
...***...
Satu minggu berlalu, saat itu Raden Abinaya Agra dan Sulasih baru saja kembali dari bukit selatan desa Tiga Daun. Mereka mengambil beberapa tanaman obat yang ada di sana, tentu saja untuk memulihkan beberapa orang yang sakit. Tapi yang menjadi pertanyaannya?. Sejak kapan Raden Abinaya Agra bisa meramu obat?. Bisa mengobati orang lain dengan kemampuannya?. Aneh sekali jika semuanya mendadak dan terkesan memaksa?. Tentu saja semuanya berproses, bahkan jauh sebelum kejadian pembantaian itu, Raden Abinaya Agra mempelajari itu semua bersama Hasra.
"Apakah kakang merasa kerasan berada di sini? Sepinya kakang memang diterima dengan sangat baik oleh penduduk desa tiga daun."
"Saya juga merasa senang, karena di desa ini saya bisa membantu siapa saja."
"Tapi tidak dengan aku!."
"Kakang lana serapi?."
Akan tetapi pada saat itu ada seorang pemuda yang datang dengan sangat marah, ia terlihat tidak bersahabat sama sekali, ada kemarahan yang ia tunjukkan saat itu.
"Bagus! Kau masih ingat dengan namaku? Wajahku?." Hatinya sedang panas karena melihat wanita yang sangat ia cintai sedang bersama laki-laki lain?. "Aku pikir kau sudah lupa dengan kekasihmu ini?! Karena kau sudah dekat dengan orang buntung itu!." Suaranya bahkan terdengar meninggi, seakan-akan ia sedang menggambar suasana hatinya yang sedang marah membara.
"Kakang! Jangan kakang berkata seperti itu pada kakang abinaya agra!."
"Hebat! Bagus! Bahkan kau dengan sangat mudahnya menyebut nama lengkap orang buntung itu! Bukankah kau telah mengetahui? Dia adalah seorang budak?." Bahkan ia menghina Raden Abinaya Agra. "Atau jangan-jangan kau mau menaruh hati kepadanya? Kini kau telah berpaling dariku karena wajah tampannya itu?." Dari raut wajahnya terlihat sangat jelas ia sangat kecewa pada Sulasih.
"Kakang jangan keterlaluan, kakang abinaya agra tidak terlibat dalam masalah di antara kita." Sulasih juga tidak bisa menahan dirinya agar tidak mengeluarkan amara "Bukankah kau sendiri yang memutuskan untuk pergi meninggalkan aku? Kau sendiri yang datang kepadanya, kau rendahkan aku di hadapan kedua orang tuamu karena kau lebih memilihnya daripada aku?!." "Apakah kau sudah lupa dengan perbuatan keji mu itu kepadaku?."
"Heh! Itu hanyalah masa lalu, dan sekarang aku sudah bosan dengannya." Tanpa perasaan ia berkata seperti itu. "Dia sudah tidak cantik lagi setelah dia mengurus anakku, ia sudah tidak pandai berkemas seperti dahulu lagi." Teriaknya dengan sangat keras, ia benar-benar terbawa suasana ketika ia mengingat masa lalu. "Aku sudah tidak menaruh hati kepadanya sejak dia tidak bisa lagi mengurus dirinya."
"Kau sungguh sangat keterlaluan sekali kakang, hanya karena dia tidak bisa mengurus dirinya? Sekarang kau ingin balikan lagi denganku? Jangan kau bermimpi di siang hari lana serapi! Aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah kau katakan kepadaku saat itu!." Hatinya sangat sakit mendengarkan ucapan Lana Serapi yang menurutnya tidak memiliki hati nurani sebagai seorang laki-laki. "Bagaimana kau menghina dan merendahkan diriku? Sampai saat ini masih tersimpan luka yang sangat luar biasa yang ada di dalam hatiku saat ini, tanpa perasaan sedikitpun kau meninggalkan aku!." Hatinya sangat sakit mengingat bagaimana itu terjadi. "Apakah kau pikir aku akan bisa hidup tenang? Aku tidak sedih lagi menginginkan hidup bersamamu!." Hampir saja ia menangis mengingat masa lalu.
"Diam kau sulasih! Apapun yang akan terjadi kau akan aku jadikan istriku!." Ia masih saja bersikeras.
"Sudah aku katakan! Aku tidak Sudi menjadi istrimu!."
Perdebatan itu benar-benar menguras emosi, sehingga saat itu mereka berdebat sangat sengit karena mempertahankan masa lalu, dan mereka berada dipihak yang berseberangan. Raden Abinaya Agra yang mendengarkan itu merasa tidak enak hati, rasanya tidak baik jika ada dua orang yang dulunya saling mencintai?. Tapi sekarang mereka sedang bertengkar karena masalah hati yang ingin dipertahankan?.
"Maaf tuan, tidak baik jika tuan berbicara pernah ada tinggi seperti itu terhadap seorang wanita." Raden Abinaya Agra mencoba menenangkan keduanya, tapi apa?.
"Diam kau orang buntung! Aku tidak berbicara denganmu! Dan kau tidak usah ikut campur dengan urusan kami!."
Bahkan Raden Abinaya Agra juga kena imbasnya, ia merasa cemburu karena bisa berjalan santai bersama Sulasih?.
"Sudahlah kakang, sebaiknya kita tidak usah terlibat lagi dengan orang seperti dia." Sulasih hanya tidak ingin Raden Abinaya Agra dalam masalah. "Dari dulu dia hanya memiliki sifat hati yang sangat busuk, jika ada wanita yang lebih cantik daripada aku? Mungkin dia juga akan menikahi wanita itu dan menjadikannya istri."
"Hei! Tunggu! Berani sekali kau pergi begitu saja!."
"Sabar tuan, jangan terlalu menuruti amarah." Raden Abinaya Agra merasa simpati. "Tenangkan dulu diri tuan, jika tuan telah merasa tenang? Barulah tuan bisa berbicara dengan baik, jika tuan sedang dikuasai oleh amarah? Tuan tidak akan bisa menyampaikan niat baik tuan." Ia hanya tidak ingin ada yang bertengkar.
"Banyak bicara!."
"Kakang abinaya agra!."
Sulasih sangat terkejut karena Lana Serapi malah menyerang Raden Abinaya Agra, ia telah terbawa amarah yang sangat membara, bahkan ia tidak lagi menahan dirinya untuk membunuh Raden Abinaya Agra.
...***...
Sementara itu di pinggiran aliran sungai, Purwati Sadubi sedang bersama temannya yang tadinya mencuci pakaian, sekalian mengambil air untuk keperluan?. Akan tetapi pada saat itu ia mendadak berhenti, membuat temannya itu kebingungan.
"Raden abinaya agra, entah kenapa aku merasakan ia dalam bahaya." Dalam hatinya merasakan ada bahaya yang sedang mengintai Raden Abinaya Agra, pemuda gagah yang ingin ia jaga di kehidupan dunia ini.
"Nimas? Kenapa kau melamun? Apakah kau mulai kambuh lagi?." Berkali-kali ia panggil namun masih saja belum ada tanggapan?.
"Lupakan saja, aku sedang memikirkan gerakan yang diajarkan guru, hanya saja aku rasa ada yang aneh dengan gerakan itu." Ia mencoba untuk bersikap biasa saja, ia tidak mau temannya itu kembali membaca apa yang ada di dalam pikirannya saat itu, sehingga ia mengalihkan topik pembicaraan.
"Dari sudut mana terlihat aneh? Aku tidak merasakan keanehan sedikitpun."
"Hm, mungkin firasat ku saja."
"Kau ini ada-ada saja nimas, sudahlah mari kita lanjutkan perjalanan kita, karena masih banyak yang harus dikerjakan setelah mencuci pakaian ini."
Mungkin itu terdengar aneh, hanya saja ia sedang menenangkan hatinya agar tidak terlalu cemas dengan keselamatan Raden Abinaya Agra yang masih berada di kota Raja.
"Aku harap Raden baik-baik saja, aku sangat takut jika terjadi sesuatu padamu Raden." Dalam hatinya selalu berdoa untuk Raden Abinaya Agra. "Aku harap Raden lebih berhati-hati lagi." Suasana hatinya tidak akan pernah tenang sama sekali jika ia tidak bisa memastikan keselamatan Raden Abinaya Agra. "Aku bersumpah akan belajar sungguh-sungguh dalam satu purnama ini demi kita bisa hidup bersama." Dalam hatinya sangat cemas, dan berharap Raden Abinaya Agra tidak mengalami kesulitan jika ia tidak ada.
...***...
Di istana.
Saat itu Prabu Sigra Sadubi merasa aneh dengan sikap adik bungsunya itu, tidak biasanya ia melihat adiknya seperti gambaran orang depresi ditinggal oleh seorang suami dalam waktu yang sangat lama.
"Apa yang membuat kau datang menemui aku gayatri sadubi? Apalagi wajahmu terlihat sangat pucat sekali, apakah kau memiliki masalah?."
"Aku hanya tidak enak badan saja raka, aku tidak ingin bekerja sendirian lagi, aku membutuhkan teman yang bisa aku ajak untuk berbicara, ataupun sekedar bercanda."
"Jadi kau merasa kesepian setelah budak itu pergi?."
"Raka prabu jangan bicara sembarangan! Aku sama sekali tidak kesepian hanya karena budak buntung itu!."
"Kalau kau memang tidak kesepian karena budak buntung itu? Kenapa kau meminta teman padaku? Bahkan kau terlihat aneh setelah kepergiannya!."
Tentu saja sang Prabu sangat heran dengan sikap adiknya yang tidak biasa itu, bahkan tidak percaya jika Gayatri Sadubi berani meninggikan suaranya?.
"Bahkan saat ini kau saat ini berani berkata dengan nada tinggi di hadapanku!." Entah kenapa sang Prabu merasa sangat kesal. "Apakah kau mulai menaruh hati padanya? Hingga kau terlihat seperti orang yang kehilangan kendali saat ini?!."
"Maafkan aku raka Prabu, aku tidak bermaksud seperti itu." Ia merasa bersalah karena telah meninggikan suaranya. "Hanya saja aku sangat kesal, biasanya aku selalu marah-marah setiap paginya, siangnya, malamnya, bahkan sebelum tidur aku selalu marah-marah." Ia hanya menyampaikan apa yang ia rasakan. "Tapi setelah budak pergi? Rasanya aku benar-benar merasa aneh, karena Tidka ada satupun orang yang bisa aku marah-marah lagi."
"Baiklah, kalau begitu akan aku kembalikan dia padamu dua purnama lagi, karena aku tidak berada di istana ini dalam beberapa waktu yang agak lama." Prabu Sigra Sadubi mencoba untuk menahan amarahnya agar tidak marah pada adiknya.
"Memangnya raka prabu mau ke mana? Apakah raka Prabu akan menyempurnakan kekuatan ilmu kanuragan raka?."
"Bisa jadi seperti itu, aku juga ingin ke makan ayahanda dan ibunda, aku sangat merindukan mereka."
"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu, aku akan kembali." Ia harus mencoba untuk menahan dirinya. "Terima kasih untuk hari ini raka Prabu, sampurasun." Setelah memberi hormat pada kakaknya, ia pergi meninggalkan ruangan itu.
"Rampes." Balas sang Prabu sambil menghela nafas. "Jangan sampai adikku gayatri juga jatuh cinta pada budak buntung itu." Terbesit dalam hatinya bahwa sang Prabu tidak rela jika itu terjadi. "Aku pastikan dia akan mendapatkan hukuman mati jika adikku memang sampai jatuh hati padanya." Hatinya sangat tidak terima itu. "Ayahanda dan ibunda juga tidak akan rela jika memang kedua adikku sampai jatuh hati pada keturunan raja kejam yang telah membunuh mereka." Hatinya masih dendam atas apa yang telah menimpa keluarganya, sang Prabu masih ingat bagaimana ketika prajurit istana menyeret kedua orang tuanya dengan sangat tidak manusiawi atas perintah Prabu Maharaja Abinaya Bagaskara. Luka itu tidak bisa sembuh begitu saja dari hatinya.
...*** ...