
...***...
Pagi itu suasana di kerajaan masih aman dan damai, mereka semua masih menikmati bagaimana suasana merdekanya setelah bebas dari seorang raja yang sangat. Mereka dapat merasakan bagaimana ketenangan yang selama setahun ini mereka rasakan.
Bahkan prajurit lewat dengan sangat santainya tanpa memandang mereka dengan tatapan yang sangat mencurigakan seperti dahulu kala. Bahkan tak jarang mereka saling bertegur sapa dengan sangat ramahnya. Akan tetapi pada saat itu ada beberapa orang pendekar yang sedang mengamati sekitarnya. Tentunya mereka melihat kondisi sekitarnya setelah para prajurit itu melewati mereka tanpa menaruh perasaan curiga sedikitpun.
Sementara itu di waktu yang sama, Raden Abinaya Agra sedang lewat di pasar kota. Tentu saja ia berbelanja untuk kebutuhan beberapa hari kedepan. Selain melakukan pekerjaan di rumah yang sangat banyak, Raden Abinaya Agra berbelanja di pasar untuk memenuhi kebutuhan harian mereka. Meskipun ada beberapa orang yang merasa simpati kepadanya, ada juga yang merasa benci kepadanya.
"Eh? Aden? Mau membeli apa atuh Aden?." Seorang kakek-kakek yang sangat ramah kepadanya. Saat itu ia menjual beberapa sembako kebutuhan makanan.
"Saya membeli beberapa kebutuhan saja aki. Mungkin besok saya akan datang lagi untuk berbelanja di sini." Balasnya dengan senyuman ramah.
"Oh?. Silakan dipilih Aden. Jika telah selesai akan saya hitung nantinya." Ia memberikan beberapa tempat yang bisa digunakan oleh Raden Abinaya Agra untuk mengambil apa saja yang ia inginkan."
"Terima kasih aki." Raden Abinaya Agra sangat senang, masih ada beberapa orang yang sangat baik hati kepadanya. Walaupun sesekali ia menangkap ada beberapa orang yang menggunjingkan hal yang buruk tentang dirinya. Raden Abinaya Agra mencoba untuk menguatkan hatinya mendengarkan ucapan-ucapan buruk itu.
Tak berselang lama?. Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari arah belakang mereka. Saat itu pula terjadi keributan yang sangat tidak terduga sama sekali. Ada sekitar tiga orang pendekar yang mencoba melakukan kerusuhan di pasar Kota raja.
"Hei! Kalian semua berikan kami upeti! Kami sedang membutuhkan uang untuk bersenang-senang!."
"Cepat serahkan uang hasil dagangan kalian! Jika kalian masih ingat selamat maka serahkan dengan baik atau kami akan menggunakan kekerasan!."
"Apakah kalian tidak mendengarkan apa yang kami katakan!."
Saat itu mereka menyerang dengan membabi buta, sehingga suasana di sekitar itu menjadi mencekam karena ketakutan dengan apa yang telah dilakukan oleh tiga orang pendekar itu.
"Aden, maaf, saya harus menutup kedai saya, saya sangat takut dengan mereka." Kakek itu segera menggusur barang dagangannya.
Tentu saja mereka sangat takut dengan apa yang telah dilakukan oleh tiga pendekar itu. Dalam keadaan yang sangat kacau itu mereka mencoba menyelamatkan diri masing-masing dari serangan tiga orang pendekar yang sama sekali tidak memiliki hati nurani. Hingga saat itu mereka melihat Raden Abinaya Agra yang sedang memperhatikan apa yang telah mereka lakukan.
"Hei! Kau orang buntung! Apakah kau tidak dengar apa yang aku katakan tadi?! Serahkan hartamu! Atau kau ingin nyawamu yang melayang?." Dengan nada yang sangat sombong ia mencoba menggertak Raden Abinaya Agra.
Sedangkan beberapa orang yang memperhatikan itu merasa sangat takut meskipun mereka telah bersembunyi pada jarak yang aman. Mereka semua pada saat itu memperhatikan bagaimana Raden Abinaya Agra yang tidak takut sama sekali dengan mereka.
"Sebenarnya aku ke sini hanya untuk berbelanja dengan tenang, akan tetapi kenapa kalian malah berbuat kerusuhan yang tidak berguna sama sekali?." Raden Abinaya Agra sangat tidak suka dengan apa yang telah mereka lakukan. "Jika kalian ingin uang? Kenapa kalian tidak bekerja saja? Kondisi fisik kalian masih bagus, dan tidak ada cacat sama sekali, tapi kenapa kalian malah gunakan untuk merampok harta orang lain?." Kemarahan itu ia tunjukkan begitu saja kepada mereka bertiga.
Akan tetapi pada saat itu ketiga pendekar perusuh itu malah tertawa dengan apa yang telah dikatakan oleh Raden Abinaya Agra, meskipun tanpa sadar orang-orang yang mendengarkan ucapan itu membenarkan apa yang telah dikatakan oleh Raden Abinaya Agra mengenai fisik mereka.
"Kau tidak usah banyak bicara orang buntung! Kalau kau masih ingin sayang nyawa? Maka serahkan apa yang kau bawa."
"Kau pikir aku sedih akan menyerahkan apa yang aku bawa begitu saja kepadamu?."
"Buntung tidak tahu diri! Kalau kau memang ingin bertarung denganku? Maka dengan senang hati aku akan membunuhmu pada hari ini juga."
Salah satu dari mereka maju, dan tentunya ia menyerang Raden Abinaya Agra dengan kekuatan yang ia miliki. Sebagai seorang pendekar ia memainkan beberapa jurus untuk melumpuhkan Raden Abinaya Agra. Sedangkan mereka yang masih mengintip apa yang telah terjadi?. Mereka semua merasa kasihan dengan apa yang terjadi kepada Raden Abinaya Agra?. Tidak!. Pada saat itu mereka tidak menduga sama sekali jika Raden Abinaya Agra memiliki kemampuan untuk bertarung. Meskipun hanya menggunakan satu tangan?. Raden Abinaya Agra cukup agresif membalas serangan itu. Mereka seperti sedang melihat tontonan yang sangat menarik saat itu.
Hingga saat itu pendekar yang berhadapan dengan Raden abina yang agar mendapatkan sebuah pukulan dan tendangan di punggungnya dengan sangat keras.
"Eagkh!." Terdengar suara teriakan dari pendekar yang berhadapan dengan Raden Abinaya Agra.
"Setan buntung!." Umpatnya dengan sangat kasar. "Ternyata kau memiliki kepandaian juga? Sehingga kau berani berhadapan dengan kami?."
"Sepertinya kau tidak bisa aku anggap enteng! Kunyuk buntung sepertimu harus diberi pelajaran."
Kedua orang pendekar lainnya merasa tidak senang dengan apa yang telah dilakukan oleh Raden Abinaya Agra. Sehingga pada saat itu mereka melakukan serangan secara bersamaan.
"Pendekar pengecut memang selalu main keroyokan." Raden Abinaya Agra harus berhati-hati, karena musuhnya pada saat itu ada dua orang. Akan tetapi pada saat itu iya tetap waspada dengan gerakan mereka yang lumayan cepat. Terkadang ia menggunakan tangan dan kakinya untuk menghalau mereka supaya tidak menjatuhkan dirinya ke tanah. Dengan gerakan yang sangat lincah ia berhadapan dengan kedua orang pendekar itu.
Sedangkan beberapa orang yang melihat itu seperti sedang berpacu dengan jantung mereka. Tentu saja mereka sangat khawatir jika terjadi sesuatu kepada Raden Abinaya Agra?. Apakah pada saat yang ganteng itu mereka benar-benar mengkhawatirkan kondisi Raden Abinaya Agra?. Apakah hanya karena mereka merasa simpati pada Raden Abinaya Agra yang hanya memiliki satu tangan saja?.
"Kurang ajar! Ternyata orang buntung ini memang memiliki kepandaian."
Kedua orang pendekar itu merasa sedikit kewalahan. Bagaimana lanjutan kisah itu?. Temukan jawabannya.
...***...