
...**...
Dengan kemampuan yang ia miliki Raden Abinaya Agra berhasil menghajar mereka semua. Kedua pendekar yang tersisa itu tidak bisa menghadapi Raden Agera abinayah yang ternyata memiliki kemampuan yang sangat luar biasa meskipun dalam keadaan yang seperti itu.
"Kurang ajar! Dia benar-benar memiliki kekuatan yang sangat luar biasa."
"Kau akan mendapatkan balasannya suatu hari nanti."
Setelah berkata seperti itu ia pergi meninggalkan tempat itu. Begitu juga dengan kedua temannya yang sudah tidak sanggup lagi untuk bertarung.
Duakh!.
"Kegh!."
Raden Abinaya Agra sangat terkejut ketika kaki belakangnya ditendang dengan sangat kuat sehingga ia bertumpu dengan lututnya.
"Berani sekali kau berbuat keributan budak!."
"Aku tidak melakukan-."
"Seret dia ke istana! Biar Gusti prabu yang memberikan hukuman padanya!."
Beberapa prajurit itu membawa Raden Abinaya Agra ke istana. Sedangkan mereka yang melihat itu hanya terdiam saja karena tidak berani melawan.
"Oh, Aden." Kakek penjual sembako merasa kasihan pada Raden Abinaya Agra yang diseret dengan tidak manusiawi oleh mereka.
"Lepaskan aku!."
"Kau seharusnya tidak usah melawan!."
"Aku bisa jalan sendiri!."
"Lebih baik kau cepat jalan saja tidak usah membantah!."
Pada saat itu Raden abinaya agra hanya berusaha untuk memberontak karena ia diperlakukan tidak wajar oleh mereka. Sungguh sangat tidak manusiawi sekali atas apa yang mereka lakukan pada saat itu.
...***...
Purwati Sadubi pada saat itu sedang berlatih dengan sungguh-sungguh, gerakannya bahkan terlihat lebih lincah dari murid lainnya. Sehingga saat itu ia benar-benar menjadi pusat perhatian bagi mereka semua.
"Luar biasa sekali, pantas saja dia menjadi seperhatian ketika perang itu terjadi, kekuatannya memang sangat luar biasa."
"Tidak salah Gusti Prabu memiliki adik yang sangat berbakat seperti dia."
"Selain cantik dia juga memiliki bakat yang sangat luar biasa, rasanya aku benar-benar iri kepadanya."
Setidaknya itulah yang mereka bicarakan ketika itu, akan tetapi Purwati Sadubi sama sekali tidak peduli dengan apa yang ia dengar.
"Aku benar-benar harus fokus dengan apa yang aku kejar, aku akan menyelamatkan Raden abinaya agra dari penderitaan yang ia rasakan." Dalam hatinya saat itu telah bertekad akan mempelajari kekuatan itu dengan sungguh-sungguh untuk melindungi orang yang sangat ia cintai. "Walaupun suatu saat nanti aku akan bertentangan dengan mereka semua, aku benar-benar harus mempelajari ini dengan sangat baik." Dalam hatinya telah membulatkan tekadnya akan menghadang siapa saja yang akan menyakiti Raden Abinaya agra.
...***...
Gayatri Sadubi pada saat itu sedang menunggu kedatangan seseorang. Entah beberapa kali ia mondar-mandir di depan pintu rumahnya.
"Budak itu benar-benar sangat kurang ajar! Bagaimana mungkin dia keluar begitu lama? Apa yang dia beli sehingga begitu lama dia sampai ke rumah ini?." Dengan amarah yang sangat membara ia berkata seperti itu. "Awas aja kalau dia kembali, akan ku hajar dia sampai dia meminta ampun kepadaku." Suasana hatinya pada saat itu benar-benar dikuasai oleh kemarahan yang sangat luar biasa.
"Oh?. Aden, memangnya Aden berada di mana? Kenapa ada yang belum kembali juga?." Dalam hati bibi Arsih sangat khawatir dengan keadaan Raden Abinaya Agra. "Bukankah Raden sendiri mengetahui, wanita itu sangat mengerikan jika marah?." Suasana hatinya pada saat itu benar-benar dilingkupi oleh perasaan yang cemas kepada Raden Abinaya Agra yang belum kembali.
...***...
Istana.
Prabu Sigra Sadubi sangat kesal setelah mendengarkan laporan dari prajurit yang berjaga-jaga di pasar Kotaraja.
"Mohon ampun Gusti Prabu, tadi kami melihat dia melakukan keributan di pasar Kotaraja, sehingga kami terpaksa mengikatnya, karena dia berontak tidak ingin dibawa ke istana ini."
"Kurang ajar! Berani sekali kau berbuat keributan di tempat umum?! Apakah kau sudah merasa memiliki kekuatan untuk menghadapi aku?." Prabu Sigra Sadubi langsung mendekati Raden Abinaya Agra. "Apakah kau telah memiliki nyali yang cukup besar untuk menghadapi aku?." Ia tepuk-tepuk pipi Raden Abinaya Agra dengan perasaan yang sangat kesal. "Apakah kau lupa? Kau itu bukan anak raja lagi! Kau hanyalah budak, jangan banyak bertingkah!." Ia tunjal kepala Raden Abinaya Agra tanpa perasaan sama sekali.
"Mohon ampun Gusti Prabu, hamba hanya membela diri saja, mereka yang telah membuat kerusuhan, hamba tidak bermaksud-."
Plak!.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Raden Abinaya Agra. Hingga terlihat ada darah yang mengalir di sudut mulutnya saking kuatnya tamparan yang ia terima saat itu.
"Prajurit!."
"Hamba gusti prabu."
"Apakah kau melihat dia menggunakan jurus-jurus khusus untuk berhadapan dengan pendekar-pendekar itu?."
Prajurit itu mencoba untuk mengingat, apa yang telah ditangkap oleh matanya. Apakah ia akan berkata jujur atau berkata bohong?.
"Katakan dengan jelas! Apa yang kau lihat pada saat itu! Jika kau berani berbohong? Maka kau yang akan aku penggal!."
"Mohon ampun Gusti Prabu." Ia memberi hormat. "Hamba sama sekali tidak melihatnya gusti prabu."
"Apakah kau yakin dengan ucapanmu itu?!." Ia masih belum puas dengan jawaban itu.
"Hamba sangat yakin Gusti Prabu, dia hanya menggunakan gerakan dasar silat saja." Dengan perasaan gugup ia menjawab pertanyaan itu.
"Kalau begitu bawa dia ke penjara! Aku sendiri yang akan bertanya padanya."
"Sandika Busti prabu." Setelah itu mereka semua membawa Raden Abinaya Agra untuk menuju penjara.
"Kenapa gusti Prabu me memenjarakannya? Apakah Gusti prabu curiga padanya?."
"Aku sangat curiga padanya. Bagaimana mungkin? Ada seseorang yang hanya memiliki satu tangan saja bisa bertarung tampa adanya luka-laka yang ia terima dari pertarungan itu?." Itulah yang terasa ganjal baginya. "Kecuali dia memiliki kemampuan khusus untuk melindungi tubuhnya agar tidak mengalami cedera?."
"Ya, hamba rasa apa yang gusti prabu katakan sangat benar." Ia sangat setuju dengan pandangan Prabu Sigra Sadubi.
"Lalu apa yang akan gusti prabu lakukan padanya?."
"Akan aku paksa dia untuk mengatakan semuanya, akan aku hajar dia jika dia tidak mau bicara." Suasana hatinya pada saat itu sedang dipenuhi oleh dengan kemarahan yang sangat luar biasa.
"Ya, kita harus memaksanya untuk berbicara Gusti, hamba takut dia sebenarnya menyembunyikan sesuatu dari kita semua."
"Ya. Aku pasti akan melakukan itu, akan aku bunuh dia jika dia tidak mau berbicara." Dengan perasaan yang sangat geram ia berkata seperti itu. "Jangan sampai kita malah memelihara anak harimau yang sedang terluka, namun ketika dia sembuh dia malah menerkam daging kita semua."
Tentu saja itu tidak akan terjadi, tentu saja itulah yang mereka takutkan jika mereka membiarkan Raden Abinaya Agra tetap hidup. Karena alasan mereka membiarkan Raden Abinaya Agra hidup sampai saat ini karena mereka ingin menyiksanya. Tapi apakah mereka akan bisa melakukan itu sampai akhir riwayat Raden Abinaya Agra?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.
Raden Abinaya Agra yang dibawa penjara hanya bisa pasrah saja. Ketika itu ia dimasukkan ke penjara dengan sangat tidak manusiawi. Bukan hanya diserap paksa akan tetapi tubuhnya ditendang dengan sangat kuat.
"Kegh!." Raden Abinaya Agra merilis kesakitan ketika tubuhnya menabrak tembok yang ada di belakangnya. Tangan kirinya yang buntung benar-benar merasakan kesakitan yang sangat luar biasa.
"Jangan coba-coba kabur kau buntung, kau akan dipenggal jika kau ketahuan melakukan itu."
"Betah-betah saja kau untuk sementara waktu, dan jangan lupa banyak berdoa supaya Dewata Agung melindungi kau dari hukuman mati."
Kedua prajurit itu malah tertawa terbahak-bahak, mereka benar-benar menertawakan hidup Raden Abinaya Agra yang penuh dengan penderitaan. Setelah itu mereka pergi meninggalkan penjara, karena tugas mereka menjaga pintu penjara.
"Aku serahkan semuanya kepadamu wahai Dewata Agung yang menguasai langit dan bumi beserta isinya." Dalam hati Raden Abinaya agrawa hanya bisa berdoa saja. "Jika aku mati dalam keadaan mengenaskan seperti ini? Maka jangan tinggalkan penderitaan di dunia ini." Dalam hatinya yang dipenuhi dengan perasaan luka.
...**...