
...***...
Sementara itu pihak istana yang menyusun rencana untuk menghentikan pemberontakan?. Mereka semua telah mencium aroma pemberontakan yang dilakukan oleh beberapa kelompok orang-orang yang membenci keluarga istana.
"Ada beberapa orang yang mencoba untuk melakukan pemberontakan, Kita tidak boleh membiarkan mereka melanjutkan rencana yang akan merugikan istana."
"Benar yang Gusti Prabu katakan, Jangan sampai mereka merugikan kita semua." Patih Gardapati Mahawira sangat setuju dengan itu. "Kita harus segera memberantas mereka sebelum mereka mendapatkan dukungan dari seluruh rakyat."
"Kalau begitu lakukan dengan baik." Sang prabu menopang dagunya dengan perasaan yang bosan. "Siksa mereka dihadapan rakyat, supaya mereka menjadikan itu sebuah peringatan yang sangat keras, jangan pernah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan yang telah aku pimpin selama ini, beri mereka peringatan yang sangat keras supaya tidak berniat untuk memberontak kepadaku." Suasana hatinya pada saat itu benar-benar sangat panas. "Rasanya setiap hari aku bosan mendengarkan laporan pemberontakan yang masuk kepadaku." Lanjutnya lagi.
"Tentu saja Gusti Prabu, hamba akan melaksanakan semua perintah Gusti Prabu dengan sepenuh hati."
"Itulah yang aku harapkan dari Patih kebanggaanku." Prabu Maharaja Abinaya Bagaskara senang dengan apa yang telah dikatakan oleh Patihnya. "Mereka harusnya bersyukur hidup di negeri yang aku pimpin ini." Prabu Maharaja Abinaya Bagaskara melihat semua pegawai istana yang hadir pada hari itu. "Aku sangat kesal dengan pemberontakan yang mereka lakukan, apakah mereka tidak merasa bersyukur sama sekali dengan kebaikan yang aku berikan kepada mereka? Tapi masih ingin melakukan pemberontakan? Mereka itu benar-benar tidak berguna sama sekali." Hatinya semakin membenci dengan suasana yang seperti itu.
"Gusti Prabu tenang saja, hamba akan memberikan pelajaran pada mereka semua, bahwa pemberontakan itu adalah hal yang sangat salah." Patih Gardapati Mahawira tersenyum kecil sambil memberi hormat. "Mereka semua yang memberontak harus diberi pelajaran yang sangat berharga." Ia tersenyum kecil membayangkan itu. "Karena mereka telah berani menentang pemerintahan yang jelas-jelas telah memberikan kehidupan yang sangat nyaman bagi mereka." Ucapnya seakan-akan memberikan api pada sang Prabu. "Tapi mereka malah ingin yang lebih? Sungguh mereka tidak pandai sekali untuk bersyukur kepada Gusti Prabu yang memiliki, hati yang sangat mulia kepada mereka semua." Ia kembali memberi hormat pada sang Prabu.
"Ya, benar yang kau katakan itu, mereka memang tidak pandai bersyukur kepadaku." Itulah yang ada di dalam pikirannya saat itu. "Padahal mereka itu telah aku berikan kebaikan hati untuk menampung mereka semua di kerajaan ini." Keningnya tampak mengkerut memikirkan itu. "alau mereka terus-terusan seperti itu?." Dalam pikirannya yang semakin menari-nari untuk melakukan sesuatu terhadap mereka semua. "Maka jangan salahkan aku untuk melakukan sesuatu yang akan membuat mereka merasa menyesal telah melakukan pemberontakan terhadapku." Sepertinya sang prabu telah mengetahui apa yang harus ia lakukan untuk menghentikan pemberontakan itu. Sorot matanya saat itu terlihat sangat tajam, ada gejolak aneh yang hendak ia sampaikan untuk mengeluarkan amarah yang ia rasakan.
"Kalau begitu akan hamba laksanakan apapun yang Gusti inginkan." Patih Gardapati Mahawira memberi hormat.
"Setelah selesai masalah pemberontakan? Aku akan memberikan hadiah yang sangat istimewa kepadamu Patih."
"Terima kasih atas kebaikan yang Gusti Prabu berikan kepada hamba." Suasana hatinya saat itu sangat baik. Karena ia akan mendapatkan sesuatu yang sangat luar biasa nantinya dari sang Prabu. "Kalau begitu hamba pamit, sampurasun."
"Rampes." Balasnya.
...***...
Raden Abinaya Agra saat itu telah menguatkan hatinya untuk mendengarkan apapun yang akan dikatakan oleh Hasra padanya.
"Gusti Prabu akan menyingkirkan siapa saja yang tidak setuju dengan pemerintahannya, termasuk mereka yang berniat untuk memberontak."
"Menyingkirkan siapa saja yang tidak setuju dengan pemerintahan ayahanda Prabu? Bahkan yang berniat untuk memberontak?." Raden Abinaya Agra hampir tidak percaya dengan itu.
"Memang seperti itulah kenyataannya Raden."
"Kalau menyingkirkan pemberontakan mungkin ada hal yang wajar." Raden Abinaya Agra sampai berdiri sejenak saking herannya dengan sikap ayahandanya. "Tapi bagaimana mungkin bisa mengetahui orang-orang yang tidak setuju dengan pemerintahan yang dijalankan ayahanda Prabu?." Itulah yang membuatnya merasa bingung.
Akan tetapi pada saat itu Raden Abinaya Agra benar-benar sangat terkejut mendengarkan penjelasan itu. "Apakah ayahanda benar-benar melakukan itu?." Dalam hatinya mungkin bertanya seperti itu.
"Sudah banyak korban yang berjatuhan karena itu, sehingga rakyat ingin melakukan pemberontakan atas apa yang telah dilakukan oleh Gusti Prabu." Sorot matanya terlihat sangat sedih. "Seluruh rakyat sangat menyayangkan sikap Gusti Prabu Maharaja abinaya bagaskara tentang masalah itu." Ia dapat merasakan itu. "Akan tetapi tidak ada satupun orang yang berani menghentikan tindakan Gusti Prabu yang sangat kejam." Sejenak ia menghela nafas karena rasanya tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
Raden Abinaya Agra mencoba untuk merespon ucapan itu. "Apakah menurut paman? Aku bisa menggantikan ayahanda Prabu suatu hari nanti?."
Deg!.
Kali ini Hasra yang terkejut mendengarkan ucapan Raden Abinaya Agra yang memiliki ambisi di matanya untuk menghentikan ayahanda prabunya?.
"Mohon maaf Raden, sebaiknya jangan bertindak gegabah." Saat itu ia terlihat ketakutan yang sangat luar biasa. "Gusti Prabu tidak akan pernah mengampuni siapa saja yang berani membantahnya, bahkan itu berasal dari keluarganya sendiri." Perasaan takut tiba-tiba saja menyelimuti suasana hatinya. "Sebaiknya Raden jangan melakukan hal yang aneh-aneh." Ia cengkram pundak Raden Abinaya Agra dengan sangat kuat.
"Ada apa denganmu paman?." Raden Abinaya Agra sedikit meringis kesakitan. "Apakah Paman yakin jika ayahanda Prabu akan melakukan hal buruk kepadaku jika aku melakukannya?."
"Raden abinaya pasopati anak sulung dari Gusti Prabu sendiri yang menjadi korbannya!." Gejolak amarah telah menyelimuti dirinya. "Kakak kandung Raden yang dihukum mati karena saat itu berniat memperingati Gusti Prabu agar tidak melakukan hal kejam terhadap rakyat! Itu adalah bukti nyata jika Gusti Prabu tidak main-main terhadap siapa saja yang telah berani memberontak terhadapnya!." Tanpa sadar air matanya mana itu sebagai itu saja mengingat apa yang telah terjadi pada saat itu. "Jadi hamba mohon jangan sekali-kali Raden berpikiran akan melakukan seperti itu!." Suaranya terdengar bergetar ketakutan.
"Raden abinaya pasopati? Jadi aku memiliki seorang raka?. Kenapa aku tidak pernah mengetahui itu sama sekali?." Raden Abinaya Agra terlihat aneh. "Apakah terjadi sesuatu sehingga aku tidak mengetahuinya?."
"Kejadian mengerikan itu memang sangat dirahasiakan, ketika itu Raden abinaya pasopati berumur lima belas tahun, dan nimas gantari wardani berumur delapan tahun, sedangkan Raden masih dalam kandungan." Ia masih ingat bagaimana kejadian itu.
"Apakah hanya karena diberikan peringatan? Sehingga ayahanda Prabu sampai hati membunuh anaknya sendiri?." Raden Abinaya Agra merasa sesak dengan apa yang ia dengar. "Katakan kepadaku dengan rinci bagaimana cerita itu terjadi!."
"Sungguh maafkan hamba Raden, hamba tidak bisa menceritakan masalah itu kepada Raden." Ia memberi hormat. Setelah itu ia berjalan menuju jendela besar yang ada di dalam bilik Raden Abinaya Agra.
"Apakah kau berniat untuk kabur setelah menceritakan maslaah itu padaku?." Ia berniat untuk mencegah Hasra agar tidak keluar begitu saja.
"Hamba tidak berniat lari." Jawabnya. "Pokoknya Raden jangan bertanya pada siapapun masalah Raden abinaya pasopati, termasuk pada ibunda Raden, karena itu akan membahayakan nyawa Raden." Ia pergi begitu saja?.
"Paman hasra! Jangan kabur dulu!." Ia mencoba memanggil Hasra. "Sial! Kenapa malah kabur? Padahal aku masih penasaran." Dalam hatinya sangat kesal dengan itu. "Awas saja kau nanti paman."
Next.
...***...