"Hufh!." Ia menghela nafasnya. "Bukankah Gusti Senopati datang ke sini untuk mengawasinya? Apa yang akan Gusti katakan jika mendengarkan ucapannya seperti itu?."
"Hm, seperti yang aki katakan tadi, cinta anak muda itu memang sangat sulit dihentikan." Kali ini ia yang menghela nafas. "Saya hanya mengawasinya saja, jika memang nimas purwati sadubi mencintai Raden abinaya agra? Saya hanya bisa membantunya dalam membuat laporan yang wajar saja, karena saya rasa alasan nimas purwati sadubi belajar ilmu kanuragan di sini untuk melindungi kekasihnya itu."
"Ternyata Gusti Senopati orang yang pengertian juga ya? Terima kasih saya ucapkan untuk itu."
"Jangan berkata seperti itu aki."
Ya, keduanya akan selalu mengawasi Purwati Sadubi yang sangat mencintai Raden Abinaya agar, jadi tugas mereka sangat berat sekali.
...***...