RADEN ABINAYA AGRA

RADEN ABINAYA AGRA
ANCAMAN



...***...


Dengan suasana hati yang sangat bergemuruh ia masuk ke penjara. Hatinya yang saat itu hanya dipenuhi dengan kemarahannya sangat luar biasa.


"Gusti prabu." Kedua orang prajurit itu memberi hormat.


"Buka penjaranya."


"Sandika Gusti prabu."


Keduanya segera membuka penjara itu dengan hati-hati.


"Silakan Gusti Prabu."


Prabu Sigra Sadubi masuk ke dalam penjara, ia menatap rendah ke arah Raden Abinaya Agra yang terlihat tidak bertenaga sama sekali.


"Mana rasa hormatmu kepadaku? Kau ini benar-benar budak yang sangat kurang ajar!." Dengan suasana hati yang sangat panas ia tarik ke rambut belakang Raden Abinaya Agra ia mendongak ke atas dengan sangat paksa.


"Kegh!." Raden Abinaya Agra hanya bisa meringis kesakitan diperlakukan seperti itu.


"Aku katakan sekali lagi kepadamu! Di mana rasa hormatmu kepadaku?." Dengan kekuatan yang kuat ia tarik rambut kepala belakang Raden Abinaya Agra.


"Bagaimana hamba bisa memberi hormat kepada Gusti Prabu? Jika Gusti Prabu-."


"Kegh!."


"Kalau begitu lakukan!."


Ia lepas tarikan rambut belakang Raden Abinaya Agra, hatinya sangat kesal mendengarkan protes itu.


"Hormat hamba Gusti Prabu!." Raden Abinaya Agra memberi hormat. Pada saat itu ia hanya bisa menahan perasaan sakit yang ada di dalam tubuhnya. Hatinya hanya pasrah dengan apa yang telah dilakukan Prabu Sigra Sadubi.


"Cuih!." Ia ludahi wajah Raden Abinaya Agra dengan yang kurang ajar. "Rasanya aku tidak sedih dihormati oleh budak buruk seperti!." Apa yang ia lakukan pada saat itu benar-benar sangat menghina harga diri Abinaya Agra. "Prajurit!." Bentaknya.


"Hamba Gusti Prabu." Jawab mereka.


"Ikat kedua tangan orang buntung ini ke tiang gantung yang ada di sana. Akan aku buat dia mengakui apa yang telah dia rahasiakan." Itulah perintahnya dengan suara yang sangat kuat.


"Sandika Gusti Prabu." Mereka semua menyiapkan tali yang tepat untuk mengikat Raden Abinaya Agra.


"Memangnya apa yang akan Gusti Prabu perbuat kepada hamba?." Raden Abinaya Agra sangat takut.


"Akan aku buat kau mengakui apa yang telah kau sembunyikan dariku!."


"Tapi hamba tidak melakukan apapun. Bukankah Gusti prabu telah mencabut kekuatan hamba?."


"Kau tidak usah banyak bicara!." Bentaknya. "Jika kau terbukti masih memiliki kekuatan? Maka akan aku siksa kau sampai mati!." Itulah ancaman yang ia bayangkan saat itu.


"Lakukanlah jika itu membuat Gusti Prabu merasa lebih puas, hamba akan menerimanya dengan lapang dada."


"Kau tidak usah banyak bersandiwara, kau pikir aku akan merasa tenang hanya dengan begitu saja kau berbicara seperti itu?." Ia tidak merasa simpati sedikitpun. "Heh! Kau itu keturunan raja yang sangat busuk! Aku tahu kau sembunyi-sembunyi akan menusukku dari belakang suatu hari nanti."


Tidak ada tanggapan dari Raden Abinaya Agra, ia hanya pasrah saja dengan apa yang akan dilakukan Prabu Sigra Sadubi, apalagi ketika tangannya itu menyeret tubuh Raden Abinaya Agra dengan sangat paksa. Sungguh, manusia yang sama sekali tidak memiliki perasaan kemanusiaan terhadap orang lain.


"Prajurit! Ikat tangannya!." Suaranya terdengar semakin sangat keras.


"Baik Gusti prabu." Dengan senang hati mereka akan melakukan itu.


"Kau akan menerima akibatnya." Dalam hati Prabu sigra sadubi sangat senang dengan apa yang akan ia lakukan.


"Hamba serahkan semuanya hanya kepadamu, Dewata Agung yang memiliki kehidupan di dunia ini." Dalam hatinya benar-benar pasrah atas apa yang akan menimpa dirinya.


...***...


Di kediaman Gayatri Sadubi.


Dalam keadaan gelisah seperti itu tiba-tiba saja ada seorang prajurit yang datang kepadanya.


"Gusti Putri." Ia memberi hormat.


"Ada apa prajurit?."


"Saat ini si budak sedang berada di dalam penjara."


Deg!.


Tentu saja ia sangat terkejut dengan kabar yang ia dapatkan. Apakah karena itu?. Orang yang ditunggunya sangat lama?.


"Memangnya apa yang telah dia lakukan sehingga dia berada di penjara?."


"Menurut kabar yang hamba dapatkan, di budak telah membuat keributan di pasar kota raja dengan bertarung dengan tiga orang pendekar, hamba rasa itulah alasan kenapa si budak di bawa ke penjara istana."


"Baiklah, kalau begitu kau boleh pergi."


Setelah memberi hormat kepada Gayatri Sadubi?. Prajurit itu kembali bertugas untuk menjaga pintu gerbang rumah kediaman Gayatri Sadubi.


"Benar-benar sangat kurang ajar!." Tiba-tiba saja gejolak emosinya berubah begitu sangat cepat. "Bagaimana mungkin dia malah membuat keributan di pasar kota raja? Apakah dia ingin mencari mati dengan melakukan itu?." Tidak habis pikir olehnya apa yang telah dilakukan oleh si budak sehingga ia dimasukkan penjara?. "Jika dia tidak kembali juga malam ini? Maka aku akan makan dengan apa?. Benar-benar otak dangkal!." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikirannya saat itu. Suasana hatinya benar-benar sangat bergemuruh.


...***...


Saat itu mereka sedang beristirahat di kamar murid perempuan. Tentu saja mereka beristirahat setelah melakukan aktivitas yang lumayan banyak. Akan tetapi ada salah satu murid yang menegur Purwati Sadubi yang terlihat sedang merenung.


"Ada apa nimas?."


"Oh?. Tidak apa-apa, aku hanya sedang berpikir saja."


"Jangan terlalu memikirkan hal yang berat-berat, nanti wajah nimas terlihat tua."


"Ahahaha!."


Mereka semua malah tertawa mendengarkan ucapan teman mereka itu. Begitu juga dengan Purwati yang berusaha untuk menguatkan dirinya. Suasana hatinya saat itu benar-benar sangat kacau karena pikirannya hanya tertuju kepada Raden Abinaya Agra yang berada di kota Raja.


"Aku sangat cemas dengan keadaan Raden abinaya agra yang entah bagaimana nasibnya saat ini." Dalam hatinya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada Raden Abinaya agar selama ia tidak ada. "Aku harap Raden baik-baik di sana, aku takut mereka memang ingin mencari-cari kesalahanmu raden." Tentu saja ia mengetahui bagaimana niat buruk mereka selama ini yang menyiksa Raden Abinaya Agra secara perlahan-lahan.


...***...


Penjara Istana.


Pada saat itu mereka sedikit kebingungan bagaimana caranya mengikat tangan Raden Abinaya Agra bagian kiri?.


"Bagaimana caranya mengikat tangannya yang satu lagi Gusti?."


"Ikat saja lengan buntungnya itu!."


"Baik Gusti."


"Kegh!." Raden Abinaya Agra meringis kesakitan karena tangannya merasa sakit.


"Aku tidak gesekan-segan untuk melakukan hal yang lebih kejam kepadamu. Jika kau berani berbohong kepadaku!." Prabu Sigra Sadubi sepertinya tidak akan memberi pengampunan kepada Raden Abinaya Agra. "Sekarang jawab pertanyaanku!." Ucapnya sambil mengeluarkan sebuah cambuk yang sangat kuat. "Apakah kau menyimpan kekuatan tenaga dalam tanpa aku ketahui?." Itu adalah pertanyaan pertama yang ia ajukan.


"Tidak mungkin hamba bisa melakukan itu Gusti Prabu."


CTAR!.


"Eagkh!."


Kulitnya terasa sangat sakit Dan hampir saja mengelupas ketika ia merasakan bagaimana cambuk itu mendarat di punggungnya dengan sangat kuat. Meskipun kulitnya dilapisi oleh pakaian?. Akan tetapi rasa sakitnya ditimbulkan dari canbuk itu tidaklah main-main.


"Aku tanyakan sekali lagi kepadamu?!. Apakah kau benar-benar tidak memiliki kemampuan apapun untuk bertarung saat itu?."


"Kegh!." Raden Abinaya Agra meringis kesakitan. "Hamba telah mengatakan dengan sejujurnya, jika hambatan sama sekali tidak memiliki kemampuan apapun untuk mengeluarkan ilmu tenaga dalam."


Cambuk itu tidak segan-segan mendarat di tubuh Raden Abinaya Agra, hingga terdengar suara teriakan yang sangat kuat.


CTAR!.


"Eagkh!."


"Kau masih saja ingin berbohong kepadaku?!."


CTAR!.


"Eagkh!."


Berkali-kali tubuh itu terkena cambukan, serta teriakan Raden Abinaya Agra yang sangat kuat menambah suasana menjadi mencekam seketika.


"Apakah kau benar-benar ingin dihajar sampai mati?." Prabu Sigra Sadubi berjongkok karena Raden Abinaya Agra tertunduk sambil menahan sakit yang mendera tubuhnya. "Apakah segitu inginnya kau ingin mati sehingga kau tidak ingin menjawab dengan jujur pertanyaanku?."


"Hamba telah berkata dengan jujur Gusti, hamba telah berkata dengan sejujurnya."


CTAR!.


"Eagkh!."


Kembali satu cambukan melayang tepat di punggung Raden Abinaya Agra dengan sangat kuat. Rasanya tidak ada hentinya penderitaan yang ia rasakan saat itu.


"Mohon ampun Gusti Prabu." Ada seorang prajurit yang datang dari arah luar..


"Ada apa kau datang ke sini?." Suasana hatinya sedang kesal saat itu.


"Di halaman istana ada seseorang yang ingin bertemu dengan Gusti Prabu."


"Siapa orang itu?."


"Katanya dia adalah orang yang menjadi saksi apa yang telah terjadi di pasar kota Raja saat itu Gusti."


Prabu Sigra Sadubi pada saat itu tampak sedang berpikir dengan apa yang telah dikatakan oleh prajurit itu?.


"Aku akan menemuinya." Ia juga penasaran, siapa yang hendak bertemu dengannya saat itu. "Kau masih selamat hari ini." Ia melihat ke arah Raden Abinaya Agra sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


"Anggap saja itu benar." Dalam hati Raden Abinaya Agra hanya berpasrah diri dengan apa yang telah terjadi pada dirinya saat itu juga.


Next.


...***...