
...***...
Di pasar.
Mereka semua sungguh tidak menyangka jika Raden Abinaya Agra menyembuhkan seorang anak kecil yang berumur 7 tahun?. Hampir 1 tahun ini tidak bisa berjalan dengan baik?.
"Apa yang telah kau lakukan kepada anakku? Bagaimana mungkin seorang budak seperti kau bisa mengobati anakku hanya dengan sekali sentuhan saja?." Tentu saja ibu dari anak itu tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh Raden Abinaya Agra.
"Katakan kepada kami apa yang telah kau lakukan kepadanya?."
"Mana mungkin orang jahat seperti kau? Keturunan raja yang jahat seperti kau? Bisa mengobati seseorang dengan sekali sentuhan saja?."
"Jangan-jangan kau sebenarnya adalah seorang dukun yang sangat berbahaya?."
Tiba-tiba saja mereka memikirkan hal-hal yang seperti itu terhadap Raden Abinaya Agra, mereka semua memikirkan hal yang aneh-aneh tentang apa yang telah dilakukan oleh Raden Abinaya Agra tadinya.
"Mohon maaf, saya tidak melakukan hal yang aneh-aneh, tapi saya melihat dia ditempeli oleh sesuatu yang jahat, jadi? Saya hanya mengusirnya saja."
Seketika suasana menjadi lebih heboh lagi ketika mendengarkan apa yang diucapkan oleh Raden Abinaya Agra.
"Dia pasti dukun yang sangat sakti! Ia dapat melihat hal yang gaib-gaib!."
"Kita harus melakukan sesuatu kepadanya! Bisa jadi dia melakukan hal yang tidak baik kepada kita satu hari nanti!."
"Ya, benar! Kita bawa saja dia ke istana! Kita minta kepada Gusti Prabu untuk menghukum mati padanya!."
"Tunggu dulu! Apa salah saya? Saya tidak melakukan hal yang dilarang sama sekali." Raden Abinaya Agra tampak kewalahan dengan apanya telah dilakukan mereka. "Oh? Dewata yang agung, selamatkan hamba!." Dalam hatinya sangat ketakutan dengan apa yang telah mereka perbuat kepadanya.
"Hei! Apa yang telah kalian lakukan kepadanya?!."
Tiba-tiba saja pada saat itu ada seorang kakek tua yang menghadang mereka?.
"Hei tua bangka! Kau jangan menghadang langkah kami! Saat ini kami hendak menuju istana! Karena kami ingin diam dihukum mati!."
"Kalian ini bicara apa? Si budak itu telah melakukan hal yang benar." Ia melihat Raden Abinaya Agra yang meringis sakit. "Jika kalian meminta hukuman mati kepada Gusti Prabu? Apakah permintaan kalian akan dituruti olehnya? Sementara prajurit istana mengatakan jika dia akan dihukum mati di sini."
Saat itu mereka terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh kakek tua itu, mereka sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh kakek tua itu.
"Daripada kalian meminta hukuman mati untuknya? lebih baik kalian manfaatkan dia untuk mengobati orang-orang yang mengalami hal gaib di desa ini, itu lebih bermanfaat daripada kalian meminta hukuman mati kepada Gusti Prabu untuknya."
"Tapi, dukun di desa ini telah banyak."
"Tapi apakah salah satu dari mereka bisa mengobati anak itu? Seperti yang dilakukan oleh budak itu?." Kakek tua itu mendekati Raden Abinaya Agra. "Ia memang terlahir dari keturunan Raja yang kejam, tapi dia memiliki kemampuan yang berbeda." Kakek tua itu menatap mereka semua. "Daripada kemampuannya mati sia-sia, lebih baik kalian gunakan dia untuk mengobati siapa saja yang mengalami gila karena mempelajari ilmu kanuragan."
...***...
Di kediaman Gayatri Sadubi.
Pagi itu ia terlihat sedang merenung, hampir tiga hari sudah setelah kepergian Raden Abinaya Agra?.
"Kenapa tiba-tiba saja suasana hatiku sepi seperti ini? Aku tidak mengeluarkan emosiku beberapa hari belakangan ini." Dalam hatinya merasakan kesepian. "Kenapa setelah dia pergi? Rasanya aku benar-benar hampa, padahal aku sangat membencinya, sangat benci hingga aku tidak sedih hidup bersama dengannya." Entah kenapa tiba-tiba saja ia ingin menangis?. "Tidak mungkin aku kesepian hanya karena dia pergi meninggalkan rumah ini, bagiku dia hanyalah beban di dalam hidupku, aku sama sekali tidak mencintainya, karena bukan wajahnya yang tampan itu aku ingat, tapi tangannya yang buntung itu membuat aku tidak sudi hidup bersamanya." Kali ini ia berdiri, seakan-akan berdiri itu dapat mengurangi rasa gundah yang ada di dalam hatinya. "Selama ini aku yang menginginkan raka prabu, agar menjauhkanya dariku, tapi kenapa setelah dia menjauh dariku? Rasanya tidak ada satu orang pun yang dapat menghiburku, tidak ada orang yang ingin aku marah-marah lagi." Dalam hatinya benar-benar merasakan kesepian?. "Dia menjadi suamiku karena paksaan dari raka prabu, jadi mana mungkin aku mencintainya? Mana mungkin aku merasa kesepian hanya karena dia tidak ada di sini, rasanya itu sangat mustahil." Di sisi lain ia mencoba menepis apa yang ada di dalam hatinya saat itu. "Kenapa tiba-tiba saja suasana hatiku menjadi gelisah seperti ini? Apa yang terjadi sebenarnya pada diriku? Tidak mungkin aku mencintainya!."
Gayatri Sadubi sepertinya sedang berperang dengan batinnya sendiri, tiba-tiba saja suasana hatinya menjadi heboh sendiri ketika orang yang ia benci tidak ada lagi di sampingnya?. Apa yang terjadi pada dirinya sebenarnya? Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadinya intinya.
...***...
Pagi yang cerah.
Mereka semua latihan dengan sangat serius, tidak ada satupun dari mereka yang bermalas-malasan pagi itu, termasuk Purwati Sadubi terlihat bersemangat dari yang sebelumnya.
"Sepertinya kau telah berhasil membujuknya."
"Hanya mencoba saja guru, karena sebagai sesama wanita? Saya benar-benar harus memahami perasaannya sebagai sesama wanita pula."
"Bagus kalau begitu, tidak sia-sia aku mau minta bantuan kepadamu." Ia tersenyum kecil melihat Purwati Sadubi.
"Saya hanya tidak ingin dia terus-terusan merenung guru, apalagi cintanya itu adalah hal yang mustahil, cintanya itu sangat bertentangan dengan orang-orang yang menurutnya baik dan menurut orang jahat kepada dia."
Keduanya terlihat menghela nafas, entah kenapa keduanya merasa lelah dengan apa yang dialami oleh Purwati Sadubi.
"Anak muda sekarang cintanya aneh-aneh saja, sehingga membuat kehebohan yang tidak biasa di alam jagat raya ini, rasanya aku yang tua ini tidak berguna sama sekali untuk menyelesaikan masalah percintaan yang seperti itu."
"Hahaha! Guru jangan berkata seperti itu, kata bibi anum? Wanita memang memiliki 1000 pemikiran tentang masalah cinta, tapi tetap saja mereka tidak bisa mengendalikan diri jika mencintai seseorang secara berlebihan." Seketika ia ingat dengan ucapan bibinya.
"Hufh! Terserah kau saja, tapi setidaknya aku berterima kasih kepadamu, karena kau telah membantuku."
"Sama-sama guru, saya akan melakukan apapun yang guru inginkan selagi itu hal yang baik."
"Jadi? Apakah selama ini aku memerintahkan hal yang buruk kepadamu?."
"Tidak guru."
Next.
...***...