RADEN ABINAYA AGRA

RADEN ABINAYA AGRA
ARUS SUASANA HATI



...***...


Raden Abinaya Agra dan yang lainnya saat itu berada di rumah Baya Seta, mereka semuanya ingin menyelesaikan masalah yang sedang terjadi. Mereka semua sangat geram terhadap sikap yang dilakukan Lana Serapi pada Wasri, yang merupakan istrinya. Wasri menangis sejadinya ketika melihat keadaan suaminya yang babak belur.


"Oh? Kakang lana serapi, kau terluka kakang."


"Kau tidak usah merasa kasihan, aku tidak butuh-."


Bletak!.


Kepalanya dipukul dengan sangat keras oleh Walet, ia merasa kesal karena ucapan adiknya itu.


"Kau tidak usah menangisi orang tidak tahu diri ini, dia itu bukan manusia, dia tidak punya hati dan perasaan sama sekali, tidak mungkin dia merasa tersentuh dengan apa yang telah kau lakukan."


"Harusnya kau itu bersyukur lana serapi, ada seseorang yang selalu menunggumu pulang setelah keluyuran entah dari hutan belantara mana." Pusara geram juga akhirnya. "Sedangkan kami yang hidup membujang? Demi memastikan kebahagiaan adiknya kami rela melakukan apapun, harusnya kau bersyukur hidup seperti itu, bisa merasakan perhatian seorang wanita yang tulus mencintaimu."


"Kau tidak usah banyak bicara pusara, yang aku butuhkan itu adalah adikmu, bukan ucapan yang tidak berguna dari kau!."


Bletak!.


Walet kembali memukul kepala Lana Serapi dengan sangat keras, hingga adiknya meringis kesakitan.


"Kau memang dibesarkan oleh seorang lelaki yang bujang lapuk seperti aku ini, tapi kau jangan sampai menghina atau melukai hati seorang wanita! Kau akan dikutuk oleh Sang hyang Widhi jika kau berani melakukan itu." Walet sangat kesal. "Buktinya kau dengan sangat mudahnya kami kalahkan, kau tahu itu artinya apa? Kau telah dikutuk oleh sang hyang Widhi." Lanjutnya dengan penuh penekanan. "Kau tidak usah mencari wanita lain hanya karena dia tidak terlihat cantik lagi di matamu, tapi kau lihatlah dirimu? Apa yang telah kuberikan pada istrimu setelah pernikahan? Apakah kau tidak menyadari betapa setianya wanita yang dengan sabar hati menghadapi sikap burukmu itu?." Ada kemarahan yang ia luapkan. "Apakah kau tidak lihat? Dia menangis bukan hanya sekedar merasa kasihan kepada orang menyedihkan sepertimu! Tapi perasaan cinta yang membuat dia menangis seperti itu, rasa cinta yang berlebihan kepadamu! Apakah kau merasakan hal yang sama dengannya? Aku merasa ragu, karena hatimu sudah mati, kau hanya menuruti hawa nafsu bejatmu, ingin rasanya aku membunuhmu jika aku tidak ingat kau adalah saudaraku." Walet mengeluarkan semua yang ada di dalam pikirannya saat itu, iya tidak habis pikir dengan sikap adiknya yang sangat keterlaluan menurutnya.


Malam itu mereka benar-benar berniat untuk menyadarkan Lana Serapi, bahwa apa yang telah ia lakukan sangat salah terhadap perasaan wanita.


...***...


Malam hampir larut, akan tetapi pada saat itu Gayatri Sadubi masih belum juga memejamkan matanya. Ia sangat kesal jika teringat dengan apa yang telah diucapkan oleh Bibi Asih mengenai identitas tersembunyi dari Raden Abinaya Agra. Hingga saat itu ia langsung terduduk ketika ia mengingat sesuatu.


"Apakah ayuk purwati menyadarinya? Jika orang bertopeng hitam itu adalah si budak? Apakah karena itu ayuk jatuh cinta padanya sampai sekarang?." Tiba-tiba saja pikirannya mengarah ke sana, alasan kenapa kakak perempuannya itu bisa jatuh hati pada musuh semua orang yang ada di kerajaan?. "Apakah karena ayuk mengetahui jika dia adalah si budak? Rasanya tidak mungkin tanpa alasan ayuk dengan mudahnya jatuh cinta pada orang lain, apalagi waktu itu dia tampak membela si budak, sehingga membuat Raka Prabu sangat marah kepadanya." Dalam hatinya saat itu mengingat apa yang telah terjadi kala itu. "Sial! kepalaku malah sakit ketika mengingat apa yang membuat ayuk bisa jatuh cinta kepada si budak, padahal aku sendiri sangat tidak terima dia menikah denganku." Ia dekat tubuhnya yang terasa merinding membayangkan bentuk fisik dengan Raden Abinaya Agra saat itu. "Aku saja tidak tahan hidup serumah dengan si budak yang menjijikkan itu, tapi Raka Prabu malah memaksa aku untuk menikah dengan orang yang tidak aku cintai sama sekali." Dalam hatinya merasakan sakit yang sangat luar biasa ketika ia ingat kembali kejadian hari itu.


Kembali ke masa itu.


Purwati Sadubi, Gayatri Sadubi baru saja datang karena panggilan dari Prabu Sigra Sadubi. Entah apa tujuannya namun saat itu mereka melihat Raden Abinaya Agra juga berada di dalam ruangan itu.


"Hormat kami Raka Prabu."


"Kami baik-baik saja Raka Prabu, kami telah merasakan semua kenikmatan yang telah Raka Prabu berikan kepada kami."


"Kami benar-benar merasa nyaman dengan rumah baru yang kami tempati sekarang, terima kasih karena Raka Prabu memikirkan kebahagiaan kami setelah terjadinya kerusuhan yang sangat panjang."


Keduanya terlihat tersenyum bahagia dengan apa yang telah mereka peroleh dari kakaknya itu.


"Baguslah jika memang seperti itu, aku sangat senang mendengar ucapan kalian secara langsung."


Sedangkan Raden Abinaya Agra hanya menyimak apa yang telah dibicarakan oleh ketiga saudara Sadubi.


"Baiklah, tanpa banyak basa-basi lagi aku katakan bahwa jika adikku gayatri sadubi akan aku nikahkan dengan si budak."


Deg!.


Sontak keduanya terkejut mendengarkan ucapan itu, hingga keduanya spontan berdiri saking terkejutnya atas apa yang mereka dengar.


"Jangan siksa batin dan hatiku dengan ucapan yang tidak masuk akal itu Raka Prabu."


"Kenapa Raka Prabu menikahkan Raden abinaya agra dengan gayatri? Apakah Raka ingin aku juga tersiksa melihat mereka hidup bersama?!."


"Diam kalian berdua! Akan aku bunuh kalian jika berani membantah apa yang telah aku katakan!."


Deg!.


Keduanya semakin terkejut dengan ancaman itu, keduanya tidak mengerti sama sekali dengan rencana yang dijalankan Prabu Sigra Sadubi.


"Kenapa harus aku yang harus dinikahkan dengan orang buntung itu? Dan kenapa aku harus menikah dengannya dengan ancaman seperti ini? Akan aku siksa kau!." Itulah janji ia yang ucapkan di dalam hatinya saat itu.


Kembali ke masa ini.


"Betapa hancurnya hatiku, setiap hari rasanya siksaan yang sangat berat untuk aku jalani, hidup satu atap dengan orang yang paling aku benci di dunia ini." Dalam hatinya meratapi perasaan hancur hatinya selama menikah dan hidup bersama dengan Raden Abinaya Agra. "Setiap harinya aku selalu marah-marah padanya hanya untuk melampiaskan rasa sakit yang aku rasakan, tapi ketika dia pergi?." Kembali hatinya merasa gundah, namun kali ini merasakan kerinduan dan kesepian, merasakan kehilangan setelah orang yang selalu ia, maki dengan kata-kata yang sangat kasar?. Sudah tidak berada di sampingnya lagi. Bagaimana perasaannya yang sesungguhnya terhadap Raden Abinaya Agra?.


...***...