
...***...
Raden Abinaya Agra pagi itu kembali menjalani aktivitas biasanya. Ia hanya mencoba untuk bersikap tegar menjalani hidupnya yang sekarang.
"Tidak ada gunanya aku meratapi hidup yang sudah berlalu." Dalam hatinya memang merasakan bagaimana pahitnya hidup. "Kadang hidup ini mengalami perubahan yang tidak pernah kita duga, bahkan ketika kita mendapatkan perubahan yang tidak kita inginkan sama sekali." Dalam hatinya mencoba memikirkan kehidupannya dari yang sebelumnya dan yang segini ia jalani sangat jauh berbeda. "Selamat pagi paman." Ia menyapa Bambo, penjaga kuda yang ramah, kadang galak padanya.
"Selamat pagi." Balasnya dengan jutek. "Hari ini kau ambil rumput yang segar, sebab persediaan hampir habis."
"Baik paman." Ia segera menuju kandang belakang untuk memeriksa persediaan.
"Dia terlihat sangat bersemangat sekali, apakah dia baik-baik saja?." Tarus juga salah satu penjaga kandang kuda merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh Raden Abinaya Agra.
"Mungkin dia hanya mencoba untuk menyembunyikan rasa sakit yang ia rasakan selama ini." Ia mencoba menebaknya. "Kabar yang aku dapatkan, dia disiksa habis-habisan oleh Gusti Prabu karena dia membuat kerusuhan di kota Raja."
"Malam sekali nasibnya, bahkan lebih malang dari kita yang hanya mendapatkan pekerjaan seperti ini."
"Tapi dulunya dia adalah anak raja, ada saja dia bukan anak raja yang sangat kejam? Aku rasa dia akan hidup bahagia sampai sekarang di istana yang sangat indah."
"Ya, andai saja ayahandanya bukan seorang raja yang kejam? Mungkin saja dia masih bisa merasakan bagaimana kehidupan yang mewah di lingkungan istana."
Semua orang, ah tidak!. Seluruh rakyat mengetahui itu, hanya saja karena perasaan dendam yang mereka rasakan selama ini membuat mereka semua membenci Raden Abinaya Agra.
"Aku merasakan itu, bagaimana sikap yang diperlihatkan oleh ayahanda Prabu saat itu." Dalam hati Raden Abinaya Agra tentu saja dapat melihat apa yang telah terjadi di masa lalu.
Kembali ke masa lalu.
Di mana Raden Abinaya Agra masih hidup di lingkungan istana. Pada saat itu hatinya sedang dipenuhi dengan perasaan yang sangat gelisah mendengarkan kabar, dan bisikan-bisikan rakyat tentang ayahandanya. Karena itulah ia memanggil Hasra, salah satu orang yang dapat dipercayai untuk mendapatkan informasi apa saja tentang ayahandanya.
"Hamba menghadap Raden." Ia memberi hormat. "Aku sama sekali tidak menduga jika aku akan dipanggil secara pribadi seperti ini." Dalam hatinya sedikit bertanya-tanya apa alasan membuat putra mahkota hebat memanggilnya secara pribadi?. "Hamba akan melakukan apapun yang Raden minta." Kembali ia memberi hormat.
"Aku hanya ingin mengetahui sesuatu tentang ayahanda Prabu, apakah kau bisa memberitahu kepadaku informasi apa saja yang kau ketahui tentang ayahanda Prabu?." Sorot mata itu memang menggambarkan bagaimana rasa ingin tahu punya yang sangat kuat.
"Hamba akan mengatakan apa saja yang Raden inginkan, tanyakan saja pada hamba, semoga hamba bisa menjawabnya." Entah kenapa ia mendadak gugup mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Abinaya Agra yang tampak sedang menghela nafasnya dengan sangat lega.
"Aku mendengarkan kabar yang tidak sedap tentang ayahanda Prabu, mereka semua mengatakan padaku jika ayahanda Prabu adalah raja yang sangat kejam, memangnya kekejaman apa yang telah dilakukannya pada rakyatnya ? Sehingga mereka semua membencinya?." Itulah yang mengganggu pikirannya beberapa akhir-akhir ini setelah mendengarkan kunjungan rakyat yang sangat dendam terhadap ayahandanya. "Katakan kepadaku semua tantang ayahanda Prabu."
Hasra tidak langsung menjawab, ia tetap Raden Abinaya Agra yang terlihat sangat serius. Sorot matanya mengandung rasa ingin tahu yang sangat tajam, sehingga ia memperlihatkan bagaimana ekspresi yang ada di dalam hatinya.
"Kumohon jawablah pertanyaanku ini dengan sangat serius, aku sangat ingin mengetahui apa yang telah terjadi sebenarnya."
Raden Abinaya Agra terlihat gugup dengan ucapan itu. "Aku ingin mengetahuinya, jadi? Katakan saja semuanya, aku ingin mengetahui semua kebenarannya." Dengan sepenuh hati ia menekan perasaan gugupnya itu.
"Baiklah, kalau begitu akan hamba katakan pada Raden, tapi ingat! Jangan sampai kehilangan arah nantinya setelah mengetahui segalanya tentang Gusti Prabu."
"Tergantung bagaimana ceritanya." Raden Abinaya Agra harus kuat mendengarkan apapun itu tentang ayahandanya.
...***...
Sementara itu di sebuah tempat yang sangat rahasia. Mereka semua sedang berkumpul untuk melaksanakan rencana yang telah mereka buat.
"Jika kita menyerang secara langsung? Kita akan kalah dalam jumlah pasukan, marena itulah kita menggunakan cara adu domba, mereka semua pada dasarnya hanyalah babi hutan yang suka menyeruduk saja." Sigra Sadubi yang memimpin pertemuan itu. "Paman restu alam, maaf bukan saya bermaksud untuk memberikan perintah pada paman, hanya saja saya berharap pada Paman dapat membantu saya sebagai pengendali bahan pangan di kerajaan."
"Baik Raden, saya juga mengerti dengan situasi yang akan kita hadapi."
"Kalau begitu Paman harus bisa mengendali bahan pangan yang masuk ke istana, paman berpura-pura memastikan bahan pangan itu benar-benar masuk ke dalam istana, namun di saat mereka lengah? Paman harus bisa memindahkan semua bahan pangan itu ke tempat yang aman."
"Memindahkan ke tempat yang aman?."
Mereka semua yang hadir di pertemuan itu tentu saja terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh pemuda itu.
"Masalah pengawalan paman tenang saja, saya akan mengirim beberapa orang yang akan menyamar menjadi prajurit istana, mereka yang akan mengawal Paman untuk menjalani rencana itu."
"Baiklah, jika memang seperti itu akan aku lakukan dengan baik."
"Terima kasih karena paman telah bekerja sama dengan kami."
"Tentu saja Raden, tapi apa yang akan kita lakukan setelah itu?."
"Kita masalah pangan telah selesai? Maka kita urus masalah penjagaan pusat istana, karena tidak sembarangan orang yang bisa masuk ke sana." Ia masih ingat bagaimana penjagaan yang sangat ketat di sana. "Jadi kita harus mengakali mereka semua bagaimana caranya kita bisa masuk ke sana dengan jalur yang aman."
"Tapi bagaimana caranya Raden?."
"Caranya kita harus berpura-pura menjadi prajurit, karena saat ini pihak istana memerlukan banyak prajurit untuk mengatasi para pemberontak." Dengan penuh keyakinan ia berkata seperti itu. "Banyak prajurit yang dikirim ke beberapa daerah untuk mengatasi pemberontakan, sehingga mereka sulit untuk menjaga keamanan istana jika mereka terus-terusan mengirim prajurit untuk mengatasi para pemberontak." Ia terlihat tersenyum kecil. "Dengan kondisi yang seperti itu kita semua berlomba-lomba untuk menawarkan diri untuk menjaga keamanan istana, sehingga suatu hari nanti kitalah yang akan menguasai istana secara perlahan-lahan." Itulah yang ia pikirkan.
...***...