
...**...
Raden Abinaya Agra sedang berada di sebuah tempat yang cukup sepi, ia mencoba untuk menenangkan dirinya setelah mengikuti pemakaman 20 orang pemuda yang telah berjuang mempertahankan harga diri mereka sebagai manusia. Kesedihan yang ia rasakan sangat dalam, hingga ia tidak mampu menahan perasaan yang mendesak di dadanya.
"Rasanya hatiku mati rasa, semuanya terasa sangat kelam, hatiku sakit dari pada apa yang aku bayangkan selama ini." Nafasnya naik turun karena menahan segala perasaan sesak. "Apakah aku-."
"Raden." Seseorang menyapanya dengan suara yang penuh rasa simpati. "Raden seperti seorang penyair yang sedang mengungkapkan sakit, dan kesedihan yang ia rasakan." Ia mendekati Raden Abinaya Agra yang terduduk bersandar di sebuah pohon yang cukup besar. Ia tampak terluka sangat dalam, hingga ia memperlihatkan bagaimana suasana hatinya saat itu seperti apa.
"Kau jangan mengejek aku hasra, jika kau yang berbicara semakin sakit rasanya." Raden Abinaya Agra menangis terisak, ia tidak dapat lagi menyembunyikan rasa sakit itu.
"Tenanglah Raden, jangan terlalu terbawa suasana, hidup ini memang sangat kejam, karena itulah Raden harus kuat ketika melihat hal-hal yang menyakitkan." Harsa memeluk Raden Abinaya Agra, ia mencoba untuk menenangkannya.
"Apakah dari dulu ayahanda Prabu selalu kejam seperti itu? Apakah memang tidak ada yang menghentikan ayahanda Prabu agar tidak melakukan kekejaman pada rakyatnya sendiri?." Dadanya terasa sangat sesak membayangkan bagaimana kondisi 20 orang pemuda yang dicambuk sampai mati?.
"Sepertinya Raden harus banyak belajar lagi, supaya Raden memahami apa yang telah terjadi pada keluarga Raden." Hasra menggendong Raden Abinaya Agra. Namun saat itu tidak ada tanggapan dari Raden Abinaya Agra karena ia sedang dalam kondisi yang tidak baik.
"Tidak tega juga melihatnya yang menyedihkan seperti ini, hatinya sangat rapih, mudah terbawa suasana, walaupun dia terlahir dari bapak yang sangat kejam." Dalam hati Hasra merasa sangat simpati dengan apa yang telah terjadi pada Raden Abinaya Agra. "Kalau begitu hamba akan membawa Raden ke bilik, supaya Raden bisa menenangkan diri." Bisiknya.
"Apakah aku terlihat sangat menyedihkan bagimu? Sehingga kau begitu mengasihani aku?." Dadanya semakin terasa sangat sesak. "Apakah setiap hati yang diberikan sang hyang Widhi itu berbeda-beda? Sama? Atau seperti apa? Sehingga mereka tidak memiliki hati nurani untuk menilai sebatas mana sifat kemanusiaan yang ia miliki."
"Itu semua tergantung pada manusianya Raden, termasuk pada Raden sendiri mau menggunakan hati nurani Raden seperti apa."
"Kalau begitu ajarkan aku semua tentang hati nurani manusia, aku ingin mengetahui itu semua."
"Baiklah, kalau begitu Raden tenangkan diri dahulu, setelah itu akan hamba akan membantu Raden menjawabnya." Dengan suara yang sangat lembut ia berkata seperti itu. "Kau akan menjadi anak yang kuat suatu hari nanti Raden." Dalam hatinya hanya berharap seperti itu.
...***...
Di rumah yang cukup sederhana.
Purwati Sadubi sedang menghidangkan makanan untuk kakak laki-lakinya.
"Ada apa kakang? Apakah kakang sedang memikirkan sesuatu?." Ia duduk di depan kakaknya sambil menyodorkan segelas air. "Jika kakang memiliki masalah yang sangat berat, kakang bisa menceritakan padaku apa masalahnya? Semoga saja aku bisa membantumu kakang."
"Aku hanya sedang memikirkan bagaimana caranya memasukkan mu ke dalam istana tanpa adanya rasa curiga sedikitpun." Raut wajahnya terlihat sangat serius dari yang sebelumnya.
"Jika masalah itu kakang tidak perlu cemas, dengan sangat mudah aku bisa masuk tanpa adanya resiko yang berarti."
"Kau tampak percaya diri sekali, memangnya kau mampu melakukan itu?." Ia mengambil gelas yang diberikan adiknya.
"Kakang jangan meremehkan kemampuan aku, percaya saja jika aku memang mampu melakukan itu." Kali ini ia menyodorkan sepiring nasi pada kakaknya.
Sigra Sadubi tersenyum kecil sambil mengambilnya. "Baiklah, jika memang kau percaya bisa melakukan itu, maka lakukan dengan baik." Ia mengetahui bagaimana kemampuan adiknya. "Aku hanya ingin kau mendapatkan informasi yang sebanyak-banyaknya demi mendukung kita semua."
"Jika masalah itu kakang tidak perlu cemas, aku pasti akan mendapatkan apapun yang kakang inginkan."
"Terima kasih purwati, kau adalah adik yang paling bisa aku andalkan."
"Sama-sama kakang."
"Tapi jangan lupa kau mampir dulu untuk melihat adikmu gayatri."
"Tentu saja kakang."
Apakah yang akan mereka lakukan?. Simak dengan baik kisah ini.
...***...
Mereka bertiga baru saja menyelesaikan masalah yang lumayan rumit, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk beristirahat.
"Siapa yang menduga akan selesai sampai malam." Sungut Raden Abinaya Adikara dengan sangat kesalnya. "Ini namanya pemerasan tenaga kerja, bukan meminta bantuan." Lanjutnya.
Saat itu mereka bertiga menuju kaputren untuk mengantar Putri Dyah Arjanti.
"Lihat itu yunda? Betapa tidak tahu terima kasihnya raka pada kita setelah dia merengek meminta bantuan pada kita." Raden Abinaya Adikara sangat kesal pada kakaknya.
"Kalau begitu besok, kita tetap latihan saja, rasanya tidak ada gunanya kita memantu raka yang tidak tahu terima kasih." Putri Dyah Arjanti juga sangat kesal.
"Hahaha! Aku hanya bercanda saja, jangan menanggapinya dengan serius, aku hanya menghibur kalian saja."
"Kami tidak butuh hiburan dari raka seperti kau!."
"Kekompakan kalian menyakiti hatiku."
"Diam kau abinaya admaja! Kau benar-benar sangat menyebalkan!."
"Jangan berkata kasar pada rakamu ini."
"Kau yang membuat kami berkata kasar raka!."
"Baiklah, kalau begitu terima kasih atas bantuan kalian."
"Tidak usah, rasanya aku ingin memukul raka sampai pingsan, raka menyebalkan sekali."
"Rasanya aku juga ingin memukulmu raka, karena kau telah memberikan beban yang sangat menyebalkan pada kami."
"Jangan berkata seperti itu, rasanya aku ingin menangis mendengarkan apa yang kau katakan padaku, kuatkan hati hamba sang hyang Widhi."
Raden Abinaya Admaja malah bersandiwara seakan-akan ia yang paling tersakiti karena kedua adiknya yang bersamaan menyerangnya dengan ucapan seperti itu.
...***...
Prabu Maharaja Abinaya Bagaskara saat itu sedang memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah pemberontakan yang sangat meresahkan tatanan pemerintahannya selama ini.
"Meskipun Patih gardapati mahawira mengatakan ancaman itu dapat menghentikan mereka? Entah kenapa aku dapat merasakan bagaimana mereka saat ini masih memiliki bibit api pemberontakan yang sengaja mereka siapkan." Dalam hatinya masih memikirkan apa yang telah terjadi.
"Kanda prabu." Bisik Ratu Dyah Chandrawati.
"Oh? Dinda, apa yang dinda lakukan di sini?." Ia mendekati istri pertamanya dengan senyuman yang manis.
"Apa yang membuat kanda Prabu belum tidur? Apakah kanda Prabu sedang memikirkan bagaimana caranya menghentikan pemberontakan yang telah mereka lakukan?." Ia duduk di samping istrinya yang tampak anggun malam itu.
"Selain cantik, kau juga selalu memahami apa yang aku pikirkan dinda." Sang Prabu merangkul istrinya dengan sangat mesranya. "Itulah yang membuat aku jatuh cinta padamu tanpa adanya rasa pahit sedikitpun."
Ratu Dyah Chandrawati tertawa kecil mendengarnya. "Kanda Prabu, jika ingin memuji wanita mu ini? Maka pilihlah kata-kata yang lebih manis lagi."
Sang Prabu mencium kening istrinya dengan lembut dan kasih sayang. "Aku bukanlah lelaki yang bisa berkata dengan lembut, dan saat ini aku hanya mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku, dan mulutku yang kurang ajar ini yang mengeluarkannya tanpa pikir panjang." Sang Prabu menyandar dengan manja dipangkuan istrinya, menumpahkan semua kelelahan yang sang Prabu rasakan dengan merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya.
Kembali Ratu Dyah Chandrawati tertawa mendengarkan ucapan Prabu Maharaja Abinaya Bagaskara. "Kanda Prabu, aku tahu kau bukanlah lelaki yang romantis, tapi setidaknya dengan sikapmu yang kejam itu kau telah memberikan cinta yang dalam padaku, terima kasih kanda Prabu." Ia kecup kening sang Prabu dengan lembut.
"Malam ini saja, aku ingin tidur dalam pelukanmu, aku tidak menerima penolakan apapun darimu."
"Baiklah Baginda paduka Maharaja abinaya bagaskara, dengan senang hati akan hamba turuti."
"Terima kasih ratuku yang sangat manis, aku semakin mencintaimu dengan segenap hatiku."
Ratu Dyah Chandrawati hanya tersenyum mendengarkan ucapan manis Sang Prabu.
...***...