RADEN ABINAYA AGRA

RADEN ABINAYA AGRA
MENUSUK HATI



...***...


Istana.


Raden Abinaya Agra berhasil melarikan diri sampai ke dalam istana utama.


"Rasanya lelah juga berlari sampai sejauh ini." Dalam hatinya merasa heran dengan dirinya. "Rasanya ada yang berusaha untuk menuntun aku hingga masuk ke sini." Itulah yang ia rasakan. Kakinya terus masuk ke dalam ruangan utama istana. Ia melihat ayahandanya sedang bersama Patih Gardapati Mahawira yang terlihat sangat senang, apa lagi mendapatkan sambutan hangat dari Prabu Maharaja Abinaya Bagaskara.


"Salam hormat hamba Gusti Prabu."


"Aku terima salam hormat darimu Patih." Balasnya dengan senyuman penuh kebanggan. "Kau terlihat sangat bahagia sekali, apakah kau telah berhasil melakukan tugasmu dengan baik?."


"Hamba akan melakukan perintah Gusti Prabu dengan sepenuh hati hamba." Ia memberi hormat.


"Memangnya perintah apa yang telah diberikan ayahanda Prabu pada paman Patih?." Dalam hati Raden Abinaya Agra penasaran dengan pembicaraan itu.


"Mereka semua telah merasakan neraka dunia melalui pelajaran yang hamba berikan, Gusti."


"Hahahaha! Memangnya pelajaran seperti apa yang telah kau berikan pada mereka? Coba jelaskan padaku!." Tawanya begitu sangat puas, walaupun Patih Gardapati Mahawira belum mengatakan apapun padanya.


"Mereka semua hamba cambuk sampai mati, Gusti, karena mereka sama sekali tidak mau mengatakan pada hamba, di mana pasukan mereka yang lainnya, pasukan pemberontak terhadap pemerintah yang sah." Dengan senyuman penuh kemenangan ia berkata seperti itu.


"HAHAHA! Kau ni memang Patih ku yang sangat luar biasa! HAHAHA! Aku tidak menduga kau akan memberikan pelajaran lanjutan setimpal pada mereka." Tawanya semakin keras, suasana hatinya saat itu memang luar biasa baiknya. "Aku yakin merek akan berpikir ulang untuk melakukan pemberontakan!." Lanjutnya lagi.


"Hamba sangat yakin jika mereka akan jera untuk melakukan pemberontakan Gusti." Ia juga ikut senang. "Mereka pasti akan sangat takut untuk melakukan hal bodoh itu, karena hukuman yang sangat kejam akan menanti mereka." Ia membayangkan bagaimana mereka saat itu meminta belas kasihan padanya?. "Hukuman cambuk sampai mati itu terdengar sangat kejam." Lanjutnya dengan kebanggaan.


Deg!.


Raden Abinaya Agra sangat terkejut mendengarkan pembicaraan itu. "Paman patih telah memberikan hukuman cambuk sampai mati pada para pemberontak? Apakah ayahanda Prabu tidak memiliki hati nurani untuk tidak mencegah paman Patih agar tidak melakukan hal yang kejam pada rakyatnya sendiri?." Dalam hatinya sangat tidak percaya dengan itu semua. "Aku akan memastikannya sendiri." Dalam hatinya sangat panik, hingga tanpa sadar kakinya terus melangkah menuju alun-alu istana. Entah kenapa ia malah menuju ke sana, walaupun Patih Gardapati Mahawira tidak mengatakan padanya di mana mereka di hukum mati?. Tapi ia sangat yakin jika hari ini ada orang yang menerima hukuman mati di sana, karena ia sempat mendengarkan pembicaraan para prajurit tadi.


Deg!.


Nyawa Raden Abinaya Agra seperti hendak dicabut paksa oleh kenyataan pahit itu.


"Kenapa paman Patih sangat kejam sekali, kenapa ayahanda Prabu begitu kejam pada rakyatnya sendiri?." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya. Detak jantungnya terasa sangat sakit, nafasnya terasa sesak melihat pemandangan yang mengerikan itu. "Apakah ayahanda Prabu? Paman Patih sama sekali tidak memiliki perasaan kemanusiaan ketika melihat ini? Apakah mereka tidak mencoba mencari tahu alasan kenapa mereka melakukan pemberontakan itu? Harusnya mereka mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya." Rasanya hatinya sangat hancur dengan kenyataan pahit yang ia lihat pada saat itu. "Apakah mereka sudah tidak memiliki hati nurani lagi untuk merasakan bagaimana penderitaan yang dirasakan rakyatnya?." Ia melangkah mendekati para pemuda yang telah berjuang hingga akhir hayat. "Mereka adalah orang-orang hebat yang telah membela hak dengan sangat baik." Di dalam hatinya saat itu ada kebanggaan yang sangat luar biasa pada pejuang pemberontakan.


...***...


Sementara itu Putri Gantari Wardani berada di kaputren bersama kedua ibundanya.


"Nanda terlihat sangat kesal, apa yang terjadi padamu putriku?." Ratu Retiana Wardani melihat anaknya yang seakan-akan sedang menanggung beban yang sangat berat.


"Tidak apa-apa ibunda." Ia sedang berusaha untuk menahan dirinya agar tidak mengatakan itu.


"Tapi kenapa kepalamu terlihat benjol seperti itu?. Apakah raka mu yang melakukannya?."


Deg!.


"Apakah memang seperti itu yang terjadi anakku?."


"Ibunda tenang saja, tadi kami yang salah."


"Kami?." Ratu Dyah Chandrawati terlihat terkejut. "Jadi rayi mu Raden abinaya agra juga kena hajar raka mu Raden abinaya admaja?."


"Oalala? Aku malah kelepasan dalam berbicara." Dalam hati Putri Gantari Wardani malah panik sendiri.


"Akan aku hajar dia nantinya." Ratu Dyah Chandrawati terlihat sangat kesal.


"Tenanglah yunda, ini hanyalah masalah anak-anak." Ratu Retiana Wardani mencoba untuk menenangkan Ratu Dyah Chandrawati.


"Aku tidak menduga ini, sebenarnya aku memang mau menceritakan pada ibunda, tapi aku tadi itu hanya main-main saja, siapa yang menduga ibunda dyah chandrawati lebih peka dari pada yang aku duga." Dalam hati Putri Gantari Wardani tidak menduga itu, dan ia juga heran bagaimana Ratu Dyah Chandrawati bisa seperti itu.


...***...


Sementara itu Raden Abinaya Admaja sendiri sedang berada di salah satu ruangan istana selatan, ia sedang sibuk mencari beberapa dokumen yang harus diselesaikan.


"Oh? Mengurus pekerjaan sendirian itu sangat melelahkan. Apakah keempat adikku tidak bisa membantuku walaupun sebentar saja? Kenapa pekerjaan merelakan ini dibebankan semuanya kepadaku?." Rengek Raden Abinaya Admaja dengan sangat kesalnya. "Aku juga ingin seperti mereka berlatih kapan saja yang diinginkan, aku sangat iri sekali dengan mereka."


"Diamlah Raka, suaramu sangat jelek sekali."


Deg!.


Raden Abinaya Admaja sangat terkejut melihat kedatangan adiknya?.


"Kenapa kau bisa di sini rayi?. Bukannya tadi kau mengatakan bahwa kau akan latihan ilmu kenegaraan? Tapi kenapa kau malah berada di sini?!."


Putri Dyah Arjanti menghela nafasnya dengan sangat lelahnya. "Jangan membuat aku kesal raka."


"Itu karena rengekan raka terdengar sampai di ruangan sebelah, sangat tidak enak sekali untuk didengar." Raden Abinaya Adikara, adik bungsunya terlihat kesal dengan sikap kakaknya.


"Kalian ini ya? Kenapa mulut kalian itu sangat pedas sekali padaku? Aku ini adalah kakak yang harusnya kalian hormati, rasanya aku ingin menangis setiap harinya mengahadapi kalian semua."


"Sudahlah raka, jangan merengek lagi." Putri Dyah Arjanti menepuk pundak kakaknya. "Malas juga mendengarkan rengekan raka yang seperti itu."


"Baiklah, jika memang seperti itu, ikuti aku." Ia mengajak kedua adik kandungnya itu pergi ke ruangan lainnya untuk menyelesaikan masalah yang ada di sana.


"Setidaknya aku terbantu dengan adanya kalian." Dengan senyuman manis ia menatap kedua adiknya.


"Aku hanya tidak ingin mendengarkan keluhanmu raka." Seperti itulah yang dipikirkan oleh Putri Dyah Arjanti.


Next.


...***...