RADEN ABINAYA AGRA

RADEN ABINAYA AGRA
RENCANA DI DESA TIGA DAUN



...***...


Raden Abinaya Agra pagi itu membersihkan kandang kuda milik seorang kepala desa yang cukup terkenal di desa Tiga Daun, sebagai seorang budak yang diutus untuk membantu rakyat tentunya ia akan melakukan semua pekerjaan tanpa adanya keluhan.


"Hei budak! Kau harus mengerjakan itu dengan hati-hati, jika kau membuat kesalahan maka hukuman cambuk menantimu, mengerti?!."


"Baik tuan, akan saya kerjakan semua dengan baik."


"Bagus! Jika kau masih sayang dengan nyawamu maka berhati-hatilah bekerja."


"Baik tuan."


Setelah itu Raden Abinaya Agra melanjutkan pekerjaannya. Tentu saja yang membersihkan semua kuda itu supaya terlihat cantik.


"Apakah tidak apa-apa kalau kita menyuruhnya untuk melakukan itu semua tuan?."


"Itu semua karena perintah dari Gusti Prabu sigra sadubi yang telah memberikan hak atau perintah kepada dia untuk mengerjakan apa saja yang menjadi pekerjaan seorang budak." Ia mengingat itu. "Apakah kau tidak mengetahui kabar yang dibawa oleh prajurit istana? Barang siapa yang membantu atau memberikan belas kasihan pada budak? Maka dia akan mendapatkan hukuman mati."


"Saya memang mengetahui kabar itu."


"Bagus jika kau memang mengetahui kabar itu, jadi? Simpan saja rasa simpatimu itu padanya."


"Tapi tetap saja aku merasa kasihan padanya." Dalam hatinya merasakan itu.


"Sudahlah sebaiknya kah tidak usah terlibat dengannya, sudah seharusnya dia mendapatkan hukuman itu karena dia adalah keturunan raja yang kejam, lanjutkan saja pekerjaanmu yang lain."


"Baik tuan, akan saya kerjakan." Setelah itu ia juga pergi meninggalkan tempat itu.


"Seandainya saja kau bukan keturunan raja yang kejam, mungkin nasib hidupmu tidak akan seperti itu." Sebenarnya dalam hatinya merasakan perasaan simpati hanya saja sayang dengan nyawanya sehingga ia memilih untuk diam.


Memang masih ada perasaan di dalam hati mereka ketika melihat Raden Abinaya Agra diperlakukan seperti itu oleh pihak istana yang merasa dendam terhadap keluarga istana sebelumnya. Kekejaman yang dilakukan keluarga istana yang dipimpin oleh Prabu Maharaja Abinaya Bagaskara memang telah menyimpan segudang rasa sakit yang sangat luar biasa, sehingga mereka tidak mudah untuk memaafkannya begitu saja. Akan tetapi masih ada perasaan ibs mereka melihat keadaan Raden Abinaya Agra yang seperti itu.


...***...


sementara itu di sebuah tempat perkumpulan para pemberontak yang ingin kembali mengambil alih kerajaan atau istana.


"Beberapa hari yang lalu aku masuk ke desa tiga daun, aku melihat hal yang tidak wajar pada saat itu." Ia menceritakan kepada teman-temannya tentang apa yang telah ia lihat saat itu. "Sikap mereka sungguh sangat keterlaluan terhadap Raden abinaya agra, rasanya aku tidak sanggup untuk melihatmu mereka yang memperlakukan Raden abinaya agra." Hampir saja ia menangis kala itu. "Apakah karena keturunan dari hirajaya yang kejam? Mereka juga memperlakukan Raden abinaya agra dengan sangat kejam? Mereka lebih kejam daripada kita dahulu, karena itulah kita sebisa mungkin menyelamatkan kehidupan Raden abinaya agra sebelum kita berhasil merebut kembali istana."


Saat itu pula air mata mereka berderai begitu saja mendengarkan bagaimana kondisi Raden Abinaya agraris.


"Kita memang mengakui bahwa Gusti Prabu Maharaja abinaya bagaskara adalah raja yang sangat kejam, bahkan dulu kita pernah berniat untuk menghabisi raja kejam itu, tapi kita tidak pernah mencoba untuk menghabisi raja kejam itu melalui ancaman anak-anaknya." Kembali air matanya berderai mengingat hal-hal yang telah mereka lalui saat itu.


"Dulu anakku pernah mengatakan, ketika ia bertemu dengan Raden abinaya agra, beliau adalah orang yang sangat baik, bahkan tanpa ragu beliau membantu anakku."


"Ya, Raden abinaya agra memang terlihat sangat berbeda dari saudara-saudaranya yang takut-takut memperlihatkan kebaikannya." Sepertinya ia teringat sesuatu. "Saat itu aku terluka parah setelah menghadapi beberapa orang pemberontak, ketika situasi sedang kacau, aku pikir aku akan mati." Ia terlihat sedang menahan air matanya agar tidak jatuh begitu saja. "Namun Raden abinaya agra menyelamatkan hidupku, dia yang merupakan seorang putra mahkota? Tanpa adanya rasa canggung merawat lukaku yang begitu dalam, rasanya saat itu aku sedang ditolong oleh seorang dewa yang sangat baik hati, kelembutan hatinya yang dapat menyentuh siapa saja." Saat itu ia benar-benar tidak dapat menahan air matanya, sehingga mereka yang menyimak ucapan itu benar-benar merasa tersentuh hatinya. "Karena itulah aku ingin ikut dengan kalian jika memang berniat untuk membebaskan Raden abinaya agra dari penderitaan yang telah mereka lakukan terhadapnya."


Ada beberapa diantara mereka yang saat itu merasakan bagaimana kebaikan-kebaikan yang telah diberikan oleh Raden Abinaya Agra terhadap mereka kala itu.


"Lalu bagaimana caranya kita menyelamatkan Raden abinaya agra? Aku sangat yakin jika mereka mau memasukkan mata-mata, supaya tidak ada satu orang pun yang berani membantu, ataupun memberikan belas kasihan terhadap Raden abinaya agra."


"Ya, aku rasa benar apa yang telah kau katakan itu, kita memang harus berhati-hati jika memang ingin membantu ataupun meringankan beban Raden abinaya agra."


"Sebisa mungkin kita jangan menambah masalah untuk Raden abinaya agra nantinya."


"Kita tidak boleh melakukan kesalahan apapun, ini semua kita lakukan demi menyelamatkan masa depan Raden abinaya agra yang telah terancam oleh kekejaman mereka yang menganggap diri mereka lebih baik daripada pemerintahan sebelumnya."


"Baiklah jika memang seperti itu, mari kita remukkan masalah ini bersama-sama."


Saat itu mereka mengeluarkan semua rencana atau ide untuk menyelamatkan Raden Abinaya Agra dari masalah sulit. masih ada perasaan iba atau rasa simpati yang dimiliki oleh beberapa segelintir orang yang mengenal Raden Abinaya Agra di masa lalu.


...***...


Istana.


Pada saat itu mereka semua ingin mendengarkan kabar yang dibawa oleh prajurit istana yang telah diutus untuk mengantar Raden Abinaya Agra ke desa Tiga Daun.


"Apakah kalian memang telah mengantarnya ke sana sesuai dengan perintah yang telah aku berikan kepada kalian?." Prabu Sigra Sadubisaat itu seperti sedang menunggu hasil laporan dari prajuritnya itu.


"Hamba Gusti Prabu." Ia memberi hormat. "Kami telah membawanya ke desa tiga daun sesuai dengan perintah Gusti Prabu, bahkan kami telah memberikan pengumuman kepada warga desa, bagi siapa saja yang berani membantu atau memberikan belas kasihan kepada budak maka dia akan mendapatkan hukuman mati."


"Bagus jika memang seperti itu." ada ungkapan kebahagiaan yang sangat puas ia rasakan kala itu. "lanjutkan pekerjaanmu katakan kepada teman-temanmu untuk selalu mengawasinya, aku tidak mau suatu saat nanti ada yang memberikan belas kasihan kepadanya."


"Sandika Gusti Prabu." Kembali ia memberi hormat. Setelah itu ia pergi meninggalkan tempat.


"Mohon ampun Gusti Prabu." Patih Dharma Aji memberi hormat. "Sebenarnya apa tujuan Gusti Prabu melakukan itu semua? Mohon maaf jika hamba lancang bertanya seperti itu."


Prabu Sigra Sadubi, Raja muda yang telah berhasil merebut sebagian kekuasaan yang telah dipimpin oleh Prabu Maharaja Abinaya Bagaskara itu tampak sedikit berpikir. "Bukankah tujuan kita sebenarnya adalah membuat dia mati secara perlahan-lahan? Kabarnya desa Tiga daun bukanlah orang-orang biasa, dulunya mereka adalah ladang sapi perah oleh mendiang raja kejam, jadi? Aku rasa tempat itu cocok untuknya mati." Senyumannya terlihat sangat puas. "Biarkan saja mereka yang membunuhnya secara perlahan-lahan aku sangat yakin jika mereka sangat dendam terhadap keluarga abinaya, aku sangat yakin mereka akan melakukan hal yang sangat kejam kepadanya, jadi? Kita tidak perlu mengotori tangan kita hanya untuk membunuhnya."


Mereka semua yang mendengar itu ku merasa sangat kagum dengan pemikiran Gusti Prabu mereka.


"Sungguh sangat luar biasa sekali Gusti Prabu, tidak pernah memikirkan hal yang lebih menantang seperti itu."


"Benar itu Gusti Prabu, itu adalah ide yang sangat luar biasa."


Begitulah pemikiran mereka saat itu, sangat kejam juga.


...***...