
...****...
Satu hari telah dilewati oleh Raden Abinaya Agra, satu hari itu benar-benar terasa sangat sulit baginya. Perutnya benar-benar terasa sangat lapar, akan tetapi pada saat itu tidak ada upah ataupun makanan yang ia dapatkan setelah bekerja seharian. Raden Abinaya Agra mencoba untuk menahan lapar itu, ia berusaha untuk melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kecil itu.
"Malam hampir saja berlalu, aku harus mencari sesuatu untuk dimakan." Dalam hati Raden Abinaya Agra.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki saat itu?. Dengan tekad yang kuat ia melangkahkan kakinya ke dalam hutan yang tidak jauh dari tempat ia tinggal.
"Raden." Tiba-tiba saja seseorang memanggil namanya?.
"Raden, kami di sini."
Raden Abinaya Agra melihat ada beberapa orang yang melihat ke arahnya. Sebisa mungkin Raden Abinaya Agra melangkah mendekati dua orang memanggil namanya. Ketika ia melihat dan mengenali wajah kedua orang itu?.
"Hormat kami Raden." Keduanya memberi hormat.
"Paman Senopati dahayu sura, paman Dharmapati kaswara fatah?."
"Oh? Syukurlah jika Raden masih ingat dengan kami." Tanpa sadar keduanya malah menangis melihat keadaan Raden Abinaya Agra.
"Kami sangat cemas dengan keadaan Raden, kami semua sangat takut jika mereka menyiksa Raden." Tangisnya pecah melihat bagaimana kondisi Raden Abinaya Agra.
"Mereka sangat kejam sekali pada Raden, menyiksa Raden hingga seperti ini." Dharmapati Kaswara Fatah merasakan sesak yang sangat luar biasa. "Sungguh kejam sekali, biadab! Menyiksa Raden lahir batin seperti ini." Dadanya sangat sesak melihat tangan kiri Raden Abinaya Agra yang buntung.
"Hidup itu memang sangat keras, bukankah paman Dharmapati merasakan itu? Bahkan hingga saat ini, walaupun semua penderitaan itu kita rasakan karena kita berhubungan dekat dengan warahum ayahanda Prabu."
"Raden jangan berkata seperti itu, mereka bahkan lebih kejam, mereka bukan manusia!." Ia tampak mengeluarkan amarah yang ia rasakan saat itu.
"Sudahlah adi, nanti kita bahas itu." Mantan Senopati terhormat yang bernama Dahayu Sura mencoba menghapus air matanya, menguatkan hatinya. "Wajah Raden terlihat sangat pucat sekali, apakah mereka tidak memberikan upah pada Raden?."
Raden Abinaya Agra terdiam sambil mengunggukkan kepalanya. Tentu saja keduanya terlihat sangat marah.
"Mereka bahkan lebih binatang daripada binatang!."
"Raden, hanya ini yang bisa kami bantu untuk Raden." Dahayu Sura memberikan bungkusan dari daun pisang ke tangan Raden Abinaya Agra. "Semoga ini bisa membantu Raden, kami tidak ingin melihat Raden menderita, kami akan membantu Raden secara diam-diam." Dari sorot matanya terlihat sangat jelas bagaimana ia membantu Raden Abinaya abrahah dari penderitaan itu.
"Terima kasih karena paman berdua telah bersedia membantuku, tapi paman jangan mengambil banyak resiko, jika paman berdua ketahuan membantuku maka paman akan mendapatkan hukuman mati, aku tidak ingin itu sampai terjadi kepada paman berdua." Raden Abinaya Agra juga tidak menginginkan itu terjadi.
Keduanya saling bertatapan satu sama lain dan memberikan senyuman yang hangat pada Raden Abinaya Agra.
"Raden tidak perlu khawatir dengan masalah itu, kami telah melewati masa-masa yang sangat sulit bahkan saat ini kami menjadi buronan istana."
"Raden tetaplah bersikap seperti biasa, jika kami tidak bisa mengembalikan tahta yang sah kepada Raden? Setidaknya kami ingin membebaskan Raden dari penderitaan yang sangat menyakitkan ini."
Raden Abinaya Agra hampir saja menangis mendengarkan apa yang dikatakan oleh kedua mantan petinggi istana ketika ayahandanya berkuasa dahulu.
"Jangan menyerah Raden, kami yakin Raden bisa melewati semua ini dengan hati yang sangat lapang dada, karena pada dasarnya Raden adalah orang yang sangat baik."
"Sangat baik, sehingga Raden yang sebenarnya memiliki ilmu kanuragan yang sangat luar biasa? Namun Raden tidak menggunakan kekuatan itu untuk menyakiti mereka, Raden adalah orang yang sangat luar biasa, terima kasih karena telah mengajarkan kami kebaikan, walaupun dulunya kami memang dibekali dengan kejahatan oleh orang yang jahat." Lagi, air matanya jatuh begitu saja mengingat bagaimana masa lalunya yang sangat kejam. "Tapi dengan ucapan Raden pada saat itu, serta tindakan yang Raden berikan kepada hamba, membuat hamba menyadari jika hidup ini memang tidak seharusnya ada kejahatan, tapi hati manusia dan pikirannya lah yang membuat itu semua terjadi." Ketika itu ia merasakan kembali bagaimana perasaan sesak yang sangat luar biasa. "Kami akan selalu menguatkan hati Raden, karena itulah Raden jangan menyerah."
"Jangan menyerah Raden, kami mohon bersabarlah, kami melakukan pemberontakan ini bukan untuk memusuhi negara kami sendiri, akan tetapi kami hanya ingin mengatakan bahwa Raden tidak pantas diperlakukan kecil oleh mereka semua." Dharmapati Kaswara Fatah juga menangis sambil terisak. "Jangan menyerah Raden, percayalah semua kejadian ini pasti memiliki ujung yang sangat bahagia untuk keradenan nantinya."
"Terima kasih karena paman telah memberikan kebaikan kepadaku." Raden Abinaya Agra pada saat itu juga mencoba untuk menahan dirinya agar tidak mengeluarkan air mata namun ia tidak bisa. "Jika paman berdua berkata seperti itu? Tentu saja aku tidak akan menyerah begitu saja, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bertahan, walaupun aku tidak mengetahui seberapa jauh aku bisa bertahan untuk itu."
Malam itu Raden Abinaya Agra benar-benar merasakan bagaimana kehidupan kedua setelah berbicara dengan kedua orang yang terlibat di masa lalu dengannya. Kedua mantan petinggi istana itu benar-benar merasakan penderitaan yang dialami oleh Raden Abinaya Agra.
"Sungguh kehidupan yang sangat menyakitkan bagimu Raden, dulunya kau hidup sebagai seseorang yang tanpa merasa adanya kekurangan sedikitpun, namun saat ini meskipun kau telah bekerja dengan sangat keras? Tetap saja kau tidak mendapatkan upah apapun dari mereka walaupun hanya sesuap nasi." Dalam hati keduanya merasakan perasaan yang sangat sakit. keduanya dapat merasakan bagaimana kekejaman orang-orang yang merasa dendam terhadap keluarga istana yang dipimpin oleh Prabu Maharaja Abinaya Bagaskara.
...***...
Sementara itu.
Malam itu Purwati Sadubi belum bisa memejamkan matanya barang sejenak, pada saat itu ia teringat dengan wajah Raden Abinaya Agra yang terlihat sangat pucat ketika ia berpisah dengan orang yang sangat ia cintai.
"Pikiranku benar-benar tidak bisa tenang jika aku tidak bisa memastikan kau dalam keadaan baik-baik saja Raden." Dalam hatinya merasa sangat gelisah, tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya benar-benar melayang, tidak bisa fokus untuk mendalami ilmu kanuragan yang harusnya ia kuasai dalam waktu yang sangat singkat.
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan nimas?."
"Resatari?."
"Setiap malam aku melihat kau terlihat sangat gelisah, apa yang kau pikirkan sebenarnya? Apakah kau tidak ingin membicarakan masalahmu kepadaku?." Wanita cantik yang bernama Resatari itu duduk di samping Purwati Sadubi. "Kita sudah cukup lama berteman sejak kau datang ke sini, apakah kau masih ingin merahasiakan apa yang kau rasakan?."
Belum ada tanggapan sama sekali dari Purwati Sadubi, karena ia telah bertekad untuk tidak akan menceritakan kepada siapapun atas apa yang ia rasakan.
"Apakah ada seseorang yang kau cintai dalam masalah? Sehingga kau sangat gelisah dan kadang kau menyebutkan namanya ketika pikiranmu sedang kusut."
Deg!.
...****...