
...***...
Pagi itu Lana Serapi kembali membuat masalah, iya datang ke rumah Sulasih apakah stadion tersebut sambil meneriaki gadis itu seperti orang kesetanan.
"Sulasih! Sulasih! Hei sulasih! Aku yakin kau masih berada di rumahmu."
"Ada keperluan apa kakang datang kemari? Untuk apa lagi kakak menemui aku? Pulanglah kakak aku tidak tidak menerima tamu, apalagi tamu itu kakang!."
"Aku akan pergi dari sini setelah aku memastikan jika kau menjadi istriku."
"Aku tidak sudi menjadi istrimu! Kau sendiri yang telah membuang aku! Kau yang telah menghina aku di masa itu!."
"Aku tidak peduli dengan masa lalu! Kau yang sekarang akan aku jadikan istriku!."
Tiba-tiba saja Lana Serapi mendekati Sulasih yang masih berada di depan pintu rumahnya, ia sangat terkejut ketika Lana Serapi menyeretnya dengan sangat kasar.
"Lepaskan! Lepaskan aku! Kenapa kau menyeret aku seperti kau menyeret kambing yang takut dengan air?! Lepaskan aku! Jika kau tidak mau melepaskan aku?! Maka aku akan berteriak!."
"Lakukan saja! Jika kau berani berteriak? Maka akan aku bunuh kau!."
"Tidak! Tidak! Jangan paksa aku untuk ikut denganmu yang sudah tidak waras!."
"Diam kau sulasih!."
Sulasih semakin ketakutan dengan apa yang telah dilakukan, ia takut jika Lana Serapi benar-benar akan membunuhnya. Akan tetapi pada saat itu ia masih beruntung karena Raden Abinaya Agra dan Pusara sedang menuju ke rumah Sulasih, melihat gadis itu yang ketakutan karena perbuatan Lana Serapi.
"Kakang." Dengan usaha yang cukup kuat Sulasih menepis tangan Lana Serapi, dan ia berlari ke pelukan Raden Abinaya Agra. "Tolong aku kakang, orang gila itu hendak membawa aku ke suatu tempat, dia masih memaksa aku untuk menjadi istrinya kakang, aku sangat takut sekali."
"Kau memang lelaki bedebah lana serapi!." Pusara sangat emosi mendengarkan itu. "Kau telah menikahi adikku! Dan kau sekarang hendak menggoda wanita lain hanya karena alasan adikku sudah tidak cantik lagi?! Kau memang gila lana serapi! Akan aku bunuh kau!."
Setelah berkata seperti itu, ia segera menyerang Lana Serapi, ia sudah tidak dapat menahan diri lagi setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya, dari adiknya, dan dari raden Abinaya Agra yang merasa sangat simpati pada Sulasih. Pertarungan terjadi antara keduanya yang sebenarnya dari dulu tidak terlalu akrab. Sementara itu Sulasih yang sedang ketakutan karena apa yang ia alami tadi.
"Tenanglah nini, semuanya akan baik-baik saja."
"Terima kasih karena kakang datang ke rumah saya pagi ini, saya sangat takut karena dia menyeret saya dengan sangat kasar sekali, saya sangat takut sekali kakang."
"Saya hanya cemas dengan keselamatan nini, saya memastikan jika nini baik-baik saja, karena kabar yang saya dapatkan, jika lana serapi bukan lah orang yang baik-baik."
"Dia dulunya baik kakang, hanya saja sikapnya yang sangat kasar pada wanita, membuat ia sulit diterima di dalam kehidupan masyarakat."
"Kalau begitu nini tunggu di sini, karena saya ingin membantu kakang pusara menghadapinya."
"Kakang."
Sulasih sangat terkejut ketika ia melihat Raden Abinaya Agra yang melompat begitu saja untuk membatu Pusara berhadapan dengan Lana Serapi yang memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi. Pagi itu telah diwarnai oleh pertarungan yang sangat sengit antara tiga orang pemuda yang sedang mempertahankan apa yang mereka anggap itu adalah sebuah kebenaran yang harus mereka pertahankan.
Kembali ke masa itu.
"Kau terlihat sangat cantik sekali nini sulasih, aku sangat tertarik dan ingin mengenal lebih jauh tentang dirimu."
"Apakah kakang yakin ingin mengenal aku lebih jauh lagi?."
"Jangan menggoda aku dengan pertanyaanmu yang seperti sedang meragukan aku sulasih, tentu saja aku sangat ingin kenal denganmu, bahkan terbesit di dalam pikiranku ini ingin mempersunting dirimu."
"Ah! Kakang jangan menggoda aku dengan kata-kata seperti itu."
"Dia tidak akan menjadi istriku ayah, ibu."
"Apa yang kau katakan lana serapi? Kenapa sekarang kau mengatakan itu pada kami?."
"Katakan kepadaku dengan sangat jelas kenapa kau berkata seperti itu!."
"Aku telah menemukan gadis yang jauh lebihi cantik darinya ayah, ibu, dan statusnya dalam masyarakat sangat jelas." Tanpa perasaan ia berkata seperti itu. "Sedangkan sulasih? Aku tidak mengetahui sama sekali asal usul keluarganya, dan aku yang telah salah karena aku tidak mencaritahu tentang dirinya yang merupakan keluarga berantakan."
Deg!.
Sulasih yang mendengarkan itu sangat terkejut karena ia tidak menduga jika Lana Serapi akan berkata kejam seperti itu.
Kembali ke masa ini.
Hatinya sangat sakit mengingat itu semua, hatinya sangat terpukul dengan sangat dalam karena ucapan Lana Serapi yang sangat tidak bertanggungjawab atas perbuatannya itu.
"Dia yang telah membuang aku setelah menemukan gadis yang lebih cantik daripada aku." Hatinya sangat terluka atas kejadian saat itu.
"Kau telah bernai melukai hati adikku, dan kau bahkan berani menghina adikku dihadapan wanita lain?!." Pusara saat itu memnag telah terbawa amarah, sehingga ia menyerang Lana Serapi seperti orang kesurupan.
"Kurang ajar! Berani sekali kalan main keroyokan! Dasar pengecut!." Ia hampir saja tidak bisa menangkis serangannya itu. "Aku pasti akan membunuh kalian berdua!." Ia tidak terima jika drinya mendapatkan serangan bersamaan.
Cukup memakan waktu yang lama untuk melumpuhkan Lana Serapi karena ia sangat bersikeras untuk membawa Sulasih dari sana.
...****...
Di padepokan.
"Sepertinya kau telah mampu menahan dirimu agar tidak krasak-krusuk lagi dalam bertindak cah ayu."
"Guru?."
Purwati Sadubi sedikit terkejut dengan kedatangan gurunya.
"Apakah kau serius ingin mempelajari ilmu kanuragan itu?."
"Tentu saja guru, karena saya ingin mengetahui dengan sangat yakin jika saya memnag sangat mampu melakukan itu."
"Kau memang anak muda yang memiliki semangat yang sangat luar biasa, cinta anak muda sekarang sangat memang sangat berbeda."
"Guru ini ada-ada saja."
Purwati Sadubi hanya memaklumi apa yang telah dikatakan oleh gurunya layang senjana.
"Aku tidak melarang dirimu untuk melakukan apapun, tapi kau harus tetap fokus pada tujuanmu, ya?."
"Baik guru, ucapan guru hari ini akan saya lakukan dengan sangat sungguh-sungguh."
"Bagus jika memang seperti itu."
Aki Layang Senjana tentunya menyadarinya, hanya saja selama ini hanya diam saja karena ia tidak ingin ikut campur dengan masalah murid perempuan , jadi ia hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah.
...****...