
...***...
Raden Abinaya Agra sedikit kewalahan menghadapi Lana Serapi yang memiliki kemampuan ilmu kadigdayaan di atasnya. Ia tidak menduga jika Lana Serapi memiliki kecepatan yang sangat luar biasa dalam menyerang musuh. Beberapa kali ia menerim serangan yang beruntun, sehingga ia meringis sakit karena serangan itu.
"Apakah hanya karena kau memiliki satu tangan?
Kau bertarung seperti babi hutan yang hanya bisa menyeruduk saja?." Dengan semangat yang penuh ia terus menyerang Raden Abinaya Agra.
"Maaf tuan, saya tidak ingin mengambil resiko dengan bertarung dengan tuan." Ia melompat menghindari serangan yang sangat keras dari Lana Serapi. "Sebaiknya tuan jangan terlalu berbangga diri dengan ilmu kanuragan yang tuan miliki." Sebenarnya ia hanya sangat kesal karena tidak bisa mengeluarkan kemampuannya dalam keadaan seperti itu.
Lana Serapi terus menyerang Raden Abinaya Agra tanpa ampun, terlihat dari raut wajahnya itu jika ia memiliki niat yang tidak baik sama sekali. Beberapa pukulan, dan juga tendangan ia arahkan ke tubuh Raden Abinaya Agra.
"Sudah lima jurus yang kita mainkan, tapi kau masih saja ingin bertahan dengan jurus lemahmu itu?."
"Saya hanya tidak ingin tuan membuang tenaga dengan sia-sia, jadi sebaiknya tuan tenangkan diri tuan jika ingin menyelesaikan sebuah masalah." Raden Abinaya Agra memang hanya menahan dirinya agar tidak menggunakan jurus-jurus andalannya.
"Sudahlah kakang abinaya agra! Sebaiknya kakang jangan meladani kakang lana serapi." Sulasih sangat cemas dengan keadaan Raden Abinaya Agra yang tampak kewalahan.
Akan tetapi Lana Serapi pada saat itu terus menyerang Raden Abinaya Agra, karena ia merasa sangat sakit hati mendengarkan Sulasih yang seakan-akan sedang membela orang asing baginya itu.
"Hei! Kakang lana serapi! Jika saja kau masih tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan? Maka aku akan berteriak dengan sangat keras, aku akan mengatakan pad para penduduk desa bahwa kau hendak berbuat tidak pantas padaku!."
Berani sekali kau mengancam aku sulasih?!." Ia melompat beberapa langkah untuk menjauhi Raden Abinaya Agra.
"Tolong! Tolong!." Teriaknya dengan suara yang sangat keras.
"Awas saja kau sulasih! Aku pasti akan datang untuk mencarimu nanti!." Lana Serapi sangat ketakutan dengan suara teriakan Sulasih, ternyata wanita itu sama sekali tidak main-main dengan ucapannya.
"Apakah kakang baik-baik saja?." Ia mendekati Raden Abinaya Agra. "Apakah ada a yang terluka?.
"Saya baik-baik saja, terima kasih karena nini telah membantu saya."
"Kalau begitu kita tinggalkan saja tempat ini, karena akan berbahaya jika dia sampai membawa kawan-kawannya."
"Baiklah, kita segera pergi ke rumah pak lurah saja."
Keduanya segera meninggalkan tempat itu, tentunya keduanya tidak ingin mendapatkan masalah yang lebih rumit nantinya.
...***...
Di sebuah bukit yang sangat sepi.
"Akhirnya kau bangun juga anak muda."
"Ya, karena itulah aku ucapkan terima kasih karena kakek telah menjaga tempat ini selama aku bertapa."
"Memangnya apa tujuanmu melakukan itu anak muda? Apakah benar kau ingin mengambil alih kerajaan besar itu?."
"Itu benar sekali."
"Tapi kenapa kau ingin mengambil alih sebuah kerajaan?." Rasanya ia sangat penasaran dengan alasan anak muda itu.
"Hanya menguji nyali ilmu kanuragan? Kau ini sangat aneh sekali anak muda, bukankah sudah sangat jelas berita yang tersebar di negeri ini? Bahwa Raja itu telah tewas karena pemberontakan yang telah dilakukan oleh rakyatnya sendiri? Apakah kau tidak mendengar kabar itu?."
Kakek tua yang satunya lagi merasa bingung dengan apa yang telah dikatakan oleh anak muda yang memiliki ambisi dunia.
"Tentu saja aku telah mendengar kabar itu, sangat jelas melalui kekuatan alam yang telah menyatu dengan diriku."
"Lantas? Kenapa kau masih saja ingin mengambil alih kerajaan itu?." Keningnya sedikit mengkerut mendengarkan itu.
"Karena aku lah yang pantas menjadi Raja di negeri ini." Timbul rasa percaya diri yang sangat luar bisa di dalam hatinya.
"Hufh! Sebaiknya kau tidak usah menuruti keinginan bodohmu itu, karena sesungguhnya tidak semua orang bisa menjadi Raja jika tidka mengikuti kata alur dari keturunan yang sah."
"Sudahlah kakek tua, tidak ada gunanya kau mencegah aku." Ia terlihat sangat marah. "Ini adalah urusanku!." Ia sangat jengkel, setelah itu ia segera pergi dari tempat itu.
"Kau ini sangat keras kepala-."
"Sudahlah kakang, tidak ada gunanya kau berdebat dengannya."
"Hufh!." Ia hanya bisa menghela nafasnya dengan sangat lelahnya dengan sikap anak muda itu.
"Kalau begitu aku ucapkan terima kasih kepadamu kakek penjaga bukit harimau kabut tapa." Tentunya ia tidak akan lupa dengan itu. "Sebagai janji ini aku berikan padamu." Ia mengeluarkan kantong hitam yang berisikan persembahan.
"Wah?! Banyak sekali ini anak muda."
"Itu tanda terima kasihku, karena kau telah menjaga ragaku dengan baik." Ia terlihat tersenyum kecil. "Kalau begitu aku pamit dulu, sampurasun."
"Rampes."
Kedua laki-laki tu itu hanya melihat kepergian anak muda itu dari bukit harimau kabut tapa, mereka tidak menduga jika anak muda itu akan menyelesaikan tapanya dengan sangat lancar.
...****...
Di Istana.
"Apakah kalian telah mempersiapkan semua perlengkapan yang aku inginkan?."
"Tentu saja Gusti Prabu."
"Bagus, kalau begitu jika kalian telah menyiapkan semau keperluan yang aku inginkan." Ia sangat senang mendengarkan persiapan mereka yang telah matang. "Kalau begitu tinggalkan aku sendirian di sini."
"Sandika Gusti Prabu." Setelah memberi hormat mereka segera pergi meninggalkan tempat itu
Ternyata Prabu Sigra Sadubi memang ingin melakukan perjalanan, selama dua purnama ia tidak akan berada di istana karena sang Prabu memiliki urusan yang sangat penting.
"Ayahanda, ibunda, aku sangat merindukan kalian, aku sangat ingin melihat kalian." Dalam hatinya merasakan perasaan yang sangat sedih. "Apa yang akan ayahanda, juga ibunda katakan jika kalian berada di sini? Apakah kalian akan merasa bangga dengan apa yang telah aku dapatkan sampai hari ini?." Hampir saja Sang Prabu meneteskan air matanya karena membayangkan ucapan apa saja yang akan dikatakan oleh kedua orang tuanya atas pencapaiannya sebagai seorang Raja setelah melalui perjuangan yang sangat luar biasa. "Aku tidak akan bisa mengampuni orang-orang yang telah membuat ayahanda dam ibunda meninggal dalam keadaan yang sangat menyakitkan, mereka harus mati semua di tanganku ini." Hatinya merasa sangat sesak sambil membayangkan bagaimana kedua orang tuanya yang meninggal dalam keadaan yang mengenaskan tepat di depan matanya saat itu. "Nyawa harus dibayar dengan nyawa pula." Setelah itu Prabu Sigra Sadubi bangkit dari duduknya, ia pergi meninggalkan ruangan itu dengan suasana hati yang gelisah.
...***...