
...***...
Pada saat itu mereka semua benar-benar bertarung dengan menggebu-gebu, Lana Serapi juga kewalahan menghadapi 4 orang sekaligus. Nafasnya benar-benar tidak teratur lagi karena ia tidak sanggup menghadapi mereka semua.
"Setan belang! Berani sekali kalian bermain keroyokan seperti itu kepadaku!."
"Orang biadab seperti kau tidak perlu kami kasih hati! Kau hanya menyusahkan kami saja!."
"Kau harus kami hentikan, karena kau tidak bisa kami ajak bicara dengan baik!."
"Bedebah! Kalau begitu majulah kalian semua! Akan aku hadapi kalian dengan jurus yang aku miliki!."
Pertarungan kembali terjadi, Lana Serapi yang menuruti sikap sombongnya itu menantang mereka semua untuk bertarung. Mereka kembali bertarung dengan kekuatan yang berbeda, karena Lana Serapi sebenarnya telah kehilangan banyak tenaga sehingga ia tidak bisa melawan mereka.
"Hyah!."
Mereka berempat menyerang Lana Serapi bersama-sama hingga saat itu tidak dapat lagi bergerak.
"Kurang ajar! Kakang walet! Lepaskan totokanmu padaku! Aku masih sanggup berhadapan denganmu bajing lapuk!."
"Sekali lagi kau berbicara kurang ajar kepadaku? Akan aku tebas batang lehermu itu! Biar tanganku ini yang membunuhmu! Aku sangat malu punya saudara yang berkelakuan binatang seperti kau!." Amarahnya telah meledak dengan sangat kuat, namun saat itu ia telah berusaha untuk tidak membunuh adiknya.
"Sudahlah walet, untuk sekarang kita amankan saja dia, kita harus menyelesaikan masalah ini dengan baik."
"Ya, baiklah kalau begitu paman."
Setelah itu mereka pergi ke kediaman Baya Seta untuk menyelesaikan masalah yang telah terjadi.
"Orang ini benar-benar kurang ajar, selain kurang ajar kepada seorang wanita, dia juga kurang ajar terhadap saudaranya." Dalam hati Raden Abinaya Agra tidak mengerti dengan sikap seseorang yang hanya menuruti keinginan nafsunya saja. "Apa yang ada di dalam benaknya? Sehingga ia nekat melakukan itu hanya demi cinta? Cinta yang seperti apa yang ia inginkan terhadap wanita? Apakah dia tidak bisa menilai cinta dengan kelembutan yang lebih baik lagi?." Mungkin itulah yang ada di dalam pikirannya yang merasa aneh, ia tidak pernah melihat ada seseorang yang mencintai wanita hingga melakukan hal yang tidak baik terhadap orang lain. "Walaupun aku tidak mencintai nimas gayatri, tapi aku tidak menyakitinya." Begitulah pikirannya.
...***...
Malam mampir menyapa, saat itu Sulasih yang berada di rumah kepala desa sangat cemas menunggu kabar dari Raden Abinaya Agra dan kakaknya Pusara.
"Kenapa mereka belum juga kembali? Apakah terjadi sesuatu kepada mereka?." Dalam hatinya benar-benar sangat mencemaskan keduanya. "Apakah mereka mengalami masalah ketika menyampaikan berita itu kepada pihak keluarga wasri?." Dalam hatinya memang tidak bisa tenang.
"Apakah kau tidak masuk ndok?."
"Nyai? Saya masih mau menunggu-."
"Masuklah, tidak baik anak gadis berada di luar saat senja nanti digoda hantu."
"Ucapannya nyai membuat saya takut."
"Kalau begitu masuk lah."
"Baik nyai." Ia melangkahkan kakinya. "Semoga kalian baik-baik saja, cepatlah kembali aku takut terjadi sesuatu kepada kalian." Dalam hatinya semakin takut karena pikirannya yang membuatnya semakin ketakutan.
Sulasih mengikuti nyai Ayu Prasmi masuk ke dalam rumah itu. Nyai Ayu Prasmi wanita muda yang merupakan istri kedua kepala desa yang sangat terkenal hal ramah dan baik kepada siapa saja. Wanita itu sangat memperhatikan Sulasih, yang merasa bersimpati kepada gadis itu.
...***...
Malam bener-bener telah menyapa, suasana hening ketika Safa merah ditelan kegelapan malam kini diisi dengan suara-suara hewan yang seakan-akan sedang bernyanyi.
Di padepokan.
"Apakah Nimas benar-benar akan kembali ke kota Raja?."
"Kenapa? Apakah karena kau merindukan kekasihmu itu?."
Hush! Jangan sembarangan dalam berbicara."
Resatari malah tertawa cukikan melihat wajah malu-malu dari Purwati Sadubi, ia sangat senang sekali menggoda temannya itu.
"Aku kembali karena merasa tidak enak hati pada paman Senopati, dia telah berpisah dari keluarganya dalam waktunya sangat lama karena menemani aku di sini, memastikan bahwa aku tidak bertemu dengan Raden abinaya agra."
"Ho? Jadi Gusti Putri merasa bersimpati kepada paman Senopati? Sangat luar biasa sekali anda Gusti Putri."
"Kau jangan membuat aku merasa kesal resatari!."
"Kalau begitu mari kita bermain-main sebentar."
Purwati Sadubi benar-benar sakit kesal dengan ucapan temannya itu.
"Ucapanmu itu seperti sedang mengejek aku, kalau begitu akan aku ladani kau beberapa jurus."
"Jangan mudah tersinggung seperti itu, tidak baik."
Purwati Sadubi semakin kesal kepada temannya hingga ia menyerang temannya itu. Malam itu keduanya bermain dengan beberapa jurus untuk menghilangkan suntuk yang mereka rasakan.
...***...
Perlahan-lahan ia membuka matanya, kepalanya terasa sangat sakit ketika ia memaksa untuk terbangun. Tubuhnya masih merasakan nyeri yang sangat luar biasa, namun ia masih memaksakan dirinya untuk duduk.
"Rupanya kau sudah bangun anak muda."
Belum ada tanggapan dari anak muda itu, ya sedang mencari posisi enak untuk duduk. Apalagi ketika ia melihat kakek tua itu membawa sesuatu di tangannya.
"Kenapa kau begitu ceroboh ketika bertarung? Aliran darahmu benar-benar sangat kacau ketika temanku memeriksa kondisi mu."
"Aku tidak menduga sama sekali, jika raja muda itu memiliki jurus aliran darah merusak sukma." Tentu saja ia merasakan bagaimana kondisi tubuhnya saat itu. "Sepertinya aku memang terkena jurus itu."
"Bukan hanya, tapi kau memang terkena jurus mematikan itu!." Entah kenapa kakek itu terlihat sangat kesal. "Kau ini anak muda yang sangat bodoh! Menjadi raja kau bilang kepadaku?! Berhadapan dengan Raja saja membuat kau hampir sekarat! Bagaimana mungkin kau bisa menjadi Raja?! Kau ini sangat bodoh sekali anak muda."
Anak muda itu terdiam, ia sama sekali tidak bisa membalas ucapan kakek tua itu meskipun hatinya sangat sakit mendengarkan ucapan itu.
"Lalu apa yang harus aku lakukan kek? Aku belum menguasai jurus siluman harimau sepenuhnya."
"Kau obati dulu luka dalammu itu, nanti setelah kau sembuh? Akan aku bawa kau ke tempat seseorang yang dapat membuatmu menjadi lebih kuat dari yang ini."
"Benarkah itu kek?."
"Jangan bertanya lagi, atau aku akan berubah pikiran."
"Baik kek." Anak muda itu tampak senang, iya tidak menduga jika kakek tua itu akan memberikan sesuatu yang ia inginkan selama ini. "Terima kasih atas kebaikan kakek, aku pasti akan menjadi orang yang sangat kuat."
"Aku hanya membalas kebaikanmu yang telah membawakan makanan yang enak untukku setiap harinya."
Keduanya tampak akur sekali, sangat dekat seakan-akan mereka adalah keluarga sungguhan. Tentu saja mereka merasakan kesepian jika hidup sendirian, jadi Mereka mencoba untuk saling memahami satu sama lain walaupun tidak memiliki ikatan darah.
...***...