RADEN ABINAYA AGRA

RADEN ABINAYA AGRA
RAHASIA MENJADI RAJA



...***...


Raden Abinaya Agra malam itu hanya berdiam diri saja di biliknya, suasana hatinya masih terguncang ketika melihat bagaimana kondisi para pemuda yang terlibat alam pemberontakan itu.


"Istirahatlah Raden, hamba akan menjaga Raden." Hasra degan penuh kesabaran menenangkan Raden Abinaya Agra agar tidak melakukan hal yang aneh-aneh dalam kondisinya yang seperti itu. "Istirahatlah, tenangkan diri Raden, ya?."


"Terima kasih hasra, kau sangat membantu sekali." Perlahan-lahan Raden Abinaya Agra mencoba untuk memejamkan matanya.


"Sama-sama Raden." Dengan senyuman ramah ia berkata seperti itu sambil mengelus kepala Raden Abinaya Agra. "Aku harap Raden abinaya agra tidak gila setelah melihat bagaimana kejadian itu, aku sangat yakin dia mengalami trauma yang sangat dalam atas apa yang ia lihat hari ini." Dalam hati Hasra sangat merasa simpati atas apa yang telah dialami Raden Abinaya Agra.


Setelah merasa agak aman Hasra melangkah menuju keluar bilik Raden Abinaya Agra, namun ketika ia keluar?.


"Bukankah kau hasra? Bagaimana mungkin kau bisa berada di bilik rayi abinaya agra?." Raden Abinaya Admaja sedikit terkejut melihat Hasra yang keluar dari bilik adiknya.


"Raden." Hasra memberi hormat. "Maaf jika hamba lancang, tadi hamba membawa Raden abinaya agra yang terpukul setelah melihat bagaimana rakyat yang menerima hukuman mati dari Gusti Patih gardapati mahawira di alun-alun istana." Raut wajahnya terlihat sangat sedih.


"Jadi rayi abinaya agara melihat itu?." Perasaannya sama sekali tidak enak dengan itu.


"Seperti itulah yang terjadi Raden, maaf karena hamba tidak bisa mencegahnya." Ada perasaan bersalah yang ada di dalam hatinya.


"Harusnya kau bisa mencegah itu, karena rayi abinaya agra belum cukup umur untuk melihat ini, dan aku tidak mau kejadian yang sama terulang lagi pada siapapun." Ia tentunya sangat ngeri melihat pemandangan itu. "Kau jangan sampai menceritakan masalah itu padanya, ataupun membiarkannya melakukan hal yang sama dengan apa yang telah dilakukan oleh rayi abinaya pasopati, aku harap kau bisa menjaganya dengan baik hasra." Hanya itu saja harapannya. "Kau tahu sendiri, kan? Bagaimana kejamnya ayahanda Prabu jika ada yang tidak suka dengan apa yang ia lakukan?."


"Sebisa mungkin hamba akan menjaga Raden abinaya agra, agar tidak melakukan hal yang ceroboh seperti itu Raden."


"Harus! Kau aku tugaskan untuk menjaganya, karena aku tidak mau kehilangan saudara dengan cara yang kejam seperti itu!." Tatapan matanya terlihat sangat mengerikan.


"Hamba hanya bisa melakukan yang terbaik, tapi hamba berjanji akan melindunginya, menjaganya dari hal-hal yang tidak diinginkan."


"Jika kau mengalami masalah nanti, cepat laporkan kepadaku apapun yang terjadi nantinya."


"Sandika Raden."


Raden Abinaya Admaja pergi meninggalkan tepat itu, ia menuju biliknya. "Aku tidak ingin apa yang terjadi pada rayi abinaya pasopati juga terjadi pada rayi abinaya agra, jangan sampai masa kelam itu terulang kembali." Dalam hatinya sangat tidak ingin itu terjadi. Suasana hatinya benar-benar bergemuruh sangat hebat, ia tidak bisa membayangkan bagaimana adiknya yang sedang dipenuhi dengan perasaan ingin rasa tahu cukup tinggi di dalam kehidupannya sekarang.


Kembali ke masa ini.


Malam yang cukup sepi, saat itu Raden Abinaya Agra sedang duduk termenung di halaman pendopo rumahnya. Ia mengingat bagaimana hatinya yang sangat hancur dengan apa yang telah terjadi di masa lalu.


"Raka abinaya atmaja, rayi abinaya adikara, yunda gantari wardani, yunda dyah arjanti." Dalam hatinya mengingat semua saudara-saudaranya yang telah tiada. "Apakah kita tidak boleh menyalahkan takdir atas apa yang telah terjadi? Aku sangat kesepian karenakan kalian tidak ada di sini untuk memarahi aku, memukul aku, ataupun menyuruh aku ini itu untuk dijadikan budak dadakan." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja mengingat bagaimana masa lalu yang telah mereka hadapi selama ini. "Hasra, kau juga adalah orang yang sangat membantu aku selama kau hidup, seseorang yang selalu ada ketika aku tidak bisa lagi bangkit untuk mencapai sesuatu." Hatinya semakin perih ketika mengingat masa lalu. "Kau bahkan melindungi aku sampai akhir hayat mu hasra, apakah kau tidak bisa bangkit kembali untuk menemani aku yang kesepian di sini?." Dalam hatinya semakin sesak ketika ia membayangkan Harsa yang kini berada di sampingnya.


"Raden tenang saja, hidup ini memang keras, tapi kita tidak boleh terbawa suasa, karena memang seperti itulah hidup yang sesungguhnya, jadi Raden harus kuat menjalani kenyataan hidup yang lebih menyakitkan dari apa yang kita impikan selama ini."


Raden Abinaya Agra selalu ingat dengan apa yang dikatakan Hasra padanya, dadanya terasa sangat sakit, sesak dan tidak bisa mengendalikan dirinya ketika ingatannya tertuju pada Hasra. "Jika kau melihat kondisi aku yang seperti ini? Apa yang akan kau katakan padaku hasra? Tolong jawab aku." Perlahan-lahan suara isak tangisnya mulai terdengar, ia tidak dapat lagi menahan perasaan sakit itu dalam waktu yang lama.


"Raden adalah orang yang kuat, biarpun esok hari turun hujan duri yang mengandung racun kesakitan, maka Raden tidak boleh menyerah, Raden adalah sosok kuat yang akan berjuang demi bertahan hidup."


Deg!.


...***...


Keesokan harinya.


Di sebuah tempat yang cukup sepi, tepatnya di sebuah tempat pedalaman di mana ada beberapa orang yang mencoba melakukan pemberontakan?.


"Malam ini kita berkumpul untuk menyusun rencana pemberontakan, kita tidak akan tinggal diam saja ketika harga diri kita diinjak-injak oleh rakyat jelata yang telah berhasil mengambil istana dalam satu sasi ini."


"Kita juga akan melakukan dengan cara yang sama untuk merebut kembali istana kerajaan."


"Tapi apa yang akan kita lakukan jika kita berhasil mengambil alih istana?."


"Kau ini bodoh atau apa? Tentu saja kita bisa meneruskan pemerintahan yang telah didirikan Gusti Prabu Maharaja abinaya bagaskara! Memangnya apa lagi?!." Ada kemarahan yang ia rasakan saat itu.


"Tapi singgasana itu sebenarnya tidak sepenuhnya sah di tangan siapapun juga jika dia tidak memiliki darah keturunan abinaya."


"Apa yang kau katakan? Bukankah sudah sangat jelas? Bahwa Raja busuk yang memimpin negeri ini berasal dari kalangan rakyat jelata?! Apakah kau lupa itu?."


Seketika pertemuan rahasia itu menjadi suasana yang cukup menyeramkan karena perdebatan mereka mengenai trah keturunan Raja yang sah itu seperti apa?.


"Dia tidak patut berbangga hati hanya karena dia berhasil mengenakan mahkota kebesaran dari kerajaan ini, tapi hal yang sangat penting ketika seorang keturunan yang sah dari keluarga abinaya ada tiga hal."


"Tiga hal?!."


Mereka semua sangat terkejut mendengarkan ucapan itu, karena mereka tidak menduga sama sekali ada syarat tertentu jika ingin menjadi Raja?.


"Dari apa yang diceritakan kakek ku dahulu, yang mengetahui tentang garis keturunan sah dari Raja itu mereka memiliki darah langsung dari Raja abinaya ada tiga hal." Ia mencoba untuk mengingat kisah itu. "Pertama memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi untuk memanggil panah api dewa bagaskara, karena panah api tersebut dapat menjadi kekuatan yang sangat dahsyat untuk memusnahkan suatu negara."


Mereka semau dapat menyimak dengan baik-baik bagaimana asal-usul Raja-Raja yang memimpin negeri mereka.


"Kedua, mereka yang dapat memanggil garuda emas yang menjadi tunggangan Raja ketika bertarung di udara, dan ketiga adalah mereka yang memiliki hati nurani serta mata yang baik untuk melihat apa yang ada di dalam hati seseorang."


Mereka semua tercengang mendengarkan apa yang telah dikatakan Rupan dalam menjelaskan keturunan sah yang memimpin negeri ini?.


"Tapi aku sangat ragu jika mendiang Gusti Prabu Maharaja abinaya bagaskara memiliki yang ketiga."


"Aku juga ragu tentang itu, sebab raja kita terkesan sangat kejam pada siapapun juga."


"Tapi faktanya beliau menjadi raja ini."


Apakah yang tejadi sebenarnya?. Simak terus ceritanya.


...**...