
...****...
Raden Abinaya Agra, Pusara, Walet dan paman Baya Seta telah mendatangi Lana Serapi yang saat itu hendak mencari keberadaan Sulasih.
"Anak durjana! Berani sekali kau mempermalukan aku sebagai seorang kakak yang telah membesarkan engkau dengan segala pengorbananku selama ini!."
"Kau tidak usah merasa berjasa atas kehidupan yang aku lalui selama ini kakang, bujang lapuk seperti kau tidak akan pernah mengerti rasa cinta yang aku miliki, jadi kau tidak usah ikut campur dalam masalah yang sedang aku hadapi ini!."
"Setan belang! Lancang sekali mulutmu itu berbicara padaku! Jadi kau sudah bosan hidup rupanya! Hyah!."
Pemuda yang bernama Walet itu pun melompat dengan sangat cepat ke arah adiknya, ia hadiahi sebuah tendangan yang sangat keras, akan tetapi adiknya itu bisa menangkis sepakan itu.
"Bagaimana ini paman? Apakah kita perlu membatu kakang walet agar masalah ini segera selesai?."
"Kita lihat saja dulu, jika rasanya si walet itu tidak bisa menangani adiknya? Maka kita terpaksa ikut campur."
"Tapi sepertinya mereka akan bertarung dalam waktu yang sangat lama, karena ilmu kadigdayaan dan ilmu kanuragan yang mereka miliki sangat kuat."
"Tapi kita tidak bisa gegabah ikut serta bertarung dengan orang kesetanan seperti mereka."
"Baiklah kalau begitu paman, kami akan waspada jika terjadi sesuatu pada kakang walet nantinya."
Untuk saat ini mereka hanya memperhatikan pertarungan dua saudara itu, tampaknya keduanya memiliki ilmu kanuragan dan kadigdayaan yang sangat tinggi, sehingga mereka tidak berani sembarangan ikut terlibat dalam pertarungan itu.
...***...
"Hyah!."
Keduanya sama-sama mengerahkan tenaga dalam yang mereka miliki saat itu. Kekuatan yang sangat besar, sehingga kekuatan itu mengenai tubuh masing-masing.
"Kegh!."
Keduanya terlempar setelah menerima serangan tenaga dalam yang sangat besar, sehingga keduanya terlempar membentur pepohonan yang ada di sekitarnya.
"Uhuk!."
Keduanya bahkan sampai terbatuk memuntahkan darah segar yang sangat banyak, nafas keduanya naik turun karena kehabisan tenaga setelah mengerahkan kemampuan yang mereka miliki.
"Gusti Prabu." Senopati Ulangga Restu sangat cemas dengan keadaan sang Prabu, sehingga ia buru-buru membantu sang Prabu.
"Kurang ajar, pemuda asing itu ternyata memiliki ilmu kanuragan yang sangat kuat, aku terkena serangan cakaran harimaunya." Prabu Sigra Sadubi terlihat kesakitan setelah menerima serangan itu.
"Sial! Ternyata Raja muda itu memiliki ilmu kanuragan yang lumayan, tenaga dalamku benar-benar sangat terkuras karena menerima serangan darinya." Dalam hatinya sangat mengumpat dengan perasaan yang marah luar biasa. "Uhuk!." Kembali ia terbatuk. "Lain kali aku akan datang dengan kekuatan yang lebih besar lagi untuk mengambil kerajaan ini, maka jika hari itu datang? Aku harap kau bisa mempersiapkan diri untuk menyambut aku datang sebagai Raja baru." Hatinya sangat tidak terima. "Sial! Aku harus pergi dari sini." Dalam hatinya sangat kesal karena ia harus pergi setelah kalah bertarung.
"Hei! Jangan melarikan diri begitu saja setelah berkata kurang ajar pada Gusti Prabu sigra sadubi!."
"Uhuk! Sudahlah Senopati, kau obati luka yang aku alami, itu lebih baik daripada kau mengejarnya."
"Sandika Gusti Prabu." Senopati Ulangga Restu langsung menuruti ucapan sang Prabu.
...***...
Pertarungan itu semakin lama semakin, keduanya telah mengerahkan semua kemampuan yang mereka miliki. Terlihat sangat jelas bagaimana mereka saat itu menggunakan kekuatan fisik.
"Benar paman, bukannya kami orang tidak sabaran, hanya saja masalah ini benar-benar harus diselesaikan dengan cepat."
"Baiklah kalau begitu."
Akhirnya paman Baya Seta, Raden Abinaya Agra dan Pusara membantu Walet untuk menyelesaikan masalah itu. Mereka juga ikut terlibat dalam pertarungan yang tidak seimbang itu.
"Kurang ajar!." Lana Serapi yang menyadari itu langsung melompat beberapa meter jaraknya dari mereka. "Kalian ini sangat memalukan sekali, beraninya main keroyokan."
"Kami tidak peduli sama sekali! Ini demi melindungi dua wanita yang telah kau sakiti! Kami tidak akan membiarkan kau berbuat sesuka hati!."
"Heh! Banyak bicara! Akan aku hadapi kalian berempat sekaligus, aku tidak takut sama sekali dengan kalian yang hanya seujung kuku saja."
"Kau yang meminta aku untuk memperlihatkan bagaimana kekuatan seujung kuku mu itu."
Hutan sepi itu kini menjadi sedikit gaduh karena pertarungan mereka yang tidak normal lagi, kekuatan kadigdayaan dan tenaga dalam telah mereka kerahkan untuk menjatuhkan Lana Serapi yang masih saja tidak mau mendengarkan ucapan orang lain.
...***...
Prabu Sigra Sadubi telah berhasil memulihkan tenaga dalamnya walaupun tidak sepenuhnya. Namun setidaknya luka yang dirasakan sang Prabu lebih ringan dari yang sebelumnya.
"Kurang ajar, siapa pemuda aneh itu? Ada angin busuk apa yang dia bawa padaku? Sehingga dia sangat lancang sekali mengatakan akan mengambil alih kerajaan yang telah susah payah aku ambil dari tangan abinaya bagaskara yang kejam itu." Hatinya sangat kesal, dan mengumpat pada pemuda yang telah berani mengajaknya untuk bertarung.
"Apakah perlu hamba cari tahu siapa anak muda itu Gusti?."
"Cari tahu siapa dia, kalau bisa habisi dia, karena aku tidak mau dia menghalangi perjalanan yang aku lakukan saat ini."
"Sandika Gusti Prabu." Setalah memberi hormat, ia pergi dari tenda sang Prabu.
"Kurang ajar, beraninya dia menghadang perjalanan yang aku lakukan, dan bahkan dia merasa lebih hebat dari aku." Hatinya sangat sangat tidak terima dengan itu.
Sementara itu pemuda misterius itu memaksakan dirinya agar sampai di tempat kakek tua yang telah ia tolong itu.
"Walau Gusti? Kenapa kau kembali dalam keadaan terluka parah seperti ini?."
"Baru saja aku selesai bertarung dengan Raja itu, ternyata dia memiliki ilmu kanuragan yang mempuni."
"Olah dala, kau ini nekat sekali anak muda."
Kakek tua itu berusaha untuk membantu pemuda aneh itu untuk berbaring di tempat tidur.
"Luka yang kau alami sangat parah sekali, aku akan mencari obat yang dapat digunakan untuk menghilangkan rasa sakitnya." Ia tepuk pelan bahu anak muda itu. "Kau tunggu di sini ya?."
"Baiklah kakek tua."
Kakek tua itu benar-benar pergi meninggalkan tempat itu untuk mencari obat yang dapat ia gunakan untuk membatu anak muda itu.
"Kurang ajar! Tidak aku duga kekuatan yang dimiliki Raja itu lumayan kuat juga, aku benar-benar merasakan sakit yang sangat luar biasa setelah menerima serangan itu." Ia masih ingat bagaimana ilmu tenaga dalam yang dimiliki Prabu Sigra Sadubi yang menghantam tubuhnya. "Jika saja aku tidak melarikan diri, tubuhku bisa hancur karena dampak tenaga dalam yang ia lepaskan itu." Ada bentuk waspada yang diberikan kode oleh tubuhnya. "Aku pasti akan membunuhnya." Dalam hatinya menaruh dendam.
...***...