
...***...
Sat itu Raden Abinaya Agra dan Pusara sedang menuju jalan ke rumah keluarga Lana Serapi, mereka ingin membahas masalah itu terlebih dahulu dengan keluarga laki-laki.
"Apakah kesaksian saya bisa membantu tuan nantinya?."
"Jangan panggil aku tuan, aku bukan tuanmu."
"Maafkan saya, jadi saya harus panggil apa?."
"Panggil saja namaku pusara."
"Bagaimana kalau saya panggil kakang pusara, apakah boleh?."
Raden Abinaya Agra hanya canggung saja, karena beberapa tahun ini ia memanggil orang lain dengan sebutan tuan kepda laki-laki, dan memanggil wanita dengan sebutan nini.
"Baiklah, itu juga boleh." Ia tidak merasa keberatan sama sekali, apalagi Raden Abinaya Agra sangat berjasa atas keselamatan adiknya. "Tapi aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu, karena kau telah menyelamatkan adikku dari orang sinting seperti lana serapi." Entah kenapa ia sangat marah dengan sikap Lana Serapi.
"Saya juga memiliki saudara perempuan, tentunya saya tidak mau saudara perempuan saya disakiti oleh orang lain."
"Memangnya sejak kapan kau dekat dengan adikku?." Ada perasaan penasaran yang menyelimuti hatinya
"Beberapa hari yang lalu, ketika saya mengobati seorang pemuda kesurupan setelah mempelajari ilmu dukun dengan cara yang salah." Raden Abinaya Agra menceritakannya. "Saat itu saya dibantu nini sulasih yang faham mengenai masalah pengobatan tradisional, jadi saya minta bantuan padanya."
"Jadi begitu ya? Tapi tampaknya adikku sangat menyukaimu, bagaimana pendapatmu?."
Deg!.
Raden Abinaya Agra sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan Pusara padanya, bagaimana mungkin ia bisa menerima perasaan Sulasih?. Sementara ia memiliki istri dan kekasih yang harus ia jaga perasaannya jika ia menerima Sulasih sebagai kekasihnya?. Apakah Raden Abinaya Agra terlihat orang yang sangat jahat?.
...**...
Di siang hari yang sangat terik, kereta kencana melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Sangat disayangkan sekali karena kereta kuda itu harus dihentikan secara paksa karena ada seorang pemuda yang menghadang laju kereta itu.
"Sepertinya aku tidak perlu repot-repot datang ke istana untuk bertemu dengan Raja." Ia menyeringai dengan sangat lebar, ia sangat percaya diri dengan kekuatan yang akan ia gunakan jika bertarung nantinya.
"Hei! Siapa kau? Lancang sekali kau berdiri di depan kereta kencana seorang Raja!."
"Aku memang orang yang lancang, dan kau juga tidak tidak punya sopan santun sama sekali, berni berbicara di atas kuda seperti itu."
"Kurang ajar!."
Senopati Ulangga Restu melompat sambil memberikan sebuah hadiah sepakan di udara yang sangat keras, namun sayangnya pemuda itu bisa menghindari serangan itu. Senopati Ulangga Restu terbawa suasana amarah karena ucapan pemuda asing itu, hingga terjadi pertarungan antara keduanya. Sedangkan para prajurit berjaga-jaga di sekitaran kereta kencana yang membawa Prabu Sigra Sadubi.
"Ada apa prajurit? Apakah ada sesuatu? Sehingga terjadi keributan di depanku saat ini?."
"Mohon ampun Gusti Prabu, ada seorang pemuda yang sangat lancang menghadang perjalanan Gusti, dan saat ini Gusti Senopati ulangga restu sedang menghadapinya Gusti."
"Cepat atasi orang itu, jangan sampai dia menjadi penghambat aku sampai di desa orang tuaku."
"Sandika Gusti."
Prajurit yang mendengarkan perintah dari Prabu Sigra Sadubi segera melakukan itu, mereka membantu pertarungan itu.
"Kurang ajar! Siapa yang berani menghadang perjalananku?." Prabu Sigra Sadubi sangat kesal karena ada yang menghalanginya?.
Sementara itu pertarungan itu cukup sengit, pemuda itu memiliki kemampuan yang cukup tinggi sebagai orang biasa.
"Rupanya kau boleh juga pria agung."
"Kau pasti akan aku berikan hadiah yang sangat mahal karena kau telah berani menghadang perjalanan kami."
"Diam kau bajing tengik!."
Senopati Ulangga Restu benar-benar terbawa amarah mendengarkan ucapan itu. Pertarungan itu benar-benar sangat menguras tenaga bagi Senopati Ulangga Restu.
...***...
Raden Abinaya Agra bukannya tidak mau, menolak seorang gadis cantik yang mencintainya. Hanya saja ia memang tidak bisa melakukan itu.
"Mohon maaf kakang, bukan saya tidak mau menerima tawaran dari kakang, hanya saja hidup saya hanyalah mengabdi pada Gusti Prabu sigra sadubi, bahkan saat ini saya masih memiliki hubungan yang sangat sah dengan adiknya, nimas gayatri sadubi."
"Jadi kau tidak bisa menerima tawaranku ini? Adikku terlihat sangat mencintaimu."
"Sekali lagi maafkan saya kakang, karena saya tidak berani untuk melakukan itu." Raden Abinaya Agra merasa tidak enak hati sama sekali, ia tidak bisa menerima hati yang lain saat ini. "Apalagi kami telah berjanji akan saling menjaga satu sama lain dengan nimas purwati sadubi." Dalam hatinya yang sekarang hanya ada dua wanita yang harus ia jaga perasaanya, tidak mungkin juga ia bermain api asmara dalam situasinya yang saat ini sangat tidak menguntungkan.
"Jadi begitu? Baiklah, akan aku jelaskan pada adikku dengan hati-hati nantinya." Pusara tidak terlihat memaksa sama sekali. "Jika masalah ini sampai ke tangan Gusti Prabu? Aku takut kau akan mendapatkan masalah besar nantinya, tentunya kau juga tidak ingin mengalami itu."
"Kakang bisa melihat kondisi saya yang tidak baik di kerajaan ini, sekali lagi maafkan saya."
"Kau tenang saja, akan aku jelaskan secara baik-baik pada sulasih, aku yakin dia akan mengerti."
"kalau begitu saya sangat lega mendengarnya."
Raden Abinaya Agra sangat senang mendengarkan ucapan Pusara, ia hanya tidak ingin mendapatkan masalah yang lebih berat lagi, karena ia telah berjanji pada Purwati Sadubi agar bertahan dalam menjalani hidup yang menyakitkan.
...****...
Sepertinya pertarungan antara anak muda aneh dengan Senopati Ulangga Restu tidak berjalan damai, hingga Prabu Sigra Sadubi melompat dari kereta kencana untuk menghentikan pertarungan itu.
"Hyah!."
"Gusti Prabu?."
Mereka semua memberi hormat.
"Kenapa lama sekali mengusir satu pengganggu saja?."
"Mohon amun Gusti Prabu, sepertinya pemuda gembel itu memiliki kemampuan yang lumayan, sehingga kami sedikit kewalahan Gusti." Ada perasaan bersalah yang ia rasakan.
"Siapa kau? Apakah akau pernah menyenggol badanmu? Apakah kita pernah berurusan sebelumnya?."
"Hari ini aku akan membuat perhitungan denganmu, karena kau telah berani mengambil kerajaan yang selama ini aku incar."
Deg!.
Prabu Sigra Sadubi sedikit terkejut mendengarnya. "Jadi kau menginginkan kerajaan besar ini?." Sorot matanya seakan-akan sedang mengamati pemuda itu.
"Tidak perlu berbasa-basi lagi."
Saat itu terjadi pertarungan antara Prabu Sigra Sadubi dengan pemuda asing itu. Keduanya tampak bersemangat untuk menjatuhkan lawannya.
"Keluarkan semua kepandaian yang kau miliki sigra sadubi."
"Ho? Jadi kau mengetahui namaku? Kalau begitu akan aku ajari kau memanggil yang benar namaku."
Prabu Sigra Sadubi terlihat sangat bersemangat, sang Prabu berhadapan dengan seseorang yang telah mengetahui identitasnya?. Apakah pemuda itu mencaritahu tentangnya melalui pengamatan?. Simak terus ceritanya.
...***...